Friday, February 24, 2017

PENINGGALAN SEJARAH ISLAM SUMATERA UTARA : MASJID RAYA AL – MASHUN MEDAN DAN ISTANA MAIMUN


TUGAS AKHIR SEMESTER OBSERVASI  PENINGGALAN SEJARAH BERBAU ISLAM YANG BERLOKASI DI SUMATERA UTARA : MASJID RAYA AL – MASHUN MEDAN DAN ISTANA MAIMUN


BAB I
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG MASALAH
Agama islam adalah agama yang dipeluk oleh mayoritas warga Indonesia, sedangkan Indonesia sendiri adalah negara dengan pemeluk agama islam terbesar di dunia walaupun Indonesia bukanlah sebuah negara islam seperti Saudi Arabia dan negara – negara islam lainnya. Karena faktor banyaknya pemeluk agama islam inilah di Indonesia tidak sulit untuk menemukan peninggalan – peninggalan bersejarah yang bercorak islam. Termasuk juga lah dari peninggalan – peninggalan sejarah bercorak islam itu Istana Maimoon dan Masjid Raya Al – Mashun Medan yang cukup dikenal oleh hampir semua orang di negara ini terlebih lagi di Sumatera Utara. Jika kita bertanya pada warga Medan, siapa sih yang tidak tau Masjid Raya Al – Mashun Medan dan Istana Maimoon, tapi jika kita tanya tentang sejarah dari kedua tempat bersejarah ini, mungkin hanya sedikit saja yang mengetahuinya dengan baik. Masjid Raya Al-Mashun merupakan salah satu masjid yang di bangun berdekatan dengan Istana Kesultanan Deli atau Istana Maimoon. Selain sebagai bukti sejarah, masjid ini juga sering di kunjungi oleh para wisatawan dari Belanda. Arsitektur nya yang megah dan anggun  membuat masjid ini terlihat megah di mata para pengunjung. Ukiran-ukiran nya yang sangat bagus menjadi daya tarik sendiri bagi para pengunjung dan membuat masjid ini terlihat megah. Sedangkan Istana Maimoon sendiri didesain oleh arsitek Italia dan dibangun oleh Sultan Deli, Sultan Mahmud Al Rasyid. Pembangunan istana ini dimulai dari 26 Agustus 1888 dan selesai pada 18 Mei 1891. Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 m2 dan 30 ruangan. Istana Maimun terdiri dari 2 lantai dan memiliki 3 bagian yaitu bangunan induk, bangunan sayap kiri dan bangunan sayap kanan. Bangunan istana ini menghadap ke utara dan pada sisi depan terdapat bangunan Masjid Al-Mashun. Istana Maimun menjadi tujuan wisata bukan hanya karena usianya yang tua, namun juga desain interiornya yang unik, memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia.

B.   TUJUAN OBSERVASI
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui pendirian,perkembangan dan sejarah Masjid Raya Al – Mashun
2.      Untuk mengetahui seni arsitektur yang ada di Masjid Raya Al – Mashun
3.      Untuk mengetahui hubungan dari Masjid Raya Al – Mashun dan Istana Maimoon
4.      Untuk mengetahui makam siapakah yang berada di dalam lokasi Masjid Raya Al – Mashun
5.      Untuk mengetahui berapa dan siapa saja Sultan Deli hingga sekarang ini

C.   MANFAAT  OBSERVASI
 Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Dapat mengetahui pendirian, perkembangan dan sejarah Masjid Raya Al – Mashun
2.      Dapat mengetahui seni arsitektur yang ada di Masjid Raya Al – Mashun
3.      Dapat mengetahui hubungan dari Masjid Raya Al – Mashun dan Istana Maimoon
4.      Dapat mengetahui makam siapakah yang berada di dalam lokasi Masjid Raya Al – Mashun
5.      Dapat mengetahui berapa dan siapa saja Sultan Deli hingga sekarang ini


BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pendirian dan sejarah Masjid Raya Al – Mashun.
Masjid raya Al – Mashun merupakan sebuah masjid yang terletak di Kota Medan, Indonesia. Masjid ini di bangun pada tahun 1906 dan pertama kali digunakan pada tanggal 10 September 1909 pada hari jumat. Usia masjid ini sudah mencapai 106 tahun pada tahun ini. Sejarah pembangunan masjid ini di dukung oleh Sultan Deli IX atau Sultan Makmun Ar-Rasyid Perkasa Alam sebagai pemimpin Kesultanan Deli. Sultan Deli memulai pembangunan Masjid Raya Al – Mashun Medan pada tanggal 21 Agustus 1906 (1 Rajab 1324 H) sampai dengan tanggal 10 September 1909 (25 Sya‘ban 1329 H).
Waktu yang digunakan untuk pembangunan Masjid Raya Al – Mashun ini tentu sesuai dengan hasilnya, mengingat bahwa masjid ini adalah salah satu masjid termegah di Medan dan bahkan sampai mendatangkan arsitek – arsitek ternama dari luar negeri kita dan juga mengimpor bahan – bahan yang dipesan khusus untuk masjid ini. Kesultanan Deli merupakan pemerintahan monarki tradisional di wilayah yang sekarang di kenal sebagai kota Medan dan sekitarnya dengan corak agama Islam yang kental. Atas dasar itulah, masjid - masjid menjadi bangunan yang paling penting bagi Kesultanan Deli, bahkan Sultan sendiri memang lebih mengutamakan kemegahan Masjid ini daripada Istana Maimoon.
Sultan Deli ke – IX membangun masjid di Medan ini dengan uangnya sendiri yang jika dihitung keseluruhannya mencapai 1 juta gulden atau jika di ganti ke mata uang indonesia, Rupiah, yaitu sebesar Rp.6.715.153.521,05! Tentu itu adalah jumlah yang sangat fantastis untuk kehidupan pada ratusan tahun lalu. Uang itu sendiri Sultan Deli ke – IX dapatkan dari begitu luasnya perkebunan tembakau miliknya di daerah kawasan Polonia yang sempat dijadikan sebagai Bandara Sumatera Utara sebelum akhirnya dipindahkan lagi ke Kuala Namu. Tembakau yang dihasilkan di Sumatera Utara sendiri pada abad ke 19 dan 20 diyakini sebagai tembakau terbaik di dunia hingga tembakau itu diekspor ke beberapa negara di dunia.
Pada bulan Ramadhan, suasana di Masjid Raya ini menjadi jauh lebih semarak dibanding hari-hari biasa. Kegiatan ibadah tidak hanya berlangsung siang hari, melainkan juga malam hari hingga menjelang waktu sahur. Hanya saja kalau siang diisi dengan kegiatan muzakarah, diskusi tentang hukum sya’ri Islam, ceramah Ramadhan, dan berbagai kegiatan pengkajian Islam lainnya. Sedangkan, malam hari kegiatannya berupa shalat Tarawih dan Tadarrus Al-Qur’an hingga larut malam malah sampai dini hari saat sahur tiba. Kecuali itu, untuk menghidupkan suasana di komplek masjid, pengurus juga menyiapkan makanan bukaan setiap sore dengan bahan dari sumbangan para dermawan dan masyarakat sekitar masjid. Makanan berbuka yang disiapkan hingga 300 - 500 orang tersebut khusus bagi anak-anak yatim, gelandangan, dan kaum musafir yang jauh dari rumahnya saat waktu berbuka tiba. Bahkan dari narasumber saya, beliau mengatakan bahwa pada saat bulan Ramadhan pengunjung akan membludak hingga mencapai ribuan orang.
2.      Seni arsitektur yang ada di Masjid Raya Al – Mashun
Begitu pertama saya menjejakkan kaki di Masjid Raya Al – Mashun ini, yang pertama kali terpikirkan tentu keunikan dan kemiripan bangunan ini dengan bangunan – bangunan Timur Tengah dan Eropa klasik. Masjid ini jika dilihat dan diamati sekelilingnya maka kita tentu akan mengetahui bahwa masjid ini berbentuk simetris ( sama keempat sisinya ).
Disamping masjid ini, kita akan langsung menjumpai sebuah prasasti yang berisi dua paragraf dalam dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan Indonesia yang berbunyi :

Masjid Raya Al – Mashun
Masjid Raya Al – Mashun merupakan salah satu bangunan bersejarah peninggalan Sultan Deli dan masih dipergunakan oleh masyarakat Muslim untuk sholat seiap hari.
Masjid Raya Al – Mashun Medan yang berjarak 200 M dari Istana Maimoen dibangun pada tahun 1906 oleh Sultan Ma’moen Al – Rasjid Perkasa Alamsyah dan dipergunakan pertama kali pada tanggal 19 september 1909.
Masjid Raya Al – Mashun Medan yang berjarak 200 M dari Istana Maimoen dibangun pada tahun 1906 oleh Sultan Ma’moen Al – Rasjid Perkasa Alamsyah dan dipergunakan pertama kali pada tanggal 19 september 1909. 

The Grand Mosque Al – Mashun
The Grand Mosque Al – Mashun one of the Sulthan of Deli remains historical Buildingand it is still used by Moslems for praying daily
The Grand Mosque Al – Mashun is about two hundred meter far from Maimoen Palace which was built in 1906 by Sulthan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah and for the first time used on September 19, 1909.
Masjid yang berbentuk segi delapan ini pada awalnya dirancang oleh Arsitek Belanda Van Erp yang juga merancang istana Maimun, namun kemudian proses-nya dikerjakan oleh JA Tingdeman karena Van Erp ditugaskan oleh pemerintah Hindia Belanda untu bergabung di Jawa Tengah dalam proses restorasi Candi Borobudur. Saat saya sedang berada di ruangan para imam, saya juga mendapati hal yang unik dan aneh di ruangan ini. Ruangan ini begitu sejuk dan senyap yang sangat berbanding terbalik dengan keadaan Kota Medan pada siang hari yang biasanya sangat panas dan ribut.
 Ternyata setelah berbincang dengan narasumber di sana, saya mendapati bahwa masjid ini kedap suara, hal ini sungguh mengejutkan bagi saya karena bangunan ini adalah bangunan yang dibangun 106 tahun lalu yang tentu saja teknologi bidang konstruksi nya masih belum secanggih sekarang ini, yang lebih mengejutkan saya lagi, ternyata dalam pembangunan masjid ini, agar semen dapat menjadi kuat, masjid yang sangat luas ini pembangunannya menggunakan putih telur! Tidak terbayang berapa banyak telur yang dipakai untuk pembangunan masjid ini.
Dan ada pula sebagian bahan bangunan yang ternyata untuk mendapatkannya harus diimpor dari negara lain yaitu berupa marmer yang berasal dari Italia serta Jerman dan kaca patri dari cina serta lampu gantung yang asli dari perancis.
JA Tingdeman, sang arsitek merancang masjid ini dengan denah simetris segi delapan dalam corak bangunan campuran Maroko, Eropa dan Melayu dan Timur Tengah. Denah yang persegi delapan ini menghasilkan ruang bagian dalam yang unik tidak seperti masjid masjid kebanyakan.
Di ke empat penjuru masjid masing masing diberi beranda dengan atap tinggi berkubah warna hitam, melengkapi kubah utama di atap bangunan utama masjid. Masing masing beranda dilengkapi dengan pintu utama dan tangga hubung antara pelataran dengan lantai utama masjid yang ditinggikan, kecuali bangunan beranda di sisi mihrab.
 IMG_20150510_135432(1).jpg
Bangunan masjidnya terbagi menjadi ruang utama, tempat wudhu, gerbang masuk dan menara. Ruang utama, tempat sholat, berbentuk segi delapan tidak sama sisi. Pada sisi berhadapan lebih kecil, terdapat ‘beranda’ serambi kecil yang menempel dan menjorok keluar.

Jendela-jendela yang mengelilingi pintu beranda terbuat dari kayu dengan kaca-kaca patri yang sangat berharga, sisa peninggalan art nouveau periode 1890-1914, yang dipadu dengan kesenian Islam, bahkan, menurut pengakuan narasumber, masjid ini belum pernah diganti kaca – kacanya karena sudah tiadanya kaca – kaca seperti kaca yang berada di Masjid ini. Seluruh ornamentasi di dalam mesjid baik di dinding, plafon, tiang-tiang, dan permukaan lengkungan yang kaya dengan hiasan bunga dan tumbuh- tumbuhan.
Di depan masing-masing beranda terdapat tangga. Kemudian, segi delapan tadi, pada bagian luarnya tampil dengan empat gang pada keempat sisinya, yang mengelilingi ruang sholat utama.
Gang-gang ini punya deretan jendela-jendela tak berdaun yang berbentuk lengkungan-lengkungan yang berdiri di atas balok. Baik beranda dan jendela-jendela lengkung itu mengingatkan disain bangunan kerajaan- kerajaan Islam di Spanyol pada Abad Pertengahan. Sedangkan kubah mesjid mengikuti model Turki, dengan bentuk yang patah-patah bersegi delapan. Kubah utama dikitari empat kubah lain di atas masing-masing beranda, dengan ukuran yang lebih kecil. Bentuk kubahnya mengingatkan kita pada Mesjid Raya Banda Aceh.
Di bagian dalam masjid, terdapat delapan pilar utama berdiameter 0,60 m yang menjulang tinggi untuk menyangga kubah utama pada bagian tengah. Adapun mihrab terbuat dari marmer dengan atap kubah runcing. Gerbang mesjid ini berbentuk bujur sangkar beratap datar. Sedangkan menara mesjid berhias paduan antara Mesir, Iran dan Arab. Di dalam masjid al-mashun ini terdapat Al-qur’an sumbangan dari Duta besar Belanda dan Pakistan dengan tulisan tangan serta terjemahan Bahasa Urdu dan Persi.
Ada juga satu rumor lisan yang berhubungan dengan arsitektur masjid ini yang menyebutkan bahwa Sultan Delhi biasanya sudah berada di ruangan serambi sebelum salat jum’at di mulai, sementara tidak ada satupun orang yang melihat Sultan Delhi masuk ke dalam masjid dari arah luar, sehingga ada dugaan yang menyebutkan bahwa  di ruangan serambi terdapat sebuah jalan menuju terowongan menghubungkan mesjid Raya Al-Mashun ke Istana Maimoon. Hal menarik yang harus di kaji kebenaran nya yaitu di ruangan serambi terdapat sebuah lubang berbentuk persegi yang di beri penutup yang terbuat dari beton. Beberapa orang menyebutkan bahwa lubang itu dulunya adalah jalan masuk menuju terowongan bawah tanah  yang masih menjadi misteri keberadaan nya.
Sampai saat ini belum ada yang meneliti lebih dalam lagi mengenai sebuah lubang yang berada di Masjid Al-Mashun ini, Hal ini karena izin untuk meneliti lubang itu sulit di dapatkan karena ada kemungkinan bahwa Masjid Al-Mashun ini dilindungi oleh situs bersejarah.
3.      Hubungan antara Masjid Raya Al – Mashun dan Istana Maimoon
Masjid Raya Al – Mashun Medan ini tentu tidak dapat dipisahkan dengan Istana Maimoon. Selain jaraknya yang sangat dekat dan dibangun oleh orang yang sama, yaitu Sultan Deli ke – IX, kedua bangunan bersejarah yang sangat terkenal ini juga merupakan sama – sama peninggalan dari kesultanan Deli  yang sekarang merupakan tempat wisata bersejarah. Kedua bangunan ini ramai dikunjungi oleh turis lokal maupun mancanegara. Jika kita singgah di Masjid Raya Al – Mashun, sungguh ada yang kurang rasanya jika kita tidak sekalian mengunjungi Istana Maimoon, begitupun sebaliknya. Istana Maimoon dibangun lebih dulu daripada Masjid Raya Al – Mashun yaitu di tahun 1888.
Istana Maimoon ini dirancang oleh arsitek Italia. Istana Maimoon menjadi tujuan wisata bukan hanya karena usianya yang tua, namun juga desain interiornya yang unik, memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia. Namun sayang, tempat wisata ini tidak bebas dari kawasan Pedagang kaki lima. Saat saya mengunjungi Istana Maimoon ini, sungguh banyak saya dapati sampah dari para pedagang kaki lima.
Istana Maimoon memiliki luas sebesar 2.772 m2 dan 30 ruangan. Istana Maimoon terdiri dari 2 lantai dan memiliki 3 bagian yaitu bangunan induk, bangunan sayap kiri dan bangunan sayap kanan. Bangunan istana ini menghadap ke utara dan pada sisi depan terdapat bangunan Masjid Al-Mashun atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya Medan. Istana Maimoon tidak seluruhnya dibuka untuk umum melainkan hanya bagian induknya saja karena selain sebagai tempat wisata, Istana ini juga adalah merupakan tempat tinggal.
Jika kita berkunjung ke Istana ini, maka kita akan mendapati banyak informasi – informasi tentang Kesultanan Deli serta juga silsilah keluarganya. Di samping Istana juga terdapat bangunan kecil yang berisi Meriam Puntung.
istana-maimun-92.jpg
Saya juga sempat melihat – lihat pada singgasana Sultan yang berada di  tengah – tengah ruangan.
Saya juga mendapati bahwa Istana ini pun memiliki beberapa barang – barang impor yang masih dapat dilihat beberapa di bagian bangunan induk Istana Maimoon ini. Salah satunya adalah kursi dari Italia,dan kipas angin dari Belanda.
Ada juga salah satu rumor yang belum pasti kebenarannya yang menyebutkan akan adanya terowongan bawah tanah yang menghubungkan Masjid Raya Al – Mashun dan Istana Maimoon.

4.      Makam yang berada di kawasan Masjid Raya Al – Mashun
Masjid Raya Al – Mashun ini juga memiliki makam seperti masjid bersejarah lainnya. Disinilah tempat para Sultan di makamkan setelah mereka tutup usia. Di Kesultanan Deli ini ada salah satu tradisi penguburan yang biasa dikatakan “Raja Mangkat Raja Menanam”. Maksud dan arti dari istiadat ini adalah bahwa jika seorang sultan meninggal, maka Sultan jugalah yang harus menguburkannya, jasad dari Sultan yang meninggal belum bisa di kuburkan jika belum dinobatkan seorang Sultan yang baru. Oleh karena itulah apabila seorang Sultan meninggal maka para keluarga dan anggota Kesultanan akan secepatnya bermusyawarah dan memilih serta menobatkan Sultan yang baru. Makam yang ada di masjid ini sungguh banyak, menurut informasi dari narasumber, tidak semua orang bisa di makamkan di lahan ini, melainkan hanya keluarga dan kerabat Kesultanan serta orang – orang yang telah diizinkan oleh Sultan yang sedang memimpin.
20150510_114045.jpg








Saat saya sedang melihat – lihat, saya juga mendapati bahwa tiga makam dalam areal berdinding dan berlantai keramik yang merupakan makan Sultan IX hingga Sultan XI, dua makam yang berada diluar adalah makam Sultan XII dan XIII sementara tiga makam disampingnya adalah makam ibu dan istrinya.

5.      Berapa dan siapa saja Sultan Deli
Sultan Deli adalah penguasa Kesultanan Deli di Sumatera Utara, Indonesia. Sultan Deli dipanggil dengan gelar Sri Paduka Tuanku Sultan. Jika mangkat, sang Sultan akan digantikan oleh putranya. Sultan Deli sekarang ada sampai Sultan ke – XIV. Adapun nama – nama para sultan itu adalah :
·         Tuanku Panglima Gocah Pahlawan ( 1632-1669 )
Sultan ini tidak diketahui jelas asalnya, ada yang berkata beliau dari pakistan , dsb.
·         Tuanku Panglima Parunggit ( 1669-1698 )
·         Tuanku Panglima Padrap ( 1698-1728 )
·         Tuanku Panglima Pasutan ( 1728-1761 )
·         Tuanku Panglima Gandar Wahid ( 1761 – 1805 )
Ia memerintah dari tahun 1761 sampai tahun 1805. Dibawah pemerintahanya, kedudukan Datuk Empat Suku semakin kokoh sebagai wakil rakyat karena peranannya semakin nyata sebagai pengaman rakyat. Raja Deli ke V ini memindahkan pusat pemerintahan ke-hilir yaitu ke daerah Kampung Labuhan Deli. Hal ini bila diperhatikan dimana pemindahan kedudukan pemerintahan yang berkali-kali, mulai dari Hulu Deli Tua hingga ke hilir Labuhan Deli mempunyai tujuan tertentu, yaitu ingin mengkokohkan wawasan tersebut. Dalam pemerintahan Sultan Deli ke V ini mulai merintis perdagangan hasil bumi dengan daerah lain. Sultan Deli ke V mangkat pada tahun 1805 dan digantikan putra ke tiganya.
·         Sultan Amaluddin Mangendar Perkasa Alamsyah ( 1805-1850 )
Sultan Panglima Amaluddin Mengedar Alam (1805-1850) adalah Raja Deli ke VI, putra ketiga dari Tuanku Panglima Gandar Wahid, yang memerintah dari tahun 1805 sampai tahun 1850. Pada masa pemerintahannya hubungan dan pengaruh Kesultanan Siak lebih kuat dari Kerajaan Aceh; hal ini ditandai dengan pemberian gelar Sultan kepada Raja Deli, dan Sultan Amaluddin Mengedar Alam adalah Raja Deli yang pertama yang memakai gelar Sultan. Pada masa pemerintahannya perdagangan antar daerah semakin terbuka, hubungan laut mulai dirintis karena kedudukan pemerintahan di Labuhan Deli dekat dengan laut lepas, sehingga perdagangan hasil bumi semakin lancar. Sultan Amaluddin Mengedar Alam mangkat pada tahun 1850 dan digantikan oleh putanya.

·         Sultan Osman Perkasa Alamsyah ( 1850-1858 )
Pemerintahan Raja Deli ke VII ini cukup singkat, pada saat Kesultanan Deli yang mendapat pengesahaan dari Kerajaan Aceh bahwa Kerajaan Deli merupakan daerah yang berdiri sendiri yang di tandai dengan diberikannya Pedang (Syamsir) Bawar dan cap Sembilan (MOHOR). Dengan tujuan mengurangi pengaruh Kesultanan Siak terhadap Kesultanan Deli oleh Sultan Mansyursah Alaldin Johan dari negeri Aceh, pada masa itu juga Sultan Deli diberi gelar Perkasa Alam dan diberi Surat Penyerahan Negeri Deli serta daerah taklukannya dari Kuala Bayan sampai Pasir Putih, kecuali Negeri Bedagai dan Langkat.
Penyerahan yang dilaksanakan di Istana Darussalam (Banda Aceh) ini terjadi pada tahun 1853, dan mulai saat itu raja-raja Deli memekai Gelar Perkasa Alam, hingga sekarang apa bila penabalan (pengangkatan) sultan, Pedang Bawar ini sebagai Syarat Mutlak dalam prosesi upacara tersebut. Sultan Osman Perkasa Alamsyah memerintah cukup singkat, ia diangkat menjadi sultan pada 1850 dan mangkat pada 1858. Yang menjadi catatan pada masa pemerintahan ia adalah ia membangun sebuah mesjid megah, besar dan permanen pada tahun 1854 hingga kini masih berdiri sebagai tonggak sejarah yaitu Masjid Al-Osmani di Labuhan Deli. Ia memiliki 31 orang anak yaitu 17 putra dan 14 putri.
·         Sultan Mahmud Al Rasyid Perkasa Alamsyah ( 1858-1873 )
Seripaduka Tuanku Sultan Mahmud Al-Rasyid Perkasa Alam Shah (bertahta 1858-1873) adalah raja Kesultanan Deli yang ke-8. Ia adalah putra sulung Sultan Osman Perkasa Alam Shah. Ia diangkat menjadi sultan untuk menggantikan ayahandanya. Sultan Mahmud diangkat menjadi sultan pada tahun 1858 atau pada 4 Rabiul Awal 1275 H.
deli 8.jpgGelar Sultan Mahmud setelah mangkat ialah Marhum Kota Batu. Sultan Mahmud Pekasa Alam memiliki tiga orang putra dan puteri. Putranya bernama Tengku Ma’mun Al-Rasyid, dan putri-puterinya bernama Tengku Fatimah dan Tengku Zubaidah. Mamun puteri-puteri tersebut meninggal dalam usia muda. Sultan Mahmud Perkasa Alam inilah yang membuat perjanjian dengan pemerintah Belanda yang dinamai Acte van Verband, yang ditandatangani dan dipatri cap mohornya pada 22 Agustus 1862. Selama lima belas tahun memerintah, Sultan Mahmud menjalin kerja sama dengan pihak asing (Belanda, Belgia, Polandia, Inggris, dll.) yang ditandai dengan kerja sama pembukaan lahan perkebunan tembakau di kerajaan Deli. Diawali oleh seorang pengusaha tembakau bernama Jakobus Nienhuys, kerja sama dalam usaha-usaha perkebunan tembakau ia tanda-tangani. Salah satu kontrak terbesar diberikannya kepada Deli Maatschapij pada tanggal 22 Agustus 1862, yang wilayahnya terletak di daerah Mabar sampai Deli Tua dan dikenal dengan nama Mabar Deli Tua kontrak. Daerah Deli kemudian menjadi makmur dan ramai dikunjungi oleh berbagai bangsa. Sultan Mahmud dapat dianggap sebagai perintis perkebunan tembakau di wilayah Hindia Belanda. Saat ini, sebagian areal dari perusahan Perkebunan Nusantara II adalah bekas perkebunan yang dirintis di masa Sultan Mahmud Perkasa Alam. Pada masa pemerintahannya, Sultan Mahmud membangun sebuah istana yang dinamakan Istana Kota Batu, tepatnya di depan Mesjid Raya Al-Osmani Labuhan Deli. Sultan Mahmud mangkat pada tahun 1873 dalam usia 44 tahun, dan dimakamkan di lingkungan Mesjid Raya Al-Osmani di Labuhan Deli, dan diberi gelar Marhum Kota Batu.

·         Sultan Ma'moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah ( 1873-1924 )
Pada masa pemerintahan Sultan yang dinobatkan dalam usia muda ini ,perdagangan tembakau semakin maju dan kemakmuran kesultanan Deli mencapai Puncaknya. Atas kebijaksanaan Baginda Tuanku itu semasa diatas tahta kerajaan, maka sebagai balas budi jasa Tuanku itu dikurniakan 2 buah peringkat kehormatan dari Kerajaan Negeri Belanda. Yaitu Commandeur In De Orde Van Oranje Nassau dan Ridder In De Orde Van De Nederlandsche Leeuw. Pusat Kerajaan pun dipindahkan ke Medan.
sultan 9.jpgTuanku Sultan Ma’moen Al-Rasyid Perkasa Alamsyah mendirikan Istana di Kampung Bahari pada hari kamis pukul 12 tahun 1886. Kemudian pada 1888 dengan Belanda, Tuanku itu meletakkan sendiri batu pertama untuk membangun Istana Maimoon.
Tahun 1891 yaitu pada hari Senin tepat pada Pukul 1 tengah hari, Sultan berpindah dari Istana Kota Bahari ke Istana Maimoon. Hari Sabtu 16 Mei 1903 didirikan pula sebuah Mahkamah atau Kantor Kerapatan Sultan di jalan raja (sekarang- Jalan Mahkamah). Juga kemudian pada tanggal 21 Agustus 1906 dimulailah peletakan batu pertama untuk Mendirikan Masjid Raya Kota Ma’sum dan digunakan untuk sholat pertama kalinya yaitu pada hari Jumat 10 September 1909.
Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmatsyah Sultan Negeri Langkat dan Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah Sultan Negeri Serdang juga turut hadir dalam Sholat Jumat perdana di Mesjid Raya ini. Pada masa pemerintahanya Dia banyak membangun fasilitas umum untuk kemajuan masyarakat dan membangun Mesjid-Mesjid yang berjumlah kurang lebih sebanyak 800 buah demi kepentingan syiar agama Islam pada saat itu. Yang mulia Mangkat pada tahun 1924, meninggalkan 3 orang putra dan 5 orang putri. Almarhum dimakamkan di Masjid Raya Kota Ma’sum, Medan.

·         deli 10.jpgSultan Amaluddin Al Sani Perkasa Alamsyah ( 1924-1945 )

Sultan Amaluddin Sani Perkasa Alamsyah (1924-1945) adalah raja Kesultanan Deli ke-10. Gelarnya setelah mangkat ialahMarhum Rahimullah.
Pada hari Senin 3 Juli 1893 pukul 10 pagi. Dengan upacara adat yang qanun dipersilahkanlah Tengku Amaluddin itu naik keatas pelaminan 7 tingkat di Balairung Istana Maimoon. Kemudian ditembakkan Meriam 12 das sebagai tanda resminya gelar Tengku Besar dari Ayahandanya ketika dia masih berusia 16 tahun. 6 tahun berselang, Almarhum Sultan Ma’moen Al Rasyid berikhitar untuk menikahkan Tengku Besar. Oleh karena kebijaksanaan dan keadilan Baginda pada 31 Agustus, Baginda kembali mendapat peringkat kehormatan Ridder In De Orde Van Nederlandsche Leeuw dari kerajaan Belanda. Bertepatan dengan 22 Agustus 1937 genaplah 75 tahun hari penandatanganan ACTE VAN VERBAND yang dahulu ditandatangani oleh Atoknda baginda Almarhum Sultan Mahmud Al-Rasyid Perkasa Alam. Untuk itu diadakanlah Keramaian besar di Istana Maimoon dan oleh Tengku Haji Achmad Hayat (Bentara Kiri) Ibni Almarhum Tengku Al Haji Ja’far (bekas Tengku Bendahara Negeri Deli) dikaranglah buku “Perayaan Ulang Tahun Kerajaan Deli” . Segala lapisan rakyat datang memberikan persembahan. Hal ini menunjukkan bahwasanya Tuanku Sultan Amaluddin sangat disenangi oleh rakyat-rakyatnya.
·         Sultan Osman Al Sani Perkasa Alamsyah ( 1945-1967 )
Sultan Osman Al-Sani Perkasa Alamsyah dilahirkan pada 20 Agustus 1900 dengan nama Tengku Otteman di Istana Maimoon. 20 Desember berangkat ke Betawi untuk bersekolah lalu kembali ke Deli pada 1918. Kemudian pada tahun 1924 Dia dititah oleh Paduka Ayahandanya Sultan Amaluddin Sani Perkasa Alamsyah untuk bekerja di pejabat (Kantor) Tuanku Sultan. Sultan Osman Al-Sani Perkasa Alamsyah memerintah antara 1945-1967. Gelar setelah mangkat adalah Marhom Tawakkallah.
sultan 11.JPGKetika sampai usia Tengku Otteman itu 25 tahun, Paduka ayahandanya berikhtiar untuk memperistrikannya. 7 Mei 1925 dilangsungkanlah pernikahan di antara Tengku Otteman dengan Raja Amnah putri dari Raja Chulan Raja Dihilir Negeri Perak (Malaysia), pernikahan itu berlangsung Agung di dua kerajaan, di deli dan di Perak. Setahun setelah itu pada tanggal 12 Maret, Gubernur Jendral Hindia Belanda mengeluarkan Besluit (Surat Resmi) yang menetapkan Tengku Otteman sebagai Tengku Mahkota. Sultan Osman Al-Sani Perkasa Alamsyah mangkat pada Usia 67 di Kuala Lumpur Malaysia dan di makamkan di Komplek Pemakaman Sultan Deli di Mesjid Raya Al Mashun Medan.
·         Sultan Azmy Perkasa Alamsyah Alhaj ( 1967-1998 )
Sultan Azmi Perkasa Alam (1936 - 1998) adalah Sultan Deli ke-12. Ia lahir pada tahun 1936. Sultan Azmi Perkasa Alam menggantikan Kedudukan Ayahndanya Sebagai Sultan Deli dan Penguasa tertinggi Adat-Istiadat Melayu deli pada tahun 1967.Sebagai Sultan Deli ke XII selain sebagai Kepala Adat juga duduk sebagai unsur berbagai Organisasi Sosial ,Pendidikan dan Budaya juga duduk sebagai anggota DPR/MPR RI selama dua priode, sebagai catatan
Dia juga sebagai salah seorang pendiri Universitas Amir Hamzah.Sultan Azmi Perkasa Alam mangkat di Jakarta pada tanggal 4 Mei 1998 pada usia 62 tahun dan di makamkan di Komplek Pemakaman Sultan di areal Mesjid Raya Al Mashun Medan.
·         Sultan Otteman Mahmud Perkasa Alamsyah ( 5 Mei 1998–21 Juli 2005  )
Sultan Deli ke-13 ini lahir pada 30 Agustus 1966 di Kuala LumpurMalaysia. Ia merupakan anak kedua dari 3 bersaudara.
Sultan_Deli 13.jpgOtteman tidak dapat sepenuhnya memimpin pelaksanaan adat yang berlaku di Negeri Deli sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pendahulunya. Hal ini disebabkan tugasnya sebagai TNI. Oleh karena itu seluruh kewajiban di Deli sementara waktu diwakilkan kepada wakilnya beserta Datuk Empat Suku.
Dari pernikahannya dengan Ir. Hj. Siska Marabintang, dia memperoleh dua orang anak, Aria Lamanjiji dan Zulkarnain Otteman Mangendar Alam. Ia menamatkan pendidikan militer pada tahun 1989 di Akademi Militer Magelang, dan ditempatkan di Kodam VII Wirabuana. Jabatan terakhir yang disandangnya adalah Komandan Batalyon Infanteri 312/Kala Hitam di Subang, Jawa Barat. selama karier militernya, ia mendapat Bintang Jasa antara lain : SL SEROJA, SL GOM RAKSAKA DARMA, SL DWIYA SISTHA, SL KESETIAAN VIII TAHUN, SL DARMA NUSA
Ketika wafatnya, Otteman telah bertugas selama 10 bulan di Langsa, Aceh. Pada saat itu ia berpangkat Mayor (Inf) dan bertugas di Kodam VII Wirabuana Sulawesi.
·         Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alamsyah ( 22 Juli 2005–saat ini )
Seripaduka Baginda Tuanku Sultan Mahmud Arya Lamanjiji Perkasa Alam atau cukup disingkat Tuanku Aji (lahir di Makassar,Sulawesi Selatan17 Agustus 1997; umur 17 tahun) adalah Sultan Deli ke-14 yang memerintah sejak 22 Juli 2005. Dia adalah Sultan Deli termuda dalam sejarah. Sultan termuda sebelumnya adalah Sultan Ma'moen Al Rasyid (1873-1924) yang diangkat saat sultan 14.jpgberusia 15 tahun.

Karena belum akil balik atau belum dewasa menurut ajaran Islam, tampuk kepemimpinan akan dipegang oleh paman ayahnya, Tengku Hamdy Osman Delikhan Al Haj gelar Tengku Raja Muda Deli
Sebelum diangkat menjadi Sultan, Lamanjiji sedang bersekolah di sebuah SD di Jawa Barat.


BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
        Adapun kesimpulan yang saya dapatkan dari observasi yang telah saya lakukan ini adalah  bahwa Masjid Raya Al – Mashun Medan dan Istana Maimun adalah salah satu peninggalan bersejarah bercorak islam yang dibangun pada abad ke – 19 akhir dan abad ke – 20 awal yaitu pada tahun 1888 dan pada tahun 1906, kedua situs bersejarah ini adalah peninggalan – peninggalan dari Sultan Deli ke IX yang berlokasi di kota Medan provinsi Sumatera Utara. Kedua tempat ini adalah salah ikon kota medan yang terkenal dengan gaya arsitekturnya yang indah dan berkelas karna melibatkan bahan – bahan material dan juga arsitek dari berbagai belahan dunia. Namun sayang, kesadaran rakyat, turis, dan pemerintah setempat dalam menjaga kedua tempat ini sangat memprihatinkan.
B.     SARAN
               Setelah berkunjung ke dua tempat yang telah saya sebutkan tadi, saya mendapati ada beberapa hal yang mengganggu pikiran saya, adapun saran – saran yang dapat saya kemukakan untuk menangani hal – hal tersebut antara lain :
1.      Perawatan bagi kedua tempat bersejarah ini, saat saya mendatangi kedua tempat ini, saya mendapati bahwa banyak sekali properti yang telah hancur dan tidak bisa digunakan lagi serta sampah dan rumput liar di halaman sekeliling masjid dan Istana Maimun. Menurut saya, seharusnya tempat – tempat bersejarah seperti kedua tempat itu harus benar – benar dirawat karna tempat – tempat itulah yang menjadi aset kita dan juga bisa memberikan pendapatan kepada negara kita.
2.      Penertiban pedagang kaki lima, saya sadar bahwa jika menggusur berarti menghilangkan sumber rezeki mereka, namun mereka juga harusnya menyadari bahwa kehadiran mereka yang tidak teratur memberikan kesan tidak enak dipandang dan juga mengganggu akses keluar masuk khususnya dari Masjid Raya yang mulai merapat ke arah gerbang masuk sehingga menyulitkan untuk masuk, ada baiknya jika mereka ditertibkan oleh pemerintah.



No comments:

Post a Comment