TUGAS AKHIR SEMESTER OBSERVASI
PENINGGALAN SEJARAH BERBAU ISLAM YANG BERLOKASI DI SUMATERA UTARA : MASJID RAYA
AL – MASHUN MEDAN DAN ISTANA MAIMUN
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Agama islam adalah agama yang dipeluk oleh
mayoritas warga Indonesia, sedangkan Indonesia sendiri adalah negara dengan
pemeluk agama islam terbesar di dunia walaupun Indonesia bukanlah sebuah negara
islam seperti Saudi Arabia dan negara – negara islam lainnya. Karena faktor
banyaknya pemeluk agama islam inilah di Indonesia tidak sulit untuk menemukan
peninggalan – peninggalan bersejarah yang bercorak islam. Termasuk juga lah
dari peninggalan – peninggalan sejarah bercorak islam itu Istana Maimoon dan
Masjid Raya Al – Mashun Medan yang cukup dikenal oleh hampir semua orang di
negara ini terlebih lagi di Sumatera Utara. Jika kita bertanya pada warga
Medan, siapa sih yang tidak tau Masjid Raya Al – Mashun Medan dan Istana
Maimoon, tapi jika kita tanya tentang sejarah dari kedua tempat bersejarah ini,
mungkin hanya sedikit saja yang mengetahuinya dengan baik. Masjid Raya
Al-Mashun merupakan salah satu masjid yang di bangun berdekatan dengan Istana
Kesultanan Deli atau Istana Maimoon. Selain sebagai bukti sejarah, masjid ini
juga sering di kunjungi oleh para wisatawan dari Belanda. Arsitektur nya yang
megah dan anggun membuat masjid ini terlihat megah di mata para
pengunjung. Ukiran-ukiran nya yang sangat bagus menjadi daya tarik sendiri bagi
para pengunjung dan membuat masjid ini terlihat megah. Sedangkan Istana Maimoon
sendiri didesain oleh arsitek Italia dan dibangun oleh Sultan Deli, Sultan
Mahmud Al Rasyid. Pembangunan istana ini dimulai dari 26 Agustus 1888 dan
selesai pada 18 Mei 1891. Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 m2 dan 30
ruangan. Istana Maimun terdiri dari 2 lantai dan memiliki 3 bagian yaitu
bangunan induk, bangunan sayap kiri dan bangunan sayap kanan. Bangunan istana
ini menghadap ke utara dan pada sisi depan terdapat bangunan Masjid Al-Mashun.
Istana Maimun menjadi tujuan wisata bukan hanya karena usianya yang tua, namun
juga desain interiornya yang unik, memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan
Melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia.
B. TUJUAN OBSERVASI
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Untuk mengetahui pendirian,perkembangan dan sejarah
Masjid Raya Al – Mashun
2. Untuk mengetahui seni arsitektur yang ada di Masjid
Raya Al – Mashun
3. Untuk mengetahui hubungan dari Masjid Raya Al – Mashun
dan Istana Maimoon
4. Untuk mengetahui makam siapakah yang berada di dalam
lokasi Masjid Raya Al – Mashun
5. Untuk mengetahui berapa dan siapa saja Sultan Deli
hingga sekarang ini
C. MANFAAT OBSERVASI
Adapun manfaat
dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat mengetahui pendirian, perkembangan dan sejarah
Masjid Raya Al – Mashun
2. Dapat mengetahui seni arsitektur yang ada di Masjid
Raya Al – Mashun
3. Dapat mengetahui hubungan dari Masjid Raya Al – Mashun
dan Istana Maimoon
4. Dapat mengetahui makam siapakah yang berada di dalam
lokasi Masjid Raya Al – Mashun
5. Dapat mengetahui berapa dan siapa saja Sultan Deli
hingga sekarang ini
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pendirian dan sejarah Masjid Raya Al – Mashun.
Masjid raya Al – Mashun
merupakan sebuah masjid yang terletak di Kota Medan, Indonesia. Masjid ini di
bangun pada tahun 1906 dan pertama kali digunakan pada tanggal 10 September
1909 pada hari jumat. Usia masjid ini sudah mencapai 106 tahun pada tahun ini.
Sejarah pembangunan masjid ini di dukung oleh Sultan Deli IX atau Sultan Makmun
Ar-Rasyid Perkasa Alam sebagai pemimpin Kesultanan Deli. Sultan Deli memulai
pembangunan Masjid
Raya Al – Mashun Medan pada tanggal 21
Agustus 1906 (1 Rajab 1324 H) sampai dengan tanggal 10 September 1909 (25
Sya‘ban 1329 H).
Waktu yang digunakan
untuk pembangunan Masjid Raya Al – Mashun ini tentu sesuai dengan hasilnya,
mengingat bahwa masjid ini adalah salah satu masjid termegah di Medan dan
bahkan sampai mendatangkan arsitek – arsitek ternama dari luar negeri kita dan
juga mengimpor bahan – bahan yang dipesan khusus untuk masjid ini. Kesultanan
Deli merupakan pemerintahan monarki tradisional di wilayah yang sekarang di
kenal sebagai kota Medan dan sekitarnya dengan corak agama Islam yang kental.
Atas dasar itulah, masjid - masjid menjadi bangunan yang paling penting bagi
Kesultanan Deli, bahkan Sultan sendiri memang lebih mengutamakan kemegahan
Masjid ini daripada Istana Maimoon.
Sultan Deli ke – IX
membangun masjid di Medan ini dengan uangnya sendiri yang jika dihitung
keseluruhannya mencapai 1 juta gulden atau jika di ganti ke mata uang
indonesia, Rupiah, yaitu sebesar Rp.6.715.153.521,05! Tentu itu adalah jumlah
yang sangat fantastis untuk kehidupan pada ratusan tahun lalu. Uang itu sendiri
Sultan Deli ke – IX dapatkan dari begitu luasnya perkebunan tembakau miliknya
di daerah kawasan Polonia yang sempat dijadikan sebagai Bandara Sumatera Utara
sebelum akhirnya dipindahkan lagi ke Kuala Namu. Tembakau yang dihasilkan di
Sumatera Utara sendiri pada abad ke 19 dan 20 diyakini sebagai tembakau terbaik
di dunia hingga tembakau itu diekspor ke beberapa negara di dunia.
Pada bulan Ramadhan,
suasana di Masjid Raya ini menjadi jauh lebih semarak dibanding hari-hari
biasa. Kegiatan ibadah tidak hanya berlangsung siang hari, melainkan juga malam
hari hingga menjelang waktu sahur. Hanya saja kalau siang diisi dengan kegiatan
muzakarah, diskusi tentang hukum sya’ri Islam, ceramah Ramadhan, dan berbagai
kegiatan pengkajian Islam lainnya. Sedangkan, malam hari kegiatannya berupa
shalat Tarawih dan Tadarrus Al-Qur’an hingga larut malam malah sampai dini hari
saat sahur tiba. Kecuali itu, untuk menghidupkan suasana di komplek masjid,
pengurus juga menyiapkan makanan bukaan setiap sore dengan bahan dari sumbangan
para dermawan dan masyarakat sekitar masjid. Makanan berbuka yang disiapkan
hingga 300 - 500 orang tersebut khusus bagi anak-anak yatim, gelandangan, dan
kaum musafir yang jauh dari rumahnya saat waktu berbuka tiba. Bahkan dari
narasumber saya, beliau mengatakan bahwa pada saat bulan Ramadhan pengunjung
akan membludak hingga mencapai ribuan orang.
2. Seni arsitektur yang ada di Masjid Raya Al – Mashun
Begitu pertama saya menjejakkan kaki di
Masjid Raya Al – Mashun ini, yang pertama kali terpikirkan tentu keunikan dan
kemiripan bangunan ini dengan bangunan – bangunan Timur Tengah dan Eropa
klasik. Masjid ini jika dilihat dan diamati sekelilingnya maka kita tentu akan
mengetahui bahwa masjid ini berbentuk simetris ( sama keempat sisinya ).
Disamping
masjid ini, kita akan langsung menjumpai sebuah prasasti yang berisi dua
paragraf dalam dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan Indonesia yang berbunyi :
Masjid
Raya Al – Mashun
Masjid
Raya Al – Mashun merupakan salah satu bangunan bersejarah peninggalan Sultan
Deli dan masih dipergunakan oleh masyarakat Muslim untuk sholat seiap hari.
Masjid
Raya Al – Mashun Medan yang berjarak 200 M dari Istana Maimoen dibangun pada
tahun 1906 oleh Sultan Ma’moen Al – Rasjid Perkasa Alamsyah dan dipergunakan
pertama kali pada tanggal 19 september 1909.
Masjid
Raya Al – Mashun Medan yang berjarak 200 M dari Istana Maimoen dibangun pada
tahun 1906 oleh Sultan Ma’moen Al – Rasjid Perkasa Alamsyah dan dipergunakan
pertama kali pada tanggal 19 september 1909.
The
Grand Mosque Al – Mashun
The
Grand Mosque Al – Mashun one of the Sulthan of Deli remains historical
Buildingand it is still used by Moslems for praying daily
The
Grand Mosque Al – Mashun is about two hundred meter far from Maimoen Palace
which was built in 1906 by Sulthan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah and for
the first time used on September 19, 1909.
Masjid yang berbentuk segi delapan ini pada awalnya
dirancang oleh Arsitek Belanda Van Erp yang juga merancang istana Maimun, namun
kemudian proses-nya dikerjakan oleh JA Tingdeman karena Van Erp ditugaskan oleh
pemerintah Hindia Belanda untu bergabung di Jawa Tengah dalam proses restorasi
Candi Borobudur. Saat saya sedang berada di ruangan para imam, saya juga
mendapati hal yang unik dan aneh di ruangan ini. Ruangan ini begitu sejuk dan
senyap yang sangat berbanding terbalik dengan keadaan Kota Medan pada siang
hari yang biasanya sangat panas dan ribut.
Ternyata
setelah berbincang dengan narasumber di sana, saya mendapati bahwa masjid ini
kedap suara, hal ini sungguh mengejutkan bagi saya karena bangunan ini adalah
bangunan yang dibangun 106 tahun lalu yang tentu saja teknologi bidang
konstruksi nya masih belum secanggih sekarang ini, yang lebih mengejutkan saya
lagi, ternyata dalam pembangunan masjid ini, agar semen dapat menjadi kuat,
masjid yang sangat luas ini pembangunannya menggunakan putih telur! Tidak
terbayang berapa banyak telur yang dipakai untuk pembangunan masjid ini.
Dan ada pula sebagian
bahan bangunan yang ternyata untuk mendapatkannya harus diimpor dari negara
lain yaitu berupa marmer yang berasal dari Italia serta Jerman dan kaca patri
dari cina serta lampu gantung yang asli dari perancis.
JA Tingdeman, sang
arsitek merancang masjid ini dengan denah simetris segi delapan dalam corak
bangunan campuran Maroko, Eropa dan Melayu dan Timur Tengah. Denah yang persegi
delapan ini menghasilkan ruang bagian dalam yang unik tidak seperti masjid
masjid kebanyakan.
Di ke empat penjuru
masjid masing masing diberi beranda dengan atap tinggi berkubah warna hitam,
melengkapi kubah utama di atap bangunan utama masjid. Masing masing beranda
dilengkapi dengan pintu utama dan tangga hubung antara pelataran dengan lantai
utama masjid yang ditinggikan, kecuali bangunan beranda di sisi mihrab.

Bangunan
masjidnya terbagi menjadi ruang utama, tempat wudhu, gerbang masuk dan menara.
Ruang utama, tempat sholat, berbentuk segi delapan tidak sama sisi. Pada sisi
berhadapan lebih kecil, terdapat ‘beranda’ serambi kecil yang menempel dan
menjorok keluar.
Jendela-jendela yang mengelilingi pintu beranda
terbuat dari kayu dengan kaca-kaca patri yang sangat berharga, sisa peninggalan
art nouveau periode 1890-1914, yang dipadu dengan kesenian Islam, bahkan,
menurut pengakuan narasumber, masjid ini belum pernah diganti kaca – kacanya
karena sudah tiadanya kaca – kaca seperti kaca yang berada di Masjid ini.
Seluruh ornamentasi di dalam mesjid baik di dinding, plafon, tiang-tiang, dan
permukaan lengkungan yang kaya dengan hiasan bunga dan tumbuh- tumbuhan.
Di depan masing-masing
beranda terdapat tangga. Kemudian, segi delapan tadi, pada bagian luarnya
tampil dengan empat gang pada keempat sisinya, yang mengelilingi ruang sholat
utama.
Gang-gang ini punya
deretan jendela-jendela tak berdaun yang berbentuk lengkungan-lengkungan yang
berdiri di atas balok. Baik beranda dan jendela-jendela lengkung itu
mengingatkan disain bangunan kerajaan- kerajaan Islam di Spanyol pada Abad
Pertengahan. Sedangkan kubah mesjid mengikuti model Turki, dengan bentuk yang
patah-patah bersegi delapan. Kubah utama dikitari empat kubah lain di atas
masing-masing beranda, dengan ukuran yang lebih kecil. Bentuk kubahnya
mengingatkan kita pada Mesjid Raya Banda Aceh.
Di bagian dalam masjid,
terdapat delapan pilar utama berdiameter 0,60 m yang menjulang tinggi untuk
menyangga kubah utama pada bagian tengah. Adapun mihrab terbuat dari marmer
dengan atap kubah runcing. Gerbang mesjid ini berbentuk bujur sangkar beratap
datar. Sedangkan menara mesjid berhias paduan antara Mesir, Iran dan Arab. Di dalam masjid al-mashun ini terdapat Al-qur’an
sumbangan dari Duta besar Belanda dan Pakistan dengan tulisan tangan serta
terjemahan Bahasa Urdu dan Persi.
Ada juga satu rumor lisan
yang berhubungan dengan arsitektur masjid ini yang menyebutkan bahwa Sultan
Delhi biasanya sudah berada di ruangan serambi sebelum salat jum’at di mulai,
sementara tidak ada satupun orang yang melihat Sultan Delhi masuk ke dalam
masjid dari arah luar, sehingga ada dugaan yang menyebutkan bahwa di
ruangan serambi terdapat sebuah jalan menuju terowongan menghubungkan mesjid
Raya Al-Mashun ke Istana Maimoon. Hal menarik yang harus di kaji kebenaran nya
yaitu di ruangan serambi terdapat sebuah lubang berbentuk persegi yang di beri
penutup yang terbuat dari beton. Beberapa orang menyebutkan bahwa lubang itu
dulunya adalah jalan masuk menuju terowongan bawah tanah yang masih
menjadi misteri keberadaan nya.
Sampai saat ini belum ada
yang meneliti lebih dalam lagi mengenai sebuah lubang yang berada di Masjid
Al-Mashun ini, Hal ini karena izin untuk meneliti lubang itu sulit di dapatkan
karena ada kemungkinan bahwa Masjid Al-Mashun ini dilindungi oleh situs
bersejarah.
3. Hubungan antara Masjid Raya Al – Mashun dan Istana
Maimoon
Masjid Raya Al – Mashun
Medan ini tentu tidak dapat dipisahkan dengan Istana Maimoon. Selain jaraknya
yang sangat dekat dan dibangun oleh orang yang sama, yaitu Sultan Deli ke – IX,
kedua bangunan bersejarah yang sangat terkenal ini juga merupakan sama – sama
peninggalan dari kesultanan Deli yang sekarang merupakan tempat wisata
bersejarah. Kedua bangunan ini ramai dikunjungi oleh turis lokal maupun
mancanegara. Jika kita singgah di Masjid Raya Al – Mashun, sungguh ada yang
kurang rasanya jika kita tidak sekalian mengunjungi Istana Maimoon, begitupun
sebaliknya. Istana Maimoon dibangun lebih dulu daripada Masjid Raya Al – Mashun
yaitu di tahun 1888.
Istana Maimoon ini dirancang
oleh arsitek Italia. Istana Maimoon menjadi tujuan wisata bukan hanya karena
usianya yang tua, namun juga desain interiornya yang unik, memadukan
unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan
Italia. Namun sayang, tempat wisata ini tidak bebas dari kawasan Pedagang kaki
lima. Saat saya mengunjungi Istana Maimoon ini, sungguh banyak saya dapati
sampah dari para pedagang kaki lima.
Istana Maimoon memiliki
luas sebesar 2.772 m2 dan 30 ruangan. Istana Maimoon terdiri dari 2 lantai dan
memiliki 3 bagian yaitu bangunan induk, bangunan sayap kiri dan bangunan sayap
kanan. Bangunan istana ini menghadap ke utara dan pada sisi depan terdapat
bangunan Masjid Al-Mashun atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya
Medan. Istana Maimoon tidak seluruhnya dibuka untuk umum melainkan hanya bagian
induknya saja karena selain sebagai tempat wisata, Istana ini juga adalah
merupakan tempat tinggal.
Jika kita berkunjung ke
Istana ini, maka kita akan mendapati banyak informasi – informasi tentang
Kesultanan Deli serta juga silsilah keluarganya. Di samping Istana juga
terdapat bangunan kecil yang berisi Meriam Puntung.

Saya juga sempat melihat
– lihat pada singgasana Sultan yang berada di tengah – tengah ruangan.
Saya juga mendapati bahwa
Istana ini pun memiliki beberapa barang – barang impor yang masih dapat dilihat
beberapa di bagian bangunan induk Istana Maimoon ini. Salah satunya adalah
kursi dari Italia,dan kipas angin dari Belanda.
Ada juga salah satu rumor
yang belum pasti kebenarannya yang menyebutkan akan adanya terowongan bawah
tanah yang menghubungkan Masjid Raya Al – Mashun dan Istana Maimoon.
4. Makam yang berada di kawasan Masjid Raya Al – Mashun
Masjid Raya Al – Mashun
ini juga memiliki makam seperti masjid bersejarah lainnya. Disinilah tempat
para Sultan di makamkan setelah mereka tutup usia. Di Kesultanan Deli ini ada
salah satu tradisi penguburan yang biasa dikatakan “Raja Mangkat Raja Menanam”.
Maksud dan arti dari istiadat ini adalah bahwa jika seorang sultan meninggal,
maka Sultan jugalah yang harus menguburkannya, jasad dari Sultan yang meninggal
belum bisa di kuburkan jika belum dinobatkan seorang Sultan yang baru. Oleh
karena itulah apabila seorang Sultan meninggal maka para keluarga dan anggota
Kesultanan akan secepatnya bermusyawarah dan memilih serta menobatkan Sultan yang
baru. Makam yang ada di masjid ini sungguh banyak, menurut informasi dari
narasumber, tidak semua orang bisa di makamkan di lahan ini, melainkan hanya
keluarga dan kerabat Kesultanan serta orang – orang yang telah diizinkan oleh
Sultan yang sedang memimpin.

Saat saya sedang melihat – lihat, saya juga mendapati
bahwa tiga makam dalam areal berdinding dan berlantai keramik yang merupakan
makan Sultan IX hingga Sultan XI, dua makam yang berada diluar adalah makam
Sultan XII dan XIII sementara tiga makam disampingnya adalah makam ibu dan
istrinya.
5. Berapa dan siapa saja Sultan Deli
Sultan Deli adalah penguasa Kesultanan Deli di
Sumatera Utara, Indonesia. Sultan Deli dipanggil dengan gelar Sri Paduka Tuanku
Sultan. Jika mangkat, sang Sultan akan digantikan oleh putranya. Sultan Deli
sekarang ada sampai Sultan ke – XIV. Adapun nama – nama para sultan itu adalah
:
· Tuanku Panglima Gocah Pahlawan ( 1632-1669 )
Sultan ini tidak diketahui jelas asalnya, ada yang
berkata beliau dari pakistan , dsb.
· Tuanku Panglima Parunggit ( 1669-1698 )
· Tuanku Panglima Padrap ( 1698-1728 )
· Tuanku Panglima Pasutan ( 1728-1761 )
· Tuanku Panglima Gandar Wahid ( 1761 – 1805 )
Ia memerintah dari tahun
1761 sampai tahun 1805. Dibawah pemerintahanya, kedudukan Datuk Empat Suku
semakin kokoh sebagai wakil rakyat karena peranannya semakin nyata sebagai
pengaman rakyat. Raja Deli ke V ini memindahkan pusat pemerintahan ke-hilir
yaitu ke daerah Kampung Labuhan Deli. Hal ini bila diperhatikan dimana
pemindahan kedudukan pemerintahan yang berkali-kali, mulai dari Hulu Deli Tua
hingga ke hilir Labuhan Deli mempunyai tujuan tertentu, yaitu ingin
mengkokohkan wawasan tersebut. Dalam pemerintahan Sultan Deli ke V ini mulai
merintis perdagangan hasil bumi dengan daerah lain. Sultan Deli ke V mangkat
pada tahun 1805 dan digantikan putra ke tiganya.
· Sultan Amaluddin Mangendar Perkasa Alamsyah (
1805-1850 )
Sultan Panglima Amaluddin Mengedar Alam (1805-1850)
adalah Raja Deli ke VI, putra ketiga dari Tuanku Panglima Gandar Wahid, yang
memerintah dari tahun 1805 sampai tahun 1850. Pada masa pemerintahannya
hubungan dan pengaruh Kesultanan Siak lebih kuat dari Kerajaan Aceh; hal ini
ditandai dengan pemberian gelar Sultan kepada Raja Deli, dan Sultan Amaluddin
Mengedar Alam adalah Raja Deli yang pertama yang memakai gelar Sultan. Pada
masa pemerintahannya perdagangan antar daerah semakin terbuka, hubungan laut
mulai dirintis karena kedudukan pemerintahan di Labuhan Deli dekat dengan laut
lepas, sehingga perdagangan hasil bumi semakin lancar. Sultan Amaluddin
Mengedar Alam mangkat pada tahun 1850 dan digantikan oleh putanya.
· Sultan Osman Perkasa Alamsyah ( 1850-1858 )
Pemerintahan
Raja Deli ke VII ini cukup singkat, pada saat Kesultanan Deli yang mendapat pengesahaan
dari Kerajaan Aceh bahwa
Kerajaan Deli merupakan daerah yang berdiri sendiri yang di tandai dengan
diberikannya Pedang (Syamsir) Bawar dan cap Sembilan (MOHOR). Dengan tujuan
mengurangi pengaruh Kesultanan Siak terhadap Kesultanan Deli oleh Sultan Mansyursah
Alaldin Johan dari negeri Aceh, pada masa itu juga Sultan Deli diberi gelar
Perkasa Alam dan diberi Surat Penyerahan Negeri Deli serta daerah taklukannya
dari Kuala Bayan sampai Pasir Putih, kecuali Negeri Bedagai dan Langkat.
Penyerahan
yang dilaksanakan di Istana
Darussalam (Banda Aceh) ini terjadi
pada tahun 1853, dan mulai saat itu raja-raja Deli memekai
Gelar Perkasa Alam, hingga sekarang apa bila penabalan (pengangkatan) sultan, Pedang Bawar ini sebagai Syarat Mutlak dalam prosesi
upacara tersebut. Sultan Osman Perkasa Alamsyah memerintah cukup singkat, ia
diangkat menjadi sultan pada 1850 dan mangkat pada
1858. Yang menjadi catatan pada masa pemerintahan ia adalah ia membangun sebuah
mesjid megah, besar dan permanen pada tahun 1854 hingga kini masih berdiri
sebagai tonggak sejarah yaitu Masjid Al-Osmani di Labuhan Deli. Ia memiliki 31 orang anak yaitu 17
putra dan 14 putri.
· Sultan Mahmud Al Rasyid Perkasa Alamsyah ( 1858-1873 )
Seripaduka Tuanku Sultan Mahmud Al-Rasyid Perkasa Alam
Shah (bertahta 1858-1873) adalah raja Kesultanan Deli yang ke-8. Ia adalah
putra sulung Sultan Osman Perkasa Alam Shah. Ia diangkat menjadi sultan untuk
menggantikan ayahandanya. Sultan Mahmud diangkat menjadi sultan pada tahun 1858
atau pada 4 Rabiul Awal 1275 H.
Gelar
Sultan Mahmud setelah mangkat ialah Marhum Kota Batu. Sultan Mahmud Pekasa Alam
memiliki tiga orang putra dan puteri. Putranya bernama Tengku Ma’mun Al-Rasyid,
dan putri-puterinya bernama Tengku Fatimah dan Tengku Zubaidah. Mamun
puteri-puteri tersebut meninggal dalam usia muda. Sultan Mahmud Perkasa Alam
inilah yang membuat perjanjian dengan pemerintah Belanda yang dinamai Acte van
Verband, yang ditandatangani dan dipatri cap mohornya pada 22 Agustus 1862.
Selama lima belas tahun memerintah, Sultan Mahmud menjalin kerja sama dengan
pihak asing (Belanda, Belgia, Polandia, Inggris, dll.) yang ditandai dengan
kerja sama pembukaan lahan perkebunan tembakau di kerajaan Deli. Diawali oleh
seorang pengusaha tembakau bernama Jakobus Nienhuys, kerja sama dalam
usaha-usaha perkebunan tembakau ia tanda-tangani. Salah satu kontrak terbesar
diberikannya kepada Deli Maatschapij pada tanggal 22 Agustus 1862, yang
wilayahnya terletak di daerah Mabar sampai Deli Tua dan dikenal dengan nama
Mabar Deli Tua kontrak. Daerah Deli kemudian menjadi makmur dan ramai
dikunjungi oleh berbagai bangsa. Sultan Mahmud dapat dianggap sebagai perintis
perkebunan tembakau di wilayah Hindia Belanda. Saat ini, sebagian areal dari
perusahan Perkebunan Nusantara II adalah bekas perkebunan yang dirintis di masa
Sultan Mahmud Perkasa Alam. Pada masa pemerintahannya, Sultan Mahmud membangun
sebuah istana yang dinamakan Istana Kota Batu, tepatnya di depan Mesjid Raya
Al-Osmani Labuhan Deli. Sultan Mahmud mangkat pada tahun 1873 dalam usia 44 tahun,
dan dimakamkan di lingkungan Mesjid Raya Al-Osmani di Labuhan Deli, dan diberi
gelar Marhum Kota Batu.
· Sultan Ma'moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah ( 1873-1924
)
Pada
masa pemerintahan Sultan yang dinobatkan dalam usia muda ini ,perdagangan
tembakau semakin maju dan kemakmuran kesultanan Deli mencapai Puncaknya. Atas
kebijaksanaan Baginda Tuanku itu semasa diatas tahta kerajaan, maka sebagai
balas budi jasa Tuanku itu dikurniakan 2 buah peringkat kehormatan dari
Kerajaan Negeri Belanda. Yaitu Commandeur In De Orde Van Oranje Nassau dan Ridder In De Orde Van De Nederlandsche Leeuw.
Pusat Kerajaan pun dipindahkan ke Medan.
Tuanku Sultan Ma’moen Al-Rasyid Perkasa Alamsyah mendirikan
Istana di Kampung
Bahari pada hari kamis pukul 12 tahun 1886. Kemudian pada 1888
dengan Belanda, Tuanku itu meletakkan sendiri batu pertama untuk membangun
Istana Maimoon.
Tahun
1891 yaitu pada hari Senin tepat pada Pukul 1 tengah hari, Sultan berpindah
dari Istana Kota Bahari ke Istana Maimoon. Hari Sabtu 16 Mei 1903 didirikan
pula sebuah Mahkamah atau Kantor Kerapatan Sultan di jalan raja (sekarang-
Jalan Mahkamah). Juga kemudian pada tanggal 21 Agustus 1906 dimulailah
peletakan batu pertama untuk Mendirikan Masjid
Raya Kota Ma’sum dan
digunakan untuk sholat pertama kalinya yaitu pada hari Jumat 10 September 1909.
Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmatsyah Sultan
Negeri Langkat dan Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah Sultan
Negeri Serdang juga turut hadir dalam Sholat Jumat perdana di Mesjid Raya ini.
Pada masa pemerintahanya Dia banyak membangun fasilitas umum untuk kemajuan
masyarakat dan membangun Mesjid-Mesjid yang berjumlah kurang lebih sebanyak 800
buah demi kepentingan syiar agama Islam pada saat itu. Yang mulia Mangkat pada
tahun 1924, meninggalkan 3 orang putra dan 5 orang putri. Almarhum dimakamkan
di Masjid Raya Kota Ma’sum, Medan.
·
Sultan
Amaluddin Al Sani Perkasa Alamsyah ( 1924-1945 )
Sultan
Amaluddin Al Sani Perkasa Alamsyah ( 1924-1945 )
Sultan
Amaluddin Sani Perkasa Alamsyah (1924-1945) adalah raja Kesultanan Deli ke-10. Gelarnya setelah
mangkat ialahMarhum Rahimullah.
Pada
hari Senin 3 Juli 1893 pukul 10 pagi. Dengan upacara adat yang qanun
dipersilahkanlah Tengku Amaluddin itu naik keatas pelaminan 7 tingkat di
Balairung Istana Maimoon. Kemudian ditembakkan Meriam 12 das sebagai tanda
resminya gelar Tengku Besar dari Ayahandanya ketika dia masih berusia 16 tahun.
6 tahun berselang, Almarhum Sultan Ma’moen Al Rasyid berikhitar untuk
menikahkan Tengku Besar. Oleh karena kebijaksanaan dan keadilan Baginda pada 31
Agustus, Baginda kembali mendapat peringkat kehormatan Ridder In De Orde Van
Nederlandsche Leeuw dari kerajaan Belanda. Bertepatan dengan 22 Agustus 1937
genaplah 75 tahun hari penandatanganan ACTE VAN VERBAND yang dahulu
ditandatangani oleh Atoknda baginda Almarhum Sultan Mahmud Al-Rasyid Perkasa
Alam. Untuk itu diadakanlah Keramaian besar di Istana Maimoon dan oleh Tengku
Haji Achmad Hayat (Bentara Kiri) Ibni Almarhum Tengku Al Haji Ja’far (bekas
Tengku Bendahara Negeri Deli) dikaranglah buku “Perayaan Ulang Tahun Kerajaan
Deli” . Segala lapisan rakyat datang memberikan persembahan. Hal ini
menunjukkan bahwasanya Tuanku Sultan Amaluddin sangat disenangi oleh
rakyat-rakyatnya.
· Sultan Osman Al Sani Perkasa Alamsyah ( 1945-1967 )
Sultan
Osman Al-Sani Perkasa Alamsyah dilahirkan pada 20 Agustus 1900
dengan nama Tengku Otteman di Istana Maimoon. 20 Desember berangkat ke Betawi
untuk bersekolah lalu kembali ke Deli pada 1918. Kemudian pada tahun 1924 Dia
dititah oleh Paduka Ayahandanya Sultan Amaluddin Sani Perkasa Alamsyah untuk
bekerja di pejabat (Kantor) Tuanku Sultan. Sultan Osman Al-Sani Perkasa
Alamsyah memerintah antara 1945-1967. Gelar setelah mangkat adalah Marhom
Tawakkallah.
Ketika sampai usia
Tengku Otteman itu 25 tahun, Paduka ayahandanya berikhtiar untuk
memperistrikannya. 7 Mei 1925 dilangsungkanlah pernikahan di antara Tengku
Otteman dengan Raja Amnah putri dari Raja Chulan Raja Dihilir Negeri Perak
(Malaysia), pernikahan itu berlangsung Agung di dua kerajaan, di deli dan di
Perak. Setahun setelah itu pada tanggal 12 Maret, Gubernur Jendral Hindia
Belanda mengeluarkan Besluit (Surat Resmi) yang menetapkan Tengku Otteman
sebagai Tengku Mahkota. Sultan Osman Al-Sani Perkasa Alamsyah mangkat pada
Usia 67 di Kuala Lumpur Malaysia dan di makamkan di Komplek Pemakaman Sultan
Deli di Mesjid Raya Al Mashun Medan.
· Sultan Azmy Perkasa Alamsyah Alhaj ( 1967-1998 )
Sultan Azmi Perkasa Alam (1936 - 1998)
adalah Sultan Deli ke-12. Ia lahir pada tahun 1936. Sultan Azmi Perkasa Alam
menggantikan Kedudukan Ayahndanya Sebagai Sultan Deli dan Penguasa tertinggi
Adat-Istiadat Melayu deli pada tahun 1967.Sebagai Sultan Deli ke XII selain
sebagai Kepala Adat juga duduk sebagai unsur berbagai Organisasi Sosial
,Pendidikan dan Budaya juga duduk sebagai anggota DPR/MPR RI selama dua priode,
sebagai catatan
Dia
juga sebagai salah seorang pendiri Universitas Amir Hamzah.Sultan Azmi Perkasa
Alam mangkat di Jakarta pada tanggal 4 Mei 1998 pada usia 62 tahun dan di
makamkan di Komplek Pemakaman Sultan di areal Mesjid Raya Al Mashun Medan.
· Sultan Otteman Mahmud Perkasa Alamsyah ( 5 Mei 1998–21
Juli 2005 )
Sultan
Deli ke-13 ini lahir pada 30 Agustus 1966 di Kuala Lumpur, Malaysia. Ia merupakan anak kedua dari 3
bersaudara.
Otteman tidak dapat
sepenuhnya memimpin pelaksanaan adat yang berlaku di Negeri Deli sebagaimana
yang telah dilakukan oleh para pendahulunya. Hal ini disebabkan tugasnya
sebagai TNI. Oleh karena itu seluruh kewajiban di Deli
sementara waktu diwakilkan kepada wakilnya beserta Datuk
Empat Suku.
Dari pernikahannya
dengan Ir. Hj. Siska Marabintang, dia memperoleh dua orang anak, Aria Lamanjiji dan Zulkarnain Otteman
Mangendar Alam. Ia menamatkan pendidikan militer pada tahun 1989 di Akademi
Militer Magelang, dan ditempatkan di Kodam VII Wirabuana. Jabatan terakhir yang
disandangnya adalah Komandan Batalyon Infanteri 312/Kala Hitam di Subang, Jawa
Barat. selama karier militernya, ia mendapat Bintang Jasa antara lain : SL
SEROJA, SL GOM RAKSAKA DARMA, SL DWIYA SISTHA, SL KESETIAAN VIII TAHUN, SL
DARMA NUSA
Ketika
wafatnya, Otteman telah bertugas selama 10 bulan di Langsa, Aceh. Pada saat itu
ia berpangkat Mayor (Inf) dan bertugas di Kodam VII Wirabuana Sulawesi.
· Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alamsyah ( 22 Juli
2005–saat ini )
Seripaduka
Baginda Tuanku Sultan Mahmud Arya Lamanjiji Perkasa Alam atau cukup
disingkat Tuanku Aji (lahir di Makassar,Sulawesi Selatan, 17 Agustus 1997;
umur 17 tahun) adalah Sultan Deli ke-14
yang memerintah sejak 22 Juli 2005.
Dia adalah Sultan Deli termuda dalam sejarah. Sultan termuda sebelumnya
adalah Sultan Ma'moen Al
Rasyid (1873-1924) yang diangkat saat
berusia 15 tahun.
berusia 15 tahun.
Karena
belum akil balik atau belum dewasa menurut
ajaran Islam, tampuk kepemimpinan akan dipegang oleh
paman ayahnya, Tengku Hamdy Osman Delikhan Al Haj gelar Tengku Raja Muda Deli
Sebelum
diangkat menjadi Sultan, Lamanjiji sedang bersekolah di sebuah SD di Jawa Barat.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Adapun
kesimpulan yang saya dapatkan dari observasi yang telah saya lakukan ini
adalah bahwa Masjid Raya Al – Mashun Medan dan Istana Maimun adalah salah
satu peninggalan bersejarah bercorak islam yang dibangun pada abad ke – 19
akhir dan abad ke – 20 awal yaitu pada tahun 1888 dan pada tahun 1906, kedua
situs bersejarah ini adalah peninggalan – peninggalan dari Sultan Deli ke IX
yang berlokasi di kota Medan provinsi Sumatera Utara. Kedua tempat ini adalah
salah ikon kota medan yang terkenal dengan gaya arsitekturnya yang indah dan
berkelas karna melibatkan bahan – bahan material dan juga arsitek dari berbagai
belahan dunia. Namun sayang, kesadaran rakyat, turis, dan pemerintah setempat
dalam menjaga kedua tempat ini sangat memprihatinkan.
B. SARAN
Setelah berkunjung ke dua tempat yang telah saya sebutkan tadi, saya
mendapati ada beberapa hal yang mengganggu pikiran saya, adapun saran – saran
yang dapat saya kemukakan untuk menangani hal – hal tersebut antara lain :
1. Perawatan bagi kedua tempat bersejarah ini, saat saya
mendatangi kedua tempat ini, saya mendapati bahwa banyak sekali properti yang
telah hancur dan tidak bisa digunakan lagi serta sampah dan rumput liar di
halaman sekeliling masjid dan Istana Maimun. Menurut saya, seharusnya tempat –
tempat bersejarah seperti kedua tempat itu harus benar – benar dirawat karna
tempat – tempat itulah yang menjadi aset kita dan juga bisa memberikan
pendapatan kepada negara kita.
2. Penertiban pedagang kaki lima, saya sadar bahwa jika
menggusur berarti menghilangkan sumber rezeki mereka, namun mereka juga
harusnya menyadari bahwa kehadiran mereka yang tidak teratur memberikan kesan
tidak enak dipandang dan juga mengganggu akses keluar masuk khususnya dari
Masjid Raya yang mulai merapat ke arah gerbang masuk sehingga menyulitkan untuk
masuk, ada baiknya jika mereka ditertibkan oleh pemerintah.
No comments:
Post a Comment