OPERASI TRIKORA
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Operasi Trikora (Tri Komando
Rakyat) adalah konflik 2tahun yang dilancarkan Indonesia untuk menggabungkan wilayah Papua bagian barat. Pada
tanggal 19 Desember1961, Soekarno (Presiden Indonesia)
mengumumkan pelaksanaan Trikora di Alun-alun Utara Yogyakarta. Soekarno juga membentuk Komando Mandala. Mayor JenderalSoeharto diangkat sebagai panglima. Tugas komando ini adalah merencanakan,
mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan
Indonesia.
Ketika Indonesia memproklamasikan
kemerdekaannya pada 17 Agustus1945, Indonesia
mengklaim seluruh wilayah Hindia Belanda, termasuk wilayah baratPulau Papua. Namun, pihak Belanda menganggap wilayah itu masih menjadi salah satu provinsi Kerajaan Belanda. Pemerintah Belanda kemudian memulai
persiapan untuk menjadikan Papua negara merdeka selambat-lambatnya pada tahun 1970-an. Namun pemerintah Indonesia menentang hal ini dan
Papua menjadi daerah yang diperebutkan antara Indonesia dan Belanda. Hal ini
kemudian dibicarakan dalam beberapa pertemuan dan dalam berbagai forum
internasional. Dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949, Belanda
dan Indonesia tidak berhasil mencapai keputusan mengenai Papua bagian barat,
namun setuju bahwa hal ini akan dibicarakan kembali dalam jangka waktu 1 tahun.
Pada bulan Desember 1950, PBB memutuskan bahwa Papua bagian barat
memiliki hak merdeka sesuai dengan pasal 73e Piagam PBB. Karena Indonesia mengklaim Papua bagian barat
sebagai daerahnya, Belanda mengundang Indonesia ke Mahkamah Internasional untuk
menyelesaikan masalah ini, namun Indonesia menolak. Setelah Indonesia beberapa
kali menyerang Papua bagian barat, Belanda mempercepat program pendidikan di
Papua bagian barat untuk persiapan kemerdekaan. Hasilnya antara lain adalah
sebuah akademi angkatan laut yang berdiri pada 1956 dan tentara
Papua pada 1957. Sebagai kelanjutan, pada 17 Agustus1956 Indonesia membentuk Provinsi Irian Barat dengan ibukota di Soasiu yang berada
di Pulau Tidore, dengan gubernur pertamanya, Zainal Abidin Syah yang
dilantik pada tanggal 23 September 1956.
Pada tanggal 6 Maret1959, harian New York Times melaporkan
penemuan emas oleh pemerintah Belanda di dekat laut Arafura. Pada tahun 1960, Freeport Sulphur menandatangani perjanjian dengan Perserikatan Perusahaan
Borneo Timur untuk mendirikan tambang tembaga di Timika, namun
tidak menyebut kandungan emas ataupun tembaga.
2.
Persiapan
A.
Militer
KRI Irian, Penjelajah kelas Sverdlov
Indonesia mulai mencari bantuan senjata dari luar negeri menjelang
terjadinya konflik antara Indonesia dan Belanda. Indonesia mencoba meminta
bantuan dari Amerika Serikat, namun gagal. Akhirnya, pada bulan Desember 1960, Jendral A. H. Nasution pergi ke Moskwa, Uni Soviet, dan akhirnya berhasil mengadakan perjanjian
jual-beli senjata dengan pemerintah Uni Soviet senilai 2,5 miliar dollar Amerika
dengan persyaratan pembayaran jangka panjang. Setelah pembelian ini, TNI mengklaim
bahwa Indonesia memiliki angkatan udara terkuat di belahan bumi selatan. [1]Amerika Serikat tidak
mendukung penyerahan Papua bagian barat ke Indonesia karena Bureau of European Affairs di Washington, DC menganggap hal ini akan "menggantikan penjajahan
oleh kulit putih dengan penjajahan oleh kulit coklat".
Tapi pada bulan April 1961, Robert Komer dan McGeorge Bundy mulai mempersiapkan rencana agar PBB
memberi kesan bahwa penyerahan kepada Indonesia terjadi secara legal. Walaupun
ragu, presiden John F. Kennedy akhirnya
mendukung hal ini karena iklim Perang Dingin saat itu dan kekhawatiran bahwa Indonesia akan
meminta pertolongan pihak komunis Soviet bila tidak mendapat dukungan AS.
Indonesia membeli berbagai macam peralatan militer, antara lain 41 HelikopterMI-4 (angkutan
ringan), 9 Helikopter MI-6 (angkutan
berat), 30pesawat jetMiG-15, 49 pesawat buru sergap MiG-17, 10 pesawat buru sergap MiG-19, 20 pesawat pemburu supersonikMiG-21, 12kapal selam kelas Whiskey, puluhan
korvet, dan 1 buah Kapal penjelajah
kelas Sverdlov (yang diberi nama sesuai dengan wilayah target
operasi, yaitu KRI Irian). Dari jenis pesawat pengebom,
terdapat sejumlah 22 pesawat pembom ringan Ilyushin Il-28, 14 pesawat pembom jarak jauh TU-16, dan 12 pesawat TU-16 versi maritim yang dilengkapi dengan persenjataan peluru kendali anti kapal (rudal) air
to surface jenis AS-1 Kennel. Sementara dari jenis pesawat
angkut terdapat 26 pesawat angkut ringan jenis IL-14 dan
AQvia-14, 6 pesawat angkut berat jenis Antonov An-12B buatan Uni Soviet dan 10 pesawat angkut berat jenis C-130 Hercules buatan Amerika Serikat.[1]
B.
Diplomasi
Indonesia mendekati negara-negara seperti India, Pakistan, Australia, Selandia Baru, Thailand, Britania Raya, Jerman, dan Perancis agar mereka tidak memberi dukungan kepada Belanda
jika pecah perang antara Indonesia dan Belanda. Dalam Sidang Umum PBB tahun 1961, Sekjen PBB U Thant meminta Ellsworth Bunker, diplomat dari Amerika Serikat, untuk mengajukan usul
tentang penyelesaian masalah status Papua bagian barat. Bunker mengusulkan agar
Belanda menyerahkan Papua bagian barat kepada Indonesia melalui PBB dalam
jangka waktu 2 tahun.
C.
Ekonomi
Pada tanggal 27 Desember1958, presiden Soekarno mengeluarkan UU nomor 86 tahun 1958 tentang nasionalisasi semua perusahaan Belanda di Indonesia.
Perusahaan-perusahaan yang dinasionalisasi seperti:
1.
Perusahaan Perkebunan
2.
Nederlandsche Handel-Maatschappij
3.
Perusahaan Listrik
4.
Perusahaan Perminyakan
5.
Rumah Sakit (CBZ) manjadi RSCM
Dan
kebijakan-kebijakan lain seperti:
2.
Aksi mogok buruh perusahaan Belanda di Indonesia
D.
Konfrontasi Total
Sesuai dengan perkembangan situasi Trikora diperjelas dengan Instruksi
Panglima Besar Komodor Tertinggi Pembebasan Irian Barat No.1 kepada Panglima
Mandala yang isinya sebagai berikut:
·
Merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan
operasi militer dengan tujuan mengembalikan wilayah Irian Barat ke dalam
kekuasaan Republik Indonesia.
·
Mengembangkan situasi di Provinsi Irian Barat sesuai
dengan perjuangan di bidang diplomasi dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya
di Wilayah Irian Barat dapat secara de facto diciptakan daerah-daerah bebas
atau ada unsur kekuasaan/ pemerintah daerah Republik Indonesia.
Strategi
yang disusun oleh Panglima Mandala guna melaksanakan instruksi tersebut.
·
Tahap Infiltrasi (penyusupan) (sampai akhir 1962),yaitu
dengan memasukkan 10 kompi di sekitar sasaran-sasaran tertentu untuk
menciptakan daerah bebas de facto yang kuat sehingga sulit dihancurkan oleh musuh
dan mengembangkan pengusaan wilayah dengan membawa serta rakyat Irian Barat.
·
Tahap Eksploitasi (awal 1963),yaitu
mengadakan serangan terbuka terhadap induk militer lawan dan menduduki semua
pos-pos pertahanan musuh yang penting.
·
Tahap Konsolidasi (awal 1964),yaitu
dengan menunjukkan kekuasaan dan menegakkan kedaulatan Republik Indonesia
secara mutlak di seluruh Irian Barat.
Pelaksanaannya
Indonesia menjalankan tahap infiltasi, selanjutnya melaksanakan operasi
Jayawijaya, tetapi sebelum terlaksana pada 18 Agustus 1962 ada sebuah perintah
dari presiden untuk menghentikan tembak-menembak.
3.
Konflik bersenjata
Soekarno, Presiden Indonesia yang mencetuskan Trikora
Soekarno membentuk Komando Mandala,
dengan Mayjen Soeharto sebagai Panglima Komando. Tugas komando Mandala adalah
untuk merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk
menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia. Belanda mengirimkan kapal
induk Hr. Ms. Karel Doorman ke Papua
bagian barat. Angkatan Laut Belanda (Koninklijke Marine) menjadi tulang
punggung pertahanan di perairan Papua bagian barat, dan sampai tahun 1950,
unsur-unsur pertahanan Papua Barat terdiri dari:
- Koninklijke Marine
(Angkatan Laut Kerajaan Belanda)
- Korps Mariniers
- Marine Luchtvaartdienst[2]
Keadaan ini berubah sejak tahun
1958, di mana kekuatan militer Belanda terus bertambah dengan kesatuan dari Koninklijke
Landmacht (Angkatan Darat Belanda) dan Marine Luchtvaartdienst.
Selain itu, batalyon infantri 6 Angkatan Darat merupakan bagian dari Resimen Infantri Oranje Gelderland
yang terdiri dari 3batalyon yang ditempatkan di Sorong, Fakfak, Merauke, Kaimana, dan Teminabuan.[2]
A.
Operasi-operasi Indonesia
Sebuah operasi rahasia dijalankan untuk menyusupkan sukarelawan ke Papua
bagian barat. Walaupun Trikora telah dikeluarkan, namun misi itu dilaksanakan
sendiri-sendiri dalam misi tertentu dan bukan dalam operasi bangunan.
Hampir semua kekuatan yang dilibatkan dalam Operasi Trikora sama sekali
belum siap, bahkan semua kekuatan udara masih tetap di Pulau Jawa. Walaupun
begitu, TNI Angkatan Darat lebih dulu
melakukan penyusupan sukarelawan, dengan meminta bantuan TNI Angkatan Laut untuk mengangkut pasukannya menuju pantai Papua
bagian barat, dan juga meminta bantuan TNI Angkatan Udara untuk
mengirim 2 pesawat Hercules untuk mengangkut pasukan menuju target yang
ditentukan oleh TNI AL.
Misi itu sangat rahasia, sehingga hanya ada beberapa petinggi di markas
besar TNI AU yang mengetahui tentang misi ini. Walaupun misi ini sebenarnya
tidaklah rumit, TNI AU hanya bertugas untuk mengangkut pasukan dengan pesawat
Hercules, hal lainnya tidak menjadi tanggung jawab TNI AU.
Kepolisian Republik Indonesia juga
menyiapkan pasukan Brigade Mobil yang
tersusun dalam beberapa resimen tim pertempuran (RTP). Beberapa RTP Brimob ini
digelar di kepulauan Ambon sebagai persiapan menyerbu ke Papua
bagian barat. Sementara itu Resimen Pelopor (unit parakomando Brimob) yang
dipimpin Inspektur Tingkat I Anton Soedjarwo disiagakan di Pulau Gorom. Satu tim Menpor kemudian
berhasil menyusup ke Papua bagian barat melalui laut dengan mendarat di Fakfak.
Tim Menpor ini terus masuk jauh ke pedalaman Papua bagian barat melakukan
sabotase dan penghancuran objek-objek vital milik Belanda.
Pada tanggal 12 Januari1962, pasukan
berhasil didaratkan di Letfuan. Pesawat Hercules kembali ke pangkalan. Namun,
pada tanggal 18 Januari 1962, pimpinan angkatan lain
melapor ke Soekarno bahwa karena tidak ada perlindungan dari TNI AU, sebuah
operasi menjadi gagal.[3]
B.
Pertempuran laut Aru
Pertempuran Laut Aru pecah pada
tanggal 15 Januari 1962, ketika 3 kapal milik
Indonesia yaitu KRIMacan Kumbang, KRI Macan Tutul yang membawa Komodor Yos Sudarso, dan KRI Harimau yang dinaiki Kolonel Sudomo, Kolonel
Mursyid, dan Kapten Tondomulyo, berpatroli pada posisi 4°49' LS dan 135°02'
BT. Menjelang pukul 21:00 WIT, Kolonel Mursyid melihat tanda di radar bahwa di
depan lintasan 3 kapal itu, terdapat 2 kapal di sebelah kanan dan sebelah kiri.
Tanda itu tidak bergerak, dimana berarti kapal itu sedang berhenti. Ketika 3
KRI melanjutkan laju mereka, tiba-tiba suara pesawat jenis Neptune yang sedang
mendekat terdengar dan menghujani KRI itu dengan bom dan peluru yang tergantung
pada parasut.[3]
Kapal Belanda menembakan tembakan
peringatan yang jatuh di dekat KRI Harimau. Kolonel Sudomo memerintahkan untuk
memberikan tembakan balasan, namun tidak mengenai sasaran. Akhirnya, Yos
Sudarso memerintahkan untuk mundur, namun kendali KRI Macan Tutul macet,
sehingga kapal itu terus membelok ke kanan.[3] Kapal Belanda mengira itu merupakan manuver berputar
untuk menyerang, sehingga kapal itu langsung menembaki KRI Macan Tutul. Komodor
Yos Sudarso gugur pada pertempuran ini setelah menyerukan pesan terakhirnya
yang terkenal, "Kobarkan semangat pertempuran".
C.
Operasi penerjunan penerbang Indonesia
Pasukan Indonesia di bawah pimpinan Mayjen Soeharto melakukan operasi
infiltrasi udara dengan menerjunkan penerbang menembus radar Belanda. Mereka
diterjunkan di daerah pedalaman Papua bagian barat. Penerjunan tersebut
menggunakan pesawat angkut Indonesia, namun operasi ini hanya mengandalkan
faktor pendadakan, sehingga operasi ini dilakukan pada malam hari. Penerjunan
itu pada awalnya dilaksanakan dengan menggunakan pesawat angkut ringan C-47
Dakota yang kapasitas 18 penerjun, namun karena keterbatasan kemampuannya,
penerjunan itu dapat dicegat oleh pesawat pemburu Neptune Belanda.[1]
Pada tanggal 19 Mei 1962, sekitar 81 penerjun payung terbang dari Bandar Udara Pattimura, Ambon, dengan menaiki pesawat Hercules menuju daerah sekitar Kota Teminabuan untuk melakukan penerjunan. Saat persiapan keberangkatan, komandan pasukan menyampaikan bahwa mereka akan diterjunkan di sebuah perkebunan teh, selain itu juga disampaikan sandi-sandi panggilan, kode pengenal teman, dan lokasi titik kumpul, lalu mengadakan pemeriksaan kelengkapan perlengkapan anggotanya sebelum masuk ke pesawat Hercules. Pada pukul 03:30 WIT, pesawat Hercules yang dikemudikan Mayor Udara T.Z. Abidin terbang menuju daerah Teminabuan.
Pada tanggal 19 Mei 1962, sekitar 81 penerjun payung terbang dari Bandar Udara Pattimura, Ambon, dengan menaiki pesawat Hercules menuju daerah sekitar Kota Teminabuan untuk melakukan penerjunan. Saat persiapan keberangkatan, komandan pasukan menyampaikan bahwa mereka akan diterjunkan di sebuah perkebunan teh, selain itu juga disampaikan sandi-sandi panggilan, kode pengenal teman, dan lokasi titik kumpul, lalu mengadakan pemeriksaan kelengkapan perlengkapan anggotanya sebelum masuk ke pesawat Hercules. Pada pukul 03:30 WIT, pesawat Hercules yang dikemudikan Mayor Udara T.Z. Abidin terbang menuju daerah Teminabuan.
Dalam waktu tidak lebih dari 1 menit, proses
pendaratan 81 penerjun payung selesai dan pesawat Hercules segera meninggalkan
daerah Teminabuan. Keempat mesin Allison T56A-15 C-130B Hercules terbang
menanjak untuk mencapai ketinggian yang tidak dapat dicapai oleh pesawat
Neptune milik Belanda.[1]
TNI Angkatan Laut kemudian mempersiapkan Operasi Jayawijaya yang merupakan operasi amfibi terbesar dalam sejarah operasi militer Indonesia.[4] Lebih dari 100kapal perang dan 16.000 prajurit disiapkan dalam operasi tersebut.
TNI Angkatan Laut kemudian mempersiapkan Operasi Jayawijaya yang merupakan operasi amfibi terbesar dalam sejarah operasi militer Indonesia.[4] Lebih dari 100kapal perang dan 16.000 prajurit disiapkan dalam operasi tersebut.
4.
Akhir dari konflik
Karena kekhawatiran bahwa pihak komunis akan mengambil
keuntungan dalam konfik ini, Amerika Serikat mendesak Belanda untuk berunding
dengan Indonesia. Karena usaha ini, tercapailah persetujuan New York pada tanggal 15 Agustus 1962. Pemerintah Australia yang awalnya mendukung kemerdekaan Papua, juga
mengubah pendiriannya, dan mendukung penggabungan dengan Indonesia atas desakan
AS.[5][6]
A.
Persetujuan New York
Pada tanggal 15 Agustus 1962, perundingan antara Indonesia
dan Belanda dilaksanakan di Markas Besar PBB di New York. Pada perundingan itu, Indonesia diwakili oleh Soebandrio, dan Belanda diwakili oleh Jan Herman van Roijen dan C.W.A. Schurmann. Isi dari
Persetujuan New York adalah:
·
Belanda akan menyerahkan pemerintahan Papua bagian
barat kepada United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA), yang
didirikan oleh Sekretaris Jenderal PBB. UNTEA kemudian akan menyerahkan
pemerintahan kepada Indonesia.
·
Bendera PBB akan dikibarkan selama masa peralihan.
·
Pengibaran bendera Indonesia dan Belanda akan diatur
oleh perjanjian antara Sekretaris Jenderal PBB dan masing-masing pemerintah.
·
UNTEA akan membantu polisi Papua dalam menangani
keamanan. Tentara Belanda dan Indonesia berada di bawah Sekjen PBB dalam masa
peralihan.
·
Indonesia, dengan bantuan PBB, akan memberikan
kesempatan bagi penduduk Papua bagian barat untuk mengambil keputusan secara
bebas melalui
1.
musyawarah dengan perwakilan penduduk Papua bagian
barat
2.
penetapan tanggal penentuan pendapat
3.
perumusan pertanyaan dalam penentuan pendapat mengenai
kehendak penduduk Papua untuk
§
tetap bergabung dengan Indonesia; atau
§
memisahkan diri dari Indonesia
4.
hak semua penduduk dewasa, laki-laki dan perempuan, untuk ikut serta dalam penentuan pendapat yang akan
diadakan sesuai dengan standar internasional
Pada tanggal
1 Mei1963, UNTEA menyerahkan pemerintahan Papua bagian barat kepada Indonesia.
Ibukota Hollandia dinamai Kota Baru, dan pada 5 September 1963, Papua bagian barat dinyatakan sebagai
"daerah karantina". Pemerintah Indonesia membubarkan Dewan Papua dan
melarang bendera Papua dan lagu kebangsaan Papua. Keputusan ini ditentang oleh
banyak pihak di Papua, dan melahirkan Organisasi Papua
Merdeka (OPM) pada 1965. Untuk
meredam gerakan ini, dilaporkan bahwa pemerintah Indonesia melakukan berbagai
tindakan pembunuhan, penahanan, penyiksaan, dan pemboman udara. Menurut Amnesty International, lebih dari
100.000 orang Papua telah tewas dalam kekerasan ini. OPM sendiri juga memiliki
tentara dan telah melakukan berbagai tindakan kekerasan.
B.
Penentuan Pendapat Rakyat
Pada tahun 1969, diselenggarakan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera)
yang diatur oleh Jenderal Sarwo Edhi Wibowo. Menurut anggota OPM Moses Werror, beberapa minggu
sebelum Pepera, angkatan bersenjata Indonesia menangkap para pemimpin rakyat
Papua dan mencoba membujuk mereka dengan cara sogokan dan ancaman untuk memilih
penggabungan dengan Indonesia.[7][8]
Pepera ini disaksikan oleh dua utusan PBB, namun
mereka meninggalkan Papua setelah 200 suara (dari 1054) untuk integrasi.[9] Hasil PEPERA adalah Papua bergabung dengan Indonesia,
namun keputusan ini dicurigai oleh Organisasi Papua Merdeka dan berbagai
pengamat independen lainnya. Walaupun demikian, Amerika Serikat, yang tidak
ingin Indonesia bergabung dengan pihak komunis Uni Soviet, mendukung hasil ini, dan Papua bagian barat menjadi
provinsi ke-26 Indonesia, dengan nama Irian Jaya.
C.
Setelah penggabungan
Setelah Papua bagian barat
digabungkan dengan Indonesia sebagai Irian Jaya, Indonesia mengambil posisi
sebagai berikut:
- Papua bagian barat telah menjadi daerah Republik
Indonesia sejak 17 Agustus1945 namun masih dipegang oleh Belanda
- Belanda berjanji menyerahkan Papua bagian barat
kepada Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar
- penggabungan Papua bagian barat dengan Indonesia
adalah tindakan merebut kembali daerah Indonesia yang dikuasai Belanda
- penggabungan Papua bagian barat dengan Indonesia
adalah kehendak rakyat Papua.
Hal ini
diajarkan di sekolah dan ditulis dalam buku teks sejarah nasional.[1][2]Setelah Jendral Soeharto menjadi Presiden Indonesia, Freeport Sulphur adalah perusahaan asing pertama yang diberi izin
tambang dengan jangka waktu 30 tahun mulai dari tahun 1981 (walaupun
tambang ini telah beroperasi sejak tahun 1972), dan
kontrak ini diperpanjang pada tahun 1991 sampai
tahun 2041. Setelah pembukaan tambang Grasberg pada tahun 1988, tambang
ini menjadi tambang emas terbesar di dunia. Penduduk setempat dengan bantuan Organisasi Papua Merdeka memprotes
berbagai tindakan pencemaran lingkungan hidup dan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan Freeport dan pemerintah Indonesia
dengan berbagai cara, termasuk peledakan pipa gas dan penculikan beberapa
pegawai Freeport dari Eropa dan Indonesia pada tahun 1996. Dalam kejadian ini, 2 tawanan dibunuh dan sisanya dibebaskan.
Pada tahun 1980-an, Indonesia memulai gerakan transmigrasi, di mana puluhan ribu orang dari pulau Jawa dan Sumatera dipindahkan ke provinsi Irian Jaya dalam jangka waktu
10 tahun. Penentang program ini mencurigai usaha Indonesia untuk mendominasi
provinsi Irian Jaya dengan cara memasukkan pengaruh pemerintah pusat.[10][11][12] Pada tahun 2000, presiden Abdurrahman Wahid memberi otonomi khusus kepada provinsi Papua untuk
meredam usaha separatis. Provinsi ini kemudian dibagi dua
menjadi provinsi: Papua dan Irian Jaya Barat (sekarang Papua Barat) melalui instruksi Presiden Megawati Soekarnoputri pada tahun 2001.



No comments:
Post a Comment