1.SEJARAH OLAHRAGA BOLA
BASKET DI DUNIA
Sejarah bola basketdimulai ketika Dr. James Naismith datang dengan memainkan
bola basket pada tahun 1892 dan memulai pertandingan pertama pada sebuah
kompetisi bola basket yang dimainkan di Beaver Falls Pennsylvania,
Amerika Serikat pada 8 April 1893 antara New Brighton YMCA dan Geneva College.
Dalam
perkembangannya permainan ini sangat populer dan pada tahun 1914 sebanyak 360
perguruan tinggi membuat tim basket yang diproyeksikan untuk pertandingan bola basket
antar perguruan tinggi. Pada tahun 1939, untuk kali pertama NCAA College
Basketball Championship turnamen (turnamen bola basket antar perguruan tinggi
paling popular didunia sampai sekarang) diadakan yang dimenangkan oleh
University of Oregon.
Tim basket
profesional pertama di dunia terbentuk pada tahun 1896, tim tersebut muncul
ketika terjadi sengketa antara anggota tim YMCA dan pejabat pengurus dari tim
YMCA dengan terjadinya konflik tersebut, berakhir pada pembentukan
anggota tim profesional yang bermain serta digaji secara profesional. Pada
tahun 1898, NBL (National Basketball League) dibentuk dan banyak melahirkan
bintang-bintang basket pertama didunia antara lain - Ed Wachter dan
Barney Sedran.
Dua tim bola
basket profesional saat itu yang paling kompetitif untuk memperebutkan gelar
juara adalah Buffalo Germans dan Celtics, tetapi selama tahun 1930-an
banyak tim baru bermunculan termasuk tim favorit juara lainya yaitu New York
Renaissance dan Harlem Globetrotters. Selama beberapa dekade tersebut , bola
basket wanita juga populer dan menghasilkan beberapa pemain besar seperti babe
Didrikson dan Bank Alline Sprouse.
Pada tahun 1940, pertandingan pertama bola basket disiarkan pada salah satu stasiun TV, yang menyiarkan pertandingan antara Pittsburgh dan Fordham bertempat di Madison Square Garden, yang membuat lompatan besar dalam sejarah perkembangan permainan bola basket didunia. Sejak saat itu basket telah menjadi salah satu olahraga yang paling banyak ditonton dan digemari oleh banyak orang didunia, ketika hampir 350 perguruan tinggi Amerika bersaing untuk memperebutkan gelar mahkota turnamen bola basket NCAA itu adalah salah satu moment tertinggi tentang antusiasnya para mahasiswa akan olahraga bola basket saat itu.
Beralih ke sejarah bola basket professional , pada tahun 1940 sampai 1950an. Minneapolis Lakers merupakan tim basket professional yang paling terkenal saat itu karena telah memenangkan 5 gelar kejuaraan NBA dan melahirkan pemain pemain hebat seperti Bob Cousy dan Bob Pettit. Tetapi selama tahun 1950-an sampai tahun 1969, Celtics mengambil alih dominasi Minneapolis Lakers dengan memenangkan 11 gelar NBA dengan 8 gelar secara beturut-turut. Pada dekade ini banyak pemain pemain bintang bermunculan salah satunya adalah Bill Russell dan wilt Chamberlin dari Philadelphia Warriors.
Pada tahun 1940, pertandingan pertama bola basket disiarkan pada salah satu stasiun TV, yang menyiarkan pertandingan antara Pittsburgh dan Fordham bertempat di Madison Square Garden, yang membuat lompatan besar dalam sejarah perkembangan permainan bola basket didunia. Sejak saat itu basket telah menjadi salah satu olahraga yang paling banyak ditonton dan digemari oleh banyak orang didunia, ketika hampir 350 perguruan tinggi Amerika bersaing untuk memperebutkan gelar mahkota turnamen bola basket NCAA itu adalah salah satu moment tertinggi tentang antusiasnya para mahasiswa akan olahraga bola basket saat itu.
Beralih ke sejarah bola basket professional , pada tahun 1940 sampai 1950an. Minneapolis Lakers merupakan tim basket professional yang paling terkenal saat itu karena telah memenangkan 5 gelar kejuaraan NBA dan melahirkan pemain pemain hebat seperti Bob Cousy dan Bob Pettit. Tetapi selama tahun 1950-an sampai tahun 1969, Celtics mengambil alih dominasi Minneapolis Lakers dengan memenangkan 11 gelar NBA dengan 8 gelar secara beturut-turut. Pada dekade ini banyak pemain pemain bintang bermunculan salah satunya adalah Bill Russell dan wilt Chamberlin dari Philadelphia Warriors.
Pada tahun 1967
American Basketball Association (ABA) dibentuk dan banyak yang akan mengingat
salah satu pemain hebat saat itu adalah Julius Erving serta kompetisi tersebut
yang menggunakan bola basket berwarna putih, biru dan merah. ABA hanya
berlangsung sampai tahun 1976 ketika itu bubar dan banyak tim yang memilih
bergabung dengan NBA.
Pada tahun 1960, bola basket wanita resmi diperkenalkan dengan format bermain yang sama dengan bola basket laki laki pada umumnya dengan jumlah pemain 5 dan peraturan yang sedikit melonggarkan dribbling, akan tetapi hal itu tidak sampai tahun 1985, karena pada saat itu mulai bermunculan pelatih perempuan dan pemain professional perempuan. Beberapa perempuan hebat dalam bidang bola basket dan turut dalam sejarah perkembangan bola basket wanita mendapatkan kehormatan, antara lain adalah Carol Blazejowski, Ann Meyers, Cheryl Miller, Nancy Lieberman-Cline dan Anne Donovan.
Pada tahun 1960, bola basket wanita resmi diperkenalkan dengan format bermain yang sama dengan bola basket laki laki pada umumnya dengan jumlah pemain 5 dan peraturan yang sedikit melonggarkan dribbling, akan tetapi hal itu tidak sampai tahun 1985, karena pada saat itu mulai bermunculan pelatih perempuan dan pemain professional perempuan. Beberapa perempuan hebat dalam bidang bola basket dan turut dalam sejarah perkembangan bola basket wanita mendapatkan kehormatan, antara lain adalah Carol Blazejowski, Ann Meyers, Cheryl Miller, Nancy Lieberman-Cline dan Anne Donovan.
Pada akhir tahun
1970-an awal menjadi awal berkembangnya bola basket modern sampai seperti
sekarang ini dengan bintangnya saat itu Larry Bird dari Indiana State
University dan salah satu pemain legendaries dari Michigan State Universitas
Magic Johnson muncul dan akhir 1980-an. Serta pada decade tersebut kita bisa
melihat pemain utama seperti Isiah Thomas dan Dennis Rodman. Tapi mungkin
pemain yang paling dicintai dari semua penggila bola basket di dunia termasuk
saya adalah Michael Jordan yang membawa Chicago Bulls enam kali juara NBA pada
dekade 1990-an.
2.SEJARAH TG.BALAI KARIMUN
Chi ke Wan atau
yang lebih di kenal dengan Karimun sudah sejak lama disebut dalam catatan
sejarah,bahkan catatan sejarah yang paling kuno ditemukan di Karimun adalah
berupa batu bersurat (prasasti) yang ditemukan di Desa Pasir Panjang, untuk
kemudian batu bersurat tersebut terkenal dengan sebutan Prasasti Pasir Panjang.
Dalam Prasasti
Pasir Panjang yang ditemukan di Desa Pasir Panjang Kecamatan Meral Kabupaten
Karimun, terungkap beberapa catatan penting yang cukup kuat untuk menjadi
rujukan, yaitu tentang masuknya agama Budha di Karimun, yang berarti
menunjukkan telah terjadinya interaksi yang sangat intens antara penduduk
Karimun beserta pulau-pulau disekitarnya dengan Cina yang terjadi sekitar abad
9 – 10 M (Tahun 800 – 900 Masehi) hal ini sebagai mana diungkapkan oleh DR. J.
Brandes yang berhasil mentranskripsi dan menterjemahkan Prasasti Pasir Panjang
sebagai prasasti yang dipahat menggunakan aksara nagari yang berasal dari abad
9 – 10 M (Brandes 193:21).
Sudah barang
tentu ada peristiwa yang sangat penting ketika itu yang melatar belakangi
terjalinnya hubungan masyarakat di Karimun dengan Cina berabad tahun yang
silam. Bahwa ketika itu Pulau Karimun berada dalam wilayah kekuasaan
Kerajaan Sriwijaya dan bahkan Sriwijaya mendirikan pos penjagaan di Pulau
Karimun tepatnya di Pasir Panjang guna mengamankan jalur pelayaran dan
perdagangan selat malaka yang akan menuju Sriwijaya. Sriwijaya menurut catatan
Jt-Tsing (pengelana Cina) memeluk agama Budha, bahkan di pusat kota tidak
kurang 1000 orang pendeta Budha bermukim disana, hal ini sudah barang tentu
berpengaruh kepada agama yang dipeluk penduduk Karimun, yang letaknya memang
sangat strategis yaitu berada di ujung selatan Selat Malaka. Sehingga para
musafir dan pelaut yang melintasi Selat Malaka kearah selatan akan dengan mudah
menyinggahi Pulau Karimun.
Karimun
dipandang sebagai daerah yang sangat berbahaya dan di takuti oleh setiap
pelayar dan pedagang yang akan melintasi ujung selatan Selat Malaka. Hal ini
dikarenakan hampir disepanjang Pulau Karimun dan jajaran pulau-pulau
disekitarnya dijadikan basis operasional bajak laut. Dan bahkan menurut catatan
Fa-Hsieu (seorang pengelana Cina), aktifitas bajak laut ini telah berlangsung
sejak abad ke – 4 M. Tao-I Chih (juga seorang pengelana China) yang
pernah mengunjungi daerah Kepulauan Riau pada tahun 1330 – 1340 kembali
memperkuat hal ini yang menyatakan daerah Chi ke Wan (Karimun) menjadi daerah
basis bajak laut yang memiliki pasukan berjumlah cukup besar yaitu terdiri dari
200 – 300 pasukan. Dan dalam perkembangan selanjutnya para bajak laut ini yang
sebagian besar merupakan penduduk asli Suku Laut yang berasal dari Pulau
Karimun dan pulau-pulau sekitarnya, menduduki wilayah Kerajaan Tumasik
(berpusat di Selat Tumasek, Singapura sekarang) yang ditinggalkan oleh Raja
Parameswara yang mengungsi ke Muar akibat penyerangan Kerajaan Majapahit. Suku
laut ini juga menduduki daerah sekitar Malaka dan ketika Raja Parameswara
pindah ke Malaka maka ia disambut oleh masyarakat suku laut disana dan
bersepakat dengan masyarakat suku laut bersama puak-puaknya yang dikenal dengan
Batin dan Lenang untuk menjadi penyangga berdirinya Kerajaan Malaka untuk
sama-sama membangun dan memajukan Malaka menjadi kota yang ramai sebagai pusat
perdagangan antar negara, dengan Parmeswara sebagai rajanya (1389-1414).
Seiring semakin
pesatnya perkembangan Malaka yang wilayahnya mencakupi daerah Karimun, telah
terjadi juga interaksi dengan para pedagang dari Arab dan Persia, dimana selain
berdagang juga membawa misi penyebaran Agama Islam, maka hal ini sangat
menggugah hati Parameswara, maka pada tahun 1414 ia beralih memeluk agama Islam
dan berganti nama Iskandar Syah dan bergelar Sultan. Hal ini juga diikuti oleh
hampir seluruh rakyatnya, termasuk penduduk Karimun.
Setelah itu,
Runtuhnya Kerajaan Malaka akibat gempuran Portugis pada tahun 1511, maka Sultan
Mahmud Syah – sebagai penerus dari Sultan Iskandar Syah – mendirikan Kerajaan
Johor yang berpusat di Johor dan Bintan. Dua pusat kerajaan ini berada pada
lingkaran gugusan pulau-pulau di Karimun yang dikenal juga sebagai pusat
konsentrasi suku laut sebagai benteng pertahanan kekuatan angkatan laut
kerajaan.
Ada peristiwa
penting yang menunjukkan eksistensi dan kekuatan angkatan laut kerajaan yang
bermarkas di Kepulauan Karimun, yaitu pada tahun 1637, armada kekuatan angkatan
laut Kerajaan Johor dalam sebuah pertempuran yang cukup sengit telah berhasil
merampas kapal-kapal Portugis dan berhasil mengalahkan sepasukan Kapal Aceh
yang sedang dalam pelayaran ke Pahang.
Pada tahun 1689
dalam rangka untuk meningkatkan kemakmuran dan stabilitas keamanan dan politik
maka diadakan suatu perjanjian antara kerajaan Johor dengan Belanda. Namun
perjanjian tersebut ternyata membawa konsekuensi semakin bebasnya orang
Belanda untuk berdagang diseluruh wilayah kerajaan Johor termasuk Kepulauan Karimun,
yang pada akhirnya menyebabkan kerugian bagi kalangan rakyat pribumi, karena
Belanda memonopoli perdagangan.
Alur sejarah
kemudian berganti, pada tahun 1722 Kerajaan Johor berganti nama menjadi
Kerajaan Riau-Lingga dengan daerah kekuasaan yang sama, hanya ibu kota kerajaan
saja yang berpindah dari Johor ke Ulu Riau. Sebagaimana kebiasaan yang turun
temurun, maka nama kerajaan disesuaikan dengan nama daerah pusat
pemerintahannya.
Perjalanan
sejarah Kerajaan Riau-Lingga dari tahun 1722-1784, yaitu terjadi perkembangan
yang sangat pesat dari sektor perdagangan. Sehingga roda ekonomi menggeliat
luar biasa didaerah ini, terutama didaerah Karimun dengan Pulau Kundurnya
sebagai penghasil gambir terbesar kerajaan ketika itu. Sebagai mana diketahui,
gambir ketika itu menjadi komoditi primadona dan banyak dicari oleh
pedagang-pedagang dari India, China, Siam, Jawa dan Bugis. Dengan pesatnya
perkembangan perdagangan didaerah Kerajaan Riau-Lingga maka terjadi persaingan
antar Inggris dengan Belanda untuk menanamkan pengaruhnya dalam kerajaan. Maka
pada tanggal 17 Maret 1824 lahirlah sebuah perjanjian antara Inggris dan
Belanda yang dikenal dengan Traktat London.
Dalam Traktat
London, antara Inggris dan Belanda menyepakati untuk membagi wilayah kekuasaan
Kerajaan Riau-Lingga menjadi dua bagian yaitu, Tanah Semenanjung (termasuk
Malaka) dan Singapura menjadi daerah pengaruh Inggris, sedangkan Kepulauan Riau
dan Lingga menjadi daerah pengaruh Belanda. Bahkan demikian pentingnya posisi
Pualau Karimun maka dalam Traktat London itu disebutkan dalam point keempatnya
yang berbunyi; ”Pulau Karimun dan Pulau Buru yang letaknya sangat dekat dengan
Singapura termasuk dalam wilayah kekuasaan Riau-Lingga,” yang artinya berada
dibawah pengaruh Belanda.
Kondisi ini
sangat tidak menguntungkan bagi jalannya stabilitas pemerintahan di kerajaan
Riau-Lingga, sehingga konflik terjadi silih berganti dan baik Belanda maupun
Inggris menjalankan politik adu dombanya, yang menyebabkan perang saudara
terjadi. Maka pecahlah Perang Karimun pada tahun 1827, antara pasukan yang di
Pertuan Muda Raja Ja’far yang berpusat di Hulu Riau dengan Sultan Husin yang
berpusat di Singapura. Konflik ini dipicu oleh ketidak setujuan Sultan Husin
menyerahkan Karimun ke tangan Belanda sementara yang di Pertuan Muda Riau VI
Raja Ja’far (1808-1832) telah memberitahukan kepada Sultan Husen (berdasarkan
traktat London), bahwa Pulau Karimun tersebut bukanlah daerah takluk Johor atau
daerah takluk Sultan Husen, oleh karenanya mereka tidak berhak mendiami pulau
tersebut.
Dengan konflik
yang berkepanjangan, menyebabkan Pulau Karimun tidak kondusif untuk aktifitas
perdagangan dan mulai ditinggalkan. Keadaan Karimun yang demikian dilaporkan
kepada yang di Pertuan Muda Riau, dan oleh beliau sepakat menyerahkan Pulau
Karimun Kepada Raja Abdullah bin Raja Haji Ahcmad, serta diangkat menjadi Amir
Karimun pertama. Semenjak saat itu stabilitas Karimun mulai pulih, kemudian
datang seorang Resident Belanda bernama Fandenbosch yang meminta izin untuk
membuka tambang timah, dan diizinkan dengan dibuatkan perjanjian dengan pihak
kerajaan. Maka oleh Fandenbosch di Pulau Karimun di buka tambang timah yang
diberi nama Monos. Sehingga tidak lama kemudian keadaan Pulau Karimun menjadi
ramai. Meskipun pada dasarnya penambangan itu hanya menguntungkan pihak
Belanda.
Hingga
meletuslah perang Asia Timur Raya pada akhir tahun 1941 yang dicetus oleh
Jepang. Dan Jepang masuk kewilayah Karimun setelah penaklukan Singapura tanggal
15 Februari 1942 oleh Jepang dari Inggris, selanjutnya penaklukan Tanjungpinang
pada tanggal 21 Februari 1492. dan setelah itu Pulau Karimun. Sejak saat itu
pemuda-pemuda Karimun yang tersebar di Pualu Moro, Kundur, Meral, Buru, dan
Karimun sendiri terlibat dalam Pasukan Gyutai tentara Jepang, yaitu pasukan
yang bertugas mengawal pulau-pulau. Sehingga bagi masyarakat Karimun dan
Kepulauan Riau umumnya tidak ada pengerahan tenaga kerja paksa (Romusha).
Hingga kemudian
pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu, maka Indonesia
dinyatakan merdeka dan memproklamirkan kemerdekaannya pada Tanggal 17 Agustus
1945.
Pada masa
kemerdekaan Kepulauan Karimun terus berbenah hingga pada tanggal 15 Mei 1999
terjadi musyawarah besar seluruh rakyat Kepulauan Riau yang menuntut pemekaran
wilayah menjadi provinsi sendiri terpisah dari Provinsi Riau, hal ini menuntut
untuk terjadinya pemekaran daerah yang berujung pada Kepulauan Karimun yang
mencakup Kecamatan Karimun, Kecamatan Moro dan Kecamatan Kundur harus menjadi
sebuah Kabupaten. Akhirnya gayungpun bersambut dengan diterbitkannya UU No. 53
Tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Karimun, bersama 35 Kabupaten lainnya
diseluruh Indonesia yang disahkan oleh Presiden pada tanggal 4 Oktober 1999 dan
Kabupaten Karimun diresmikan oleh Mendagri pada tanggal 12 Oktober 1999 serta
melantik pejabat Bupati Kabupaten Karimun Drs. H.M Sani, dan tercatat sebagai
bupati pertama Kabupaten Karimun. Sejak saat itu geliat pembangunan Kabupaten
karimun terus meningkat. Dan saat ini Karimun dikenal sebagai daerah industri
kapal (galangan kapal), pertambangan (batu geranit, pasir dan timah),
pertanian, perikanan dan pariwisata.
Sumber :
3.SEJARAH
CANDI BOROBUDUR
A.PEMBANGUNAN
Lukisan
karya G.B. Hooijer (dibuat kurun 1916—1919) merekonstruksi suasana di Borobudur
pada masa jayanya
Tidak ditemukan bukti tertulis yang menjelaskan siapakah
yang membangun Borobudur dan apa kegunaannya Waktu pembangunannya diperkirakan
berdasarkan perbandingan antara jenis aksara yang tertulis di kaki tertutup
Karmawibhangga dengan jenis aksara yang lazim digunakan pada prasasti kerajaan
abad ke-8 dan ke-9. Diperkirakan Borobudur dibangun sekitar tahun 800 masehi.
Kurun waktu ini sesuai dengan kurun antara 760 dan 830 M, masa puncak
kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah, yang kala itu
dipengaruhi Kemaharajaan Sriwijaya. Pembangunan Borobudur diperkirakan menghabiskan waktu 75 -
100 tahun lebih dan benar-benar dirampungkan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825.
Terdapat kesimpangsiuran fakta mengenai apakah raja yang
berkuasa di Jawa kala itu beragama Hindu atau Buddha. Wangsa Sailendra
diketahui sebagai penganut agama Buddha aliran Mahayana yang taat, akan tetapi
melalui temuan prasasti Sojomerto menunjukkan bahwa mereka
mungkin awalnya beragama Hindu Siwa. Pada kurun waktu itulah dibangun
berbagai candi Hindu dan Buddha di Dataran Kedu. Berdasarkan Prasasti Canggal, pada tahun 732 M, raja beragama Siwa Sanjaya memerintahkan pembangunan
bangunan suci Shiwalingga yang dibangun di perbukitan
Gunung Wukir, letaknya hanya 10 km (6.2 mil) sebelah timur dari
Borobudur. Candi Buddha Borobudur dibangun pada kurun waktu yang hampir
bersamaan dengan candi-candi di Dataran Prambanan, meskipun demikian Borobudur diperkirakan sudah rampung
sekitar 825 M, dua puluh lima tahun lebih awal sebelum dimulainya pembangunan
candi Siwa Prambanan sekitar tahun 850 M.
Pembangunan candi-candi Buddha — termasuk Borobudur — saat
itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran memberikan izin kepada umat Buddha untuk membangun
candi. Bahkan untuk menunjukkan penghormatannya, Panangkaran menganugerahkan
desa Kalasan kepada sangha (komunitas Buddha), untuk
pemeliharaan dan pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun untuk memuliakan Bodhisattwadewi Tara, sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Kalasan berangka tahun 778 Masehi. Petunjuk ini dipahami oleh
para arkeolog, bahwa pada masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah menjadi
masalah yang dapat menuai konflik, dengan dicontohkan raja penganut agama Hindu
bisa saja menyokong dan mendanai pembangunan candi Buddha, demikian pula
sebaliknya. Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua wangsa kerajaan
pada masa itu — wangsa Syailendra yang menganut Buddha dan wangsa Sanjaya yang
memuja Siwa — yang kemudian wangsa Sanjaya memenangi pertempuran
pada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko. Ketidakjelasan juga timbul mengenai candi Lara Jonggrang
di Prambanan, candi megah yang dipercaya
dibangun oleh sang pemenang Rakai Pikatan sebagai jawaban wangsa Sanjaya untuk
menyaingi kemegahan Borobudur milik wangsa Syailendra, akan tetapi banyak pihak
percaya bahwa terdapat suasana toleransi dan kebersamaan yang penuh kedamaian
antara kedua wangsa ini yaitu pihak Sailendra juga terlibat dalam pembangunan
Candi Siwa di Prambanan.
B.TAHAPAN
PEMBANGUNAN BOROBUDUR
Para ahli arkeologi menduga bahwa rancangan awal Borobudur
adalah stupa tunggal yang sangat besar memahkotai puncaknya. Diduga massa stupa
raksasa yang luar biasa besar dan berat ini membahayakan tubuh dan kaki candi
sehingga arsitek perancang Borobudur memutuskan untuk membongkar stupa raksasa
ini dan diganti menjadi tiga barisan stupa kecil dan satu stupa induk seperti
sekarang. Berikut adalah perkiraan tahapan pembangunan Borobudur:
1.
Tahap
pertama: Masa
pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan kurun 750 dan 850
M). Borobudur dibangun di atas bukit
alami, bagian atas bukit diratakan dan pelataran datar diperluas. Sesungguhnya
Borobudur tidak seluruhnya terbuat dari batu andesit, bagian bukit tanah
dipadatkan dan ditutup struktur batu sehingga menyerupai cangkang yang
membungkus bukit tanah. Sisa bagian bukit ditutup struktur batu lapis demi
lapis. Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang
sebagai piramida berundak, tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun
yang dibongkar. Dibangun tiga undakan pertama yang menutup struktur asli
piramida berundak.
2.
Tahap
kedua:
Penambahan dua undakan persegi, pagar langkan dan satu undak melingkar yang
diatasnya langsung dibangun stupa tunggal yang sangat besar.
3.
Tahap
ketiga: Terjadi
perubahan rancang bangun, undak atas lingkaran dengan stupa tunggal induk besar
dibongkar dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa yang lebih kecil
dibangun berbaris melingkar pada pelataran undak-undak ini dengan satu stupa
induk yang besar di tengahnya. Karena alasan tertentu pondasi diperlebar,
dibangun kaki tambahan yang membungkus kaki asli sekaligus menutup relief
Karmawibhangga. Para arkeolog menduga bahwa Borobudur semula dirancang berupa
stupa tunggal yang sangat besar memahkotai batur-batur teras bujur sangkar.
Akan tetapi stupa besar ini terlalu berat sehingga mendorong struktur bangunan
condong bergeser keluar. Patut diingat bahwa inti Borobudur hanyalah bukit
tanah sehingga tekanan pada bagian atas akan disebarkan ke sisi luar bagian
bawahnya sehingga Borobudur terancam longsor dan runtuh. Karena itulah
diputuskan untuk membongkar stupa induk tunggal yang besar dan menggantikannya
dengan teras-teras melingkar yang dihiasi deretan stupa kecil berterawang dan
hanya satu stupa induk. Untuk menopang agar dinding candi tidak longsor maka
ditambahkan struktur kaki tambahan yang membungkus kaki asli. Struktur ini
adalah penguat dan berfungsi bagaikan ikat pinggang yang mengikat agar tubuh
candi tidak ambrol dan runtuh keluar, sekaligus menyembunyikan relief
Karmawibhangga pada bagian Kamadhatu
4.
Tahap
keempat: Ada
perubahan kecil seperti penyempurnaan relief, penambahan pagar langkan terluar,
perubahan tangga dan pelengkung atas gawang pintu, serta pelebaran ujung kaki.
C.BOROBUDUR
DITERLANTARKAN
Borobudur tersembunyi dan terlantar selama berabad-abad
terkubur di bawah lapisan tanah dan debu vulkanik yang kemudian ditumbuhi pohon
dan semak belukar sehingga Borobudur kala itu benar-benar menyerupai bukit.
Alasan sesungguhnya penyebab Borobudur ditinggalkan hingga kini masih belum
diketahui. Tidak diketahui secara pasti sejak kapan bangunan suci ini tidak
lagi menjadi pusat ziarah umat Buddha. Pada kurun 928 dan 1006, Raja Mpu Sindok memindahkan ibu kota kerajaan Medang ke kawasan Jawa Timur setelah serangkaian letusan gunung berapi; tidak dapat
dipastikan apakah faktor inilah yang menyebabkan Borobudur ditinggalkan, akan
tetapi beberapa sumber menduga bahwa sangat mungkin Borobudur mulai
ditinggalkan pada periode ini.[6][18] Bangunan suci ini disebutkan secara samar-samar
sekitar tahun 1365, oleh Mpu Prapanca dalam naskahnya Nagarakretagama yang ditulis pada masa kerajaanMajapahit. Ia menyebutkan adanya "Wihara di Budur". Selain
itu Soekmono (1976) juga mengajukan pendapat populer bahwa candi ini mulai benar-benar
ditinggalkan sejak penduduk sekitar beralih keyakinan kepada Islam pada abad
ke-15.
Monumen ini tidak sepenuhnya dilupakan, melalui dongeng
rakyat Borobudur beralih dari sebagai bukti kejayaan masa lampau menjadi kisah
yang lebih bersifat tahayul yang dikaitkan dengan kesialan, kemalangan dan
penderitaan. Dua Babad Jawa yang ditulis abad ke-18 menyebutkan nasib buruk
yang dikaitkan dengan monumen ini. Menurut Babad Tanah Jawi (Sejarah
Jawa), monumen ini merupakan faktor fatal bagi Mas Dana, pembangkang yang
memberontak kepada Pakubuwono I, raja Kesultanan Mataram pada 1709. Disebutkan bahwa
bukit "Redi Borobudur" dikepung dan para pemberontak dikalahkan dan
dihukum mati oleh raja. Dalam Babad Mataram (Sejarah Kerajaan
Mataram), monumen ini dikaitkan dengan kesialan Pangeran Monconagoro, putra mahkota Kesultanan Yogyakarta yang mengunjungi monumen ini
pada 1757. Meskipun terdapat tabu yang melarang orang untuk mengunjungi
monumen ini, "Sang Pangeran datang dan mengunjungi satria yang
terpenjara di dalam kurungan (arca buddha yang terdapat di dalam stupa
berterawang)". Setelah kembali ke keraton, sang Pangeran jatuh sakit dan
meninggal dunia sehari kemudian. Dalam kepercayaan Jawa pada masa Mataram
Islam, reruntuhan bangunan percandian dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh
halus dan dianggap wingit (angker) sehingga dikaitkan dengan
kesialan atau kemalangan yang mungkin menimpa siapa saja yang mengunjungi dan
mengganggu situs ini. Meskipun secara ilmiah diduga, mungkin setelah situs ini
tidak terurus dan ditutupi semak belukar, tempat ini pernah menjadi sarang
wabah penyakit seperti demam berdarah atau malaria.
D.PENEMUAN
KEMBALI
Foto
pertama Borobudur olehIsidore van
Kinsbergen (1873)
setelah monumen ini dibersihkan dari tanaman yang tumbuh pada tubuh candi.
Bendera Belanda tampak pada stupa utama candi.
Teras
tertinggi setelah restorasi Van Erp. Stupa utama memiliki menara dengan chattra (payung)
susun tiga.
Setelah Perang
Inggris-Belanda dalam
memperebutkan pulau Jawa, Jawa dibawah pemerintahan Britania (Inggris) pada
kurun 1811 hingga 1816. Thomas Stamford
Raffles ditunjuk
sebagai Gubernur Jenderal, dan ia memiliki minat istimewa terhadap sejarah
Jawa. Ia mengumpulkan artefak-artefak antik kesenian Jawa kuno dan membuat catatan
mengenai sejarah dan kebudayaan Jawa yang dikumpulkannya dari perjumpaannya
dengan rakyat setempat dalam perjalanannya keliling Jawa. Pada kunjungan
inspeksinya di Semarangtahun 1814, ia dikabari mengenai adanya sebuah monumen besar
jauh di dalam hutan dekat desa Bumisegoro. Karena berhalangan dan tugasnya
sebagai Gubernur Jenderal, ia tidak dapat pergi sendiri untuk mencari bangunan
itu dan mengutus H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki
keberadaan bangunan besar ini. Dalam dua bulan, Cornelius beserta 200
bawahannya menebang pepohonan dan semak belukar yang tumbuh di bukit Borobudur
dan membersihkan lapisan tanah yang mengubur candi ini. Karena ancaman longsor,
ia tidak dapat menggali dan membersihkan semua lorong. Ia melaporkan penemuannya
kepada Raffles termasuk menyerahkan berbagai gambar sketsa candi Borobudur.
Meskipun penemuan ini hanya menyebutkan beberapa kalimat, Raffles dianggap
berjasa atas penemuan kembali monumen ini, serta menarik perhatian dunia atas
keberadaan monumen yang pernah hilang ini.
Hartmann, seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda di
Keresidenan Kedu meneruskan kerja Cornelius dan pada 1835 akhirnya seluruh
bagian bangunan telah tergali dan terlihat. Minatnya terhadap Borobudur lebih
bersifat pribadi daripada tugas kerjanya. Hartmann tidak menulis laporan atas
kegiatannya; secara khusus, beredar kabar bahwa ia telah menemukan arca buddha
besar di stupa utama. Pada 1842, Hartmann menyelidiki stupa utama meskipun apa
yang ia temukan tetap menjadi misteri karena bagian dalam stupa kosong.
Pemerintah Hindia Belanda menugaskan F.C. Wilsen, seorang insinyur pejabat
Belanda bidang teknik, ia mempelajari monumen ini dan menggambar ratusan sketsa
relief. J.F.G. Brumund juga ditunjuk untuk melakukan penelitian lebih
terperinci atas monumen ini, yang dirampungkannya pada 1859. Pemerintah
berencana menerbitkan artikel berdasarkan penelitian Brumund yang dilengkapi
sketsa-sketsa karya Wilsen, tetapi Brumund menolak untuk bekerja sama.
Pemerintah Hindia Belanda kemudian menugaskan ilmuwan lain, C. Leemans, yang
mengkompilasi monografi berdasarkan sumber dari
Brumund dan Wilsen. Pada 1873, monograf pertama dan penelitian lebih detil atas
Borobudur diterbitkan, dilanjutkan edisi terjemahannya dalam bahasa Perancis
setahun kemudian.[31] Foto pertama monumen ini diambil pada 1873 oleh ahli
engrafi Belanda, Isidore van
Kinsbergen.
Penghargaan atas situs ini tumbuh perlahan. Untuk waktu yang
cukup lama Borobudur telah menjadi sumber cenderamata dan pendapatan bagi
pencuri, penjarah candi, dan kolektor "pemburu artefak". Kepala arca
Buddha adalah bagian yang paling banyak dicuri. Karena mencuri seluruh arca
buddha terlalu berat dan besar, arca sengaja dijungkirkan dan dijatuhkan oleh
pencuri agar kepalanya terpenggal. Karena itulah kini di Borobudur banyak
ditemukan arca Buddha tanpa kepala. Kepala Buddha Borobudur telah lama menjadi
incaran kolektor benda antik dan museum-museum di seluruh dunia. Pada 1882,
kepala inspektur artefak budaya menyarankan agar Borobudur dibongkar seluruhnya
dan reliefnya dipindahkan ke museum akibat kondisi yang tidak stabil,
ketidakpastian dan pencurian yang marak di monumen. Akibatnya, pemerintah
menunjuk Groenveldt, seorang arkeolog, untuk menggelar penyelidikan menyeluruh
atas situs dan memperhitungkan kondisi aktual kompleks ini; laporannya
menyatakan bahwa kekhawatiran ini berlebihan dan menyarankan agar bangunan ini
dibiarkan utuh dan tidak dibongkar untuk dipindahkan.
Bagian candi Borobudur dicuri sebagai benda cinderamata,
arca dan ukirannya diburu kolektor benda antik. Tindakan penjarahan situs
bersejarah ini bahkan salah satunya direstui Pemerintah Kolonial. Pada tahun
1896, Raja Thailand, Chulalongkorn ketika mengunjungi Jawa di Hindia Belanda (kini Indonesia) menyatakan minatnya untuk memiliki
beberapa bagian dari Borobudur. Pemerintah Hindia Belanda mengizinkan dan
menghadiahkan delapan gerobak penuh arca dan bagian bangunan Borobudur. Artefak
yang diboyong ke Thailand antara lain; lima arca Buddha bersama dengan 30 batu
dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan
gerbang, dan arca penjaga dwarapalayang pernah berdiri di Bukit Dagi — beberapa ratus meter di
barat laut Borobudur. Beberapa artefak ini, yaitu arca singa dan dwarapala,
kini dipamerkan di Museum Nasional
Bangkok.
E.PEMUGARAN
Borobudur kembali menarik perhatian pada 1885, ketika
Yzerman, Ketua Masyarakat Arkeologi di Yogyakarta, menemukan kaki
tersembunyi. Foto-foto yang menampilkan relief pada kaki tersembunyi
dibuat pada kurun 1890–1891. Penemuan ini mendorong pemerintah Hindia
Belanda untuk mengambil langkah menjaga kelestarian monumen ini. Pada 1900,
pemerintah membentuk komisi yang terdiri atas tiga pejabat untuk meneliti
monumen ini: Brandes, seorang sejarawan seni, Theodoor van Erp, seorang
insinyur yang juga anggota tentara Belanda, dan Van de Kamer, insinyur ahli
konstruksi bangunan dari Departemen Pekerjaan Umum.
Pada 1902, komisi ini mengajukan proposal tiga langkah
rencana pelestarian Borobudur kepada pemerintah. Pertama, bahaya yang mendesak
harus segera diatasi dengan mengatur kembali sudut-sudut bangunan, memindahkan
batu yang membahayakan batu lain di sebelahnya, memperkuat pagar langkan
pertama, dan memugar beberapa relung, gerbang, stupa dan stupa utama. Kedua,
memagari halaman candi, memelihara dan memperbaiki sistem drainase dengan
memperbaiki lantai dan pancuran. Ketiga, semua batuan lepas dan longgar harus
dipindahkan, monumen ini dibersihkan hingga pagar langkan pertama, batu yang
rusak dipindahkan dan stupa utama dipugar. Total biaya yang diperlukan pada
saat itu ditaksir sekitar 48.800 Gulden.
Pemugaran dilakukan pada kurun 1907 dan 1911, menggunakan
prinsip anastilosis dan dipimpin Theodor van Erp.
Tujuh bulan pertama dihabiskan untuk menggali tanah di sekitar monumen untuk
menemukan kepala buddha yang hilang dan panel batu. Van Erp membongkar dan
membangun kembali tiga teras melingkar dan stupa di bagian puncak. Dalam
prosesnya Van Erp menemukan banyak hal yang dapat diperbaiki; ia mengajukan
proposal lain yang disetujui dengan anggaran tambahan sebesar 34.600 gulden.
Van Erp melakukan rekonstruksi lebih lanjut, ia bahkan dengan teliti
merekonstruksi chattra (payung batu susun tiga) yang
memahkotai puncak Borobudur. Pada
pandangan pertama, Borobudur telah pulih seperti pada masa kejayaannya. Akan
tetapi rekonstruksi chattra hanya menggunakan sedikit batu
asli dan hanya rekaan kira-kira. Karena dianggap tidak dapat
dipertanggungjawabkan keasliannya, Van Erp membongkar sendiri bagian chattra.
Kini mastaka atau kemuncak Borobudur chattra susun tiga
tersimpan di Museum Karmawibhangga Borobudur.
Akibat anggaran yang terbatas, pemugaran ini hanya
memusatkan perhatian pada membersihkan patung dan batu, Van Erp tidak
memecahkan masalah drainase dan tata air. Dalam 15 tahun, dinding galeri miring
dan relief menunjukkan retakan dan kerusakan. Van Erp menggunakan beton yang
menyebabkan terbentuknya kristal garam alkali dan kalsium hidroksida yang
menyebar ke seluruh bagian bangunan dan merusak batu candi. Hal ini menyebabkan
masalah sehingga renovasi lebih lanjut diperlukan.
Pemugaran kecil-kecilan dilakukan sejak itu, tetapi tidak
cukup untuk memberikan perlindungan yang utuh. Pada akhir 1960-an, Pemerintah Indonesia telah mengajukan permintaan
kepada masyarakat internasional untuk pemugaran besar-besaran demi melindungi
monumen ini. Pada 1973, rencana induk untuk memulihkan Borobudur dibuat.
Pemerintah Indonesia dan UNESCO mengambil langkah untuk
perbaikan menyeluruh monumen ini dalam suatu proyek besar antara tahun 1975 dan
1982. Pondasi diperkokoh dan segenap 1.460 panel relief dibersihkan. Pemugaran
ini dilakukan dengan membongkar seluruh lima teras bujur sangkar dan
memperbaiki sistem drainase dengan menanamkan saluran air ke dalam monumen.
Lapisan saringan dan kedap air ditambahkan. Proyek kolosal ini melibatkan 600
orang untuk memulihkan monumen dan menghabiskan biaya total sebesar 6.901.243
dollar AS. Setelah renovasi, UNESCO memasukkan Borobudur ke dalam daftar Situs Warisan Dunia pada tahun 1991. Borobudur
masuk dalam kriteria Budaya (i) "mewakili mahakarya kretivitas manusia
yang jenius", (ii) "menampilkan pertukaran penting dalam nilai-nilai
manusiawi dalam rentang waktu tertentu di dalam suatu wilayah budaya di dunia,
dalam pembangunan arsitektur dan teknologi, seni yang monumental, perencanaan
tata kota dan rancangan lansekap", dan (vi) "secara langsung dan
jelas dihubungkan dengan suatu peristiwa atau tradisi yang hidup, dengan
gagasan atau dengan kepercayaan, dengan karya seni artistik dan karya sastra
yang memiliki makna universal yang luar biasa".
Peristiwa kontemporer
Biksu peziarah tengah bermeditasi di
pelataran puncak
Turis di Borobudur
Setelah pemugaran besar-besaran pada 1973 yang didukung
oleh UNESCO, Borobudur kembali menjadi pusat keagamaan dan ziarah agama
Buddha. Sekali setahun pada saat bulan purnama sekitar bulan Mei atau Juni,
umat Buddha di Indonesia memperingati hari suciWaisak, hari yang memperingati kelahiran,
wafat, dan terutama peristiwa pencerahan Siddhartha Gautama yang mencapai tingkat
kebijaksanaan tertinggi menjadi Buddha Shakyamuni. Waisak adalah hari libur
nasional di Indonesia[39] dan upacara peringatan dipusatkan di tiga candi Buddha
utama dengan ritual berjalan dari Candi Mendut menuju Candi Pawon dan prosesi
berakhir di Candi Borobudur.
Pada 21 Januari 1985, sembilan stupa rusak parah akibat
sembilan bom.
Pada 1991 seorang penceramah muslim beraliran ekstrem yang tunanetra, Husein
Ali Al Habsyie, dihukum penjara seumur hidup karena berperan sebagai otak
serangkaian serangan bom pada pertengahan dekade 1980-an, termasuk serangan
atas Candi Borobudur. Dua anggota kelompok ekstrem sayap kanan djatuhi hukuman
20 tahun penjara pada tahun 1986 dan seorang lainnya menerima hukuman 13 tahun
penjara.
Sendratari "Mahakarya
Borobudur" digelar di Borobudur
Monumen ini adalah obyek wisata tunggal yang paling banyak
dikunjungi di Indonesia. Pada 1974 sebanyak 260.000 wisatawan yang 36.000
diantaranya adalah wisatawan mancanegara telah mengunjungi monumen ini. Angka
ini meningkat hingga mencapai 2,5 juta pengunjung setiap tahunnya (80% adalah
wisatawan domestik) pada pertengahan 1990-an, sebelum Krisis finansial
Asia 1997.[9] Akan tetapi pembangunan pariwisata dikritik tidak
melibatkan masyarakat setempat sehingga beberapa konflik lokal kerap terjadi.[8] Pada 2003, penduduk dan wirausaha skala kecil di
sekitar Borobudur menggelar pertemuan dan protes dengan pembacaan puisi,
menolak rencana pemerintah provinsi yang berencana membangun kompleks mal
berlantai tiga yang disebut 'Java World'. Upaya masyarakat setempat untuk
mendapatkan penghidupan dari sektor pariwisata Borobudur telah meningkatkan
jumlah usaha kecil di sekitar Borobudur. Akan tetapi usaha mereka untuk mencari
nafkah seringkali malah mengganggu kenyamanan pengunjung. Misalnya pedagang
cenderamata asongan yang mengganggu dengan bersikeras menjual dagangannya;
meluasnya lapak-lapak pasar cenderamata sehingga saat hendak keluar kompleks
candi, pengunjung malah digiring berjalan jauh memutar memasuki labirin pasar
cenderamata. Jika tidak tertata maka semua ini membuat kompleks candi Borobudur
semakin semrawut.
Pada 27 Mei 2006, gempa berkekuatan 6,2 skala mengguncang
pesisir selatan Jawa Tengah. Bencana alam ini menghancurkan kawasan dengan
korban terbanyak di Yogyakarta, akan tetapi Borobudur tetap utuh.
Pada 28 Agustus 2006 simposium bertajuk Trail of
Civilizations (jejak peradaban) digelar di Borobudur atas prakarsa Gubernur
Jawa Tengah dan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan, juga hadir perwakilan
UNESCO dan negara-negara mayoritas Buddha di Asia Tenggara, seperti Thailand,
Myanmar, Laos, Vietnam, dan Kamboja. Puncak acara ini adalah pagelaran
sendratari kolosal "Mahakarya Borobudur" di depan Candi Borobudur.
Tarian ini diciptakan dengan berdasarkan gaya tari tradisional Jawa, musik
gamelan, dan busananya, menceritakan tentang sejarah pembangunan Borobudur.
Setelah simposium ini, sendratari Mahakarya Borobudur kembali dipergelarkan
beberapa kali, khususnya menjelang peringatan Waisak yang biasanya turut
dihadiri Presiden Republik Indonesia.
Batu
peringatan pemugaran candi Borobudur dengan bantuan UNESCO
UNESCO mengidentifikasi tiga permasalahan penting dalam upaya
pelestarian Borobudur: (i) vandalisme atau pengrusakan oleh pengunjung; (ii)
erosi tanah di bagian tenggara situs; (iii) analisis dan pengembalian
bagian-bagian yang hilang. Tanah yang gembur, beberapa kali gempa bumi,
dan hujan lebat dapat menggoyahkan struktur bangunan ini. Gempa bumi adalah
faktor yang paling parah, karena tidak saja batuan dapat jatuh dan pelengkung
ambruk, tanah sendiri bergerak bergelombang yang dapat merusak struktur
bangunan. Meningkatnya popularitas stupa menarik banyak pengunjung yang
kebanyakan adalah warga Indonesia. Meskipun terdapat banyak papan peringatan
untuk tidak menyentuh apapun, pengumandangan peringatan melalui pengeras suara
dan adanya penjaga, vandalisme berupa pengrusakan dan pencorat-coretan relief
dan arca sering terjadi, hal ini jelas merusak situs ini. Pada 2009, tidak ada
sistem untuk membatasi jumlah wisatawan yang boleh berkunjung per hari, atau
menerapkan tiap kunjungan harus didampingi pemandu agar pengunjung selalu dalam
pengawasan.
F.REHABILITASI
Borobudur sangat terdampak letusan Gunung Merapi pada Oktober adan November 2010. Debu vulkanik dari
Merapi menutupi kompleks candi yang berjarak 28 kilometer (17 mil)
arah barat-baratdaya dari kawah Merapi. Lapisan debu vulkanik mencapai
ketebalan 2,5 sentimeter (1 in) menutupi bangunan candi kala
letusan 3–5 November 2010, debu juga mematikan tanaman di sekitar, dan para
ahli mengkhawatirkan debu vulkanik yang secara kimia bersifat asam dapat
merusak batuan bangunan bersejarah ini. Kompleks candi ditutup 5 sampai 9
November 2010 untuk membersihkan luruhan debu.
Mencermati upaya rehabilitasi Borobudur setelah letusan
Merapi 2010, UNESCO telah menyumbangkan dana sebesar 3 juta dollar AS
untuk mendanai upaya rehabilitasi. Membersihkan candi dari endapan debu
vulkanik akan menghabiskan waktu sedikitnya 6 bulan, disusul penghijauan
kembali dan penanaman pohon di lingkungan sekitar untuk menstabilkan suhu, dan
terakhir menghidupkan kembali kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.
Lebih dari 55.000 blok batu candi harus dibongkar untuk memperbaiki sistem tata
air dan drainase yang tersumbat adonan debu vulkanik bercampur air hujan.
Restorasi berakhir November 2011, lebih awal dari perkiraan semula.
Sumber :
GAYA PENULISAN SEJARAH
Dari ke tiga sejarah
tersebut(sejarah Basket,Sejarah TG.Balai Karimun dan Sejarah Candi Borobudur)
dapat kita tentukan gaya penulisan sejarahnya sebagai berikut :
1.GAYA KRONOLOGI
(SEJARAH TG.BALAI KARIMUN)
G. J. Reiner mendifinisikan penulisan sejarah
yang menggunakan kronologis sebagai a narrative of event arranged in
their time sequance. Penulisan sejarah bergaya kronologikal ini dibuat
untuk melihat peristiwa sejarah melalui urutan waktu kejadian agar dapat
menggambarkan apa yang terjadi pada suatu waktu hingga berikutnya.
Gaya ini terdapat pada paragraf
ke 6. Yang ditandai dengan kata “setelah
itu” . berikut kutipannya :
Seiring
semakin pesatnya perkembangan Malaka yang wilayahnya mencakupi daerah Karimun,
telah terjadi juga interaksi dengan para pedagang dari Arab dan Persia, dimana selain
berdagang juga membawa misi penyebaran Agama Islam, maka hal ini sangat
menggugah hati Parameswara, maka pada tahun 1414 ia beralih memeluk agama Islam
dan berganti nama Iskandar Syah dan bergelar Sultan. Hal ini juga diikuti oleh
hampir seluruh rakyatnya, termasuk penduduk Karimun.
Setelah
itu, Runtuhnya Kerajaan Malaka akibat gempuran Portugis pada tahun 1511, maka
Sultan Mahmud Syah – sebagai penerus dari Sultan Iskandar Syah – mendirikan Kerajaan
Johor yang berpusat di Johor dan Bintan. Dua pusat kerajaan ini berada pada
lingkaran gugusan pulau-pulau di Karimun yang dikenal juga sebagai pusat
konsentrasi suku laut sebagai benteng pertahanan kekuatan angkatan laut
kerajaan.
2.GAYA EKSPOSISI(
SEJARAH CANDI BOROBUDUR)
Gaya penulisan ini bermaksud untuk menguraikan,
memaparkan, dan menyingkap suatu masalah. Setiap masalah atau segala peristiwa
harus diuraikan, disingkap, dan ditulis dengan jelas dan terperinci kepada para
pembaca supaya mereka dapat mengetahui dan memahami.Pengertian gaya eksposisi
sepertiyang disebutkan diatas sesuai dengan apa yang diutarakan oleh M.
White, exposition in historical writing is a theoty of how we
select the cause among contributory causes that are aonnected with the event to
be explained in accordance.
Gaya ini terdapat pada paragraf
ke 1 ,baris ke 1 di bagian “Borobudur ditelantarkan”. Dimana penullisannya
menguraikan sebab dan akibat suatu peristiwa yaitu sebab nya dikarenakan
tertimbun lapisan tanah dan debu vulkanik yang mengakibatkan terlantarnya candi
Borobudur.
Berikut kutipannya :
Borobudur tersembunyi dan
terlantar selama berabad-abad terkubur di bawah lapisan tanah dan debu vulkanik
yang kemudian ditumbuhi pohon dan semak belukar sehingga Borobudur kala itu
benar-benar menyerupai bukit. Alasan sesungguhnya penyebab Borobudur
ditinggalkan hingga kini masih belum diketahui. Tidak diketahui secara pasti sejak
kapan bangunan suci ini tidak lagi menjadi pusat ziarah umat Buddha. Pada kurun
928 dan 1006, Raja Mpu Sindok memindahkan
ibu kota kerajaan Medang ke
kawasan Jawa Timur setelah
serangkaian letusan gunung berapi; tidak dapat dipastikan apakah faktor inilah
yang menyebabkan Borobudur ditinggalkan, akan tetapi beberapa sumber menduga
bahwa sangat mungkin Borobudur mulai ditinggalkan pada periode ini.[6][18] Bangunan
suci ini disebutkan secara samar-samar sekitar tahun 1365, oleh Mpu Prapanca dalam
naskahnya Nagarakretagama yang ditulis pada masa kerajaanMajapahit. Ia menyebutkan
adanya "Wihara di Budur". Selain itu Soekmono (1976) juga mengajukan
pendapat populer bahwa candi ini mulai benar-benar ditinggalkan sejak penduduk
sekitar beralih keyakinan kepada Islam pada abad ke-15.
3.GAYA ARGUMENTASI
(SEJARAH TG.BALAI KARIMUN,KEPRI)
Gaya penulisan argumentatif adalah
bagaimana seorang sejarawan mempertahankan pendapatnya atau mempertahankan
pandanganya mengenai suatu kejadian dengan alasan yang kuat dan logis.
Histeriografi yang menggunakan gaya argumentatif biasanya memiliki suatu tesis
(ide utama) yang hendak dipertahankan oleh seorang sejarawan dengan menggunakan
fakta-fakta baru yang ditemukan. Selanjutnya, sejarawan tersebut akan bisa
menyangkal pendapat atau pendapat sejarawan lain yang sebelumnya telah menulis
peristiwa sejarah tersebut.
Gaya ini terdapat pada paragraf
ke 4 baris ke 1 yang menyatakan
pendapatnya yaitu “ Karimun dipandang sebagai daerah yang sangat berbahaya dan pedagang yang akan
melintasi ujung selatan Selat Malaka dengan alasan yang kuat dan logis yaitu
“Hal ini dikarenakan hampir disepanjang Pulau Karimun dan jajaran pulau-pulau
disekitarnya dijadikan basis operasional bajak laut. Dan bahkan menurut catatan
Fa-Hsieu (seorang pengelana Cina), aktifitas bajak laut ini telah berlangsung
sejak abad ke – 4 M. Berikut kutipannya :
Karimun
dipandang sebagai daerah yang sangat berbahaya dan di takuti oleh setiap
pelayar dan pedagang yang akan melintasi ujung selatan Selat Malaka. Hal ini
dikarenakan hampir disepanjang Pulau Karimun dan jajaran pulau-pulau
disekitarnya dijadikan basis operasional bajak laut. Dan bahkan menurut catatan
Fa-Hsieu (seorang pengelana Cina), aktifitas bajak laut ini telah berlangsung
sejak abad ke – 4 M. Tao-I Chih (juga seorang pengelana China) yang
pernah mengunjungi daerah Kepulauan Riau pada tahun 1330 – 1340 kembali
memperkuat hal ini yang menyatakan daerah Chi ke Wan (Karimun) menjadi daerah
basis bajak laut yang memiliki pasukan berjumlah cukup besar yaitu terdiri dari
200 – 300 pasukan. Dan dalam perkembangan selanjutnya para bajak
laut ini yang sebagian besar merupakan penduduk asli Suku Laut yang berasal
dari Pulau Karimun dan pulau-pulau sekitarnya, menduduki wilayah Kerajaan
Tumasik (berpusat di Selat Tumasek, Singapura sekarang) yang ditinggalkan oleh
Raja Parameswara yang mengungsi ke Muar akibat penyerangan Kerajaan Majapahit.
Suku laut ini juga menduduki daerah sekitar Malaka dan ketika Raja Parameswara
pindah ke Malaka maka ia disambut oleh masyarakat suku laut disana dan
bersepakat dengan masyarakat suku laut bersama puak-puaknya yang dikenal dengan
Batin dan Lenang untuk menjadi penyangga berdirinya Kerajaan Malaka untuk
sama-sama membangun dan memajukan Malaka menjadi kota yang ramai sebagai pusat
perdagangan antar negara, dengan Parmeswara sebagai rajanya (1389-1414).
4.GAYA KRITIK ( SEJARAH
CANDI BOROBUDUR)
Gaya penulisan kritik adalah mencari
kebenaran dari suatu peristiwa sejarah dengan cara menilai dua atau lebih karya
sejarah yang mempunyai topik sama. Kritik ini biasanya ditunjukan pada masalah
kesahihan sember-sumber sejarah.
Gaya ini terdapat di
paragrap ke 2 baris pertama bagian “Borobudur ditelantarkan”. Berikut
kutipannya :
Monumen ini tidak sepenuhnya
dilupakan, melalui dongeng rakyat Borobudur beralih dari sebagai bukti kejayaan
masa lampau menjadi kisah yang lebih bersifat tahayul yang dikaitkan dengan
kesialan, kemalangan dan penderitaan. Dua Babad Jawa yang ditulis abad ke-18 menyebutkan
nasib buruk yang dikaitkan dengan monumen ini. Menurut Babad Tanah Jawi (Sejarah
Jawa), monumen ini merupakan faktor fatal bagi Mas Dana, pembangkang yang
memberontak kepada Pakubuwono I, raja Kesultanan Mataram pada 1709. Disebutkan bahwa
bukit "Redi Borobudur" dikepung dan para pemberontak dikalahkan dan
dihukum mati oleh raja. Dalam Babad Mataram (Sejarah Kerajaan
Mataram), monumen ini dikaitkan dengan kesialan Pangeran Monconagoro, putra
mahkota Kesultanan Yogyakarta yang mengunjungi monumen ini
pada 1757. Meskipun terdapat tabu yang melarang orang untuk mengunjungi
monumen ini, "Sang Pangeran datang dan mengunjungi satria yang
terpenjara di dalam kurungan (arca buddha yang terdapat di dalam stupa
berterawang)". Setelah kembali ke keraton, sang Pangeran jatuh sakit dan
meninggal dunia sehari kemudian. Dalam kepercayaan Jawa pada masa Mataram
Islam, reruntuhan bangunan percandian dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh
halus dan dianggap wingit (angker) sehingga dikaitkan dengan
kesialan atau kemalangan yang mungkin menimpa siapa saja yang mengunjungi dan
mengganggu situs ini. Meskipun secara ilmiah diduga, mungkin setelah situs ini
tidak terurus dan ditutupi semak belukar, tempat ini pernah menjadi sarang
wabah penyakit seperti demam berdarah atau malaria.
5.GAYA NARATIF (SEJARAH
PERMAINAN BOLA BASKET)
Sejarah akan lebih menarik jika kita mengisahkanya
dengan gaya story-telling. Gaya ini bertujuan untuk
menceritakan bagaimana peristiwa-peristiwa sejarah disusun berdasarkan urutan
peristiwa-peristiwa tersebut. Oleh sebab itu, seorang sejarawan yang
menggunakan gaya ini dituntut untuk dapat mengingat kejadian-kejadian yang
telah berlalu dan menceritakanya secara logis, teratur, dan tersusun.
Gaya
ini teredapat pada paragrap ke 1 sampai akhir,dimana gaya ini ditulis
berdasarkan urutan kejadian dan waktu kejadian. Berikut kutipannya:
Sejarah bola basketdimulai ketika
Dr. James Naismith datang dengan memainkan bola basket pada tahun 1892 dan
memulai pertandingan pertama pada sebuah kompetisi bola basket yang
dimainkan di Beaver Falls Pennsylvania, Amerika Serikat pada 8 April 1893
antara New Brighton YMCA dan Geneva College.
Dalam perkembangannya permainan ini sangat populer dan pada
tahun 1914 sebanyak 360 perguruan tinggi membuat tim basket yang diproyeksikan
untuk pertandingan bola basket antar perguruan tinggi. Pada tahun 1939, untuk
kali pertama NCAA College Basketball Championship turnamen (turnamen bola
basket antar perguruan tinggi paling popular didunia sampai sekarang) diadakan
yang dimenangkan oleh University of Oregon.
Tim basket profesional pertama di dunia terbentuk pada tahun
1896, tim tersebut muncul ketika terjadi sengketa antara anggota tim YMCA dan
pejabat pengurus dari tim YMCA dengan terjadinya konflik tersebut,
berakhir pada pembentukan anggota tim profesional yang bermain serta digaji
secara profesional. Pada tahun 1898, NBL (National Basketball League) dibentuk
dan banyak melahirkan bintang-bintang basket pertama didunia antara lain
- Ed Wachter dan Barney Sedran.






