BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Konflik sudah menjadi bagian dalam
sebuah hubungan. Sehingga mustahil jika suatu hubungan suami dan istri berjalan tanpa sebuah
konflik di dalamnya.Konflik
antara suami dan istri adalah Konflik
yang merupakan
satu keadaan di mana kehidupan suami istri senantiasa berada di dalam suasana yang tidak
harmoni dan berkonflik. Didalam
konflik suami istri terdapat beberapa bentuk konflik seperti konflik peran
dalam rumah tangga,konflik pengaturan waktu,konflik jenuh,dan konflik yang
berpunca daripada istri maupun suami.
Konflik anatara suami dan istri tidak datang dengan sendirinya melainkan ada
beberapa faktor penyebab sehingga timbulnya konflik, faktor itu ialah mencakup
maSalah ekonomi (penghasilan, keterbatasan lapangan kerja, dan kurangnya
keetrbukaan masalah keuangan), masalah pendidikan,masalah agama (perbedaan
keyakinan/kepercayaan, masalah komunikassi (selalu complain, keterbatasan
komunikasi) ,masalah privasi/pribadi (kebiasaan buruk suami/istri,Perselingkuhan,
keterlibatan pihak ketiga dan perbedaan latar belakang).
Penyebab-penyebab
konflik ini akan menimbulkan beberapa dampak seperti perceraian,gangguan
terhadap psikologis anak dan KDRT. Konflik suami – istri ini tentu tidak akan
selesai dengan sendirinya . perlu beberapa upaya dalam mengatasinya . upaya ini
pun disesuaikan dengan jenis faktor penyebabnya. Dalam masalah ekonomi dapat
diatasi dengan sikap terbuka,menabung,membuka usaha sampingan,dll. Dalam
masalah pendidikan dapat diatasi dengan menghindari konflik
berlanjut,berdiskusi. Jika dalam masalah agama pihak pasangan harus toleransi
terhadap perbedaan agama tersebut. Masalah komunikasi pun dapat diatasi dengan
melakukan pendekatan kepada suami/istri sedangkan pada masalh privasi/pribadi
dapat diatasi dengan memiliki sikap saling terbuka,dan lekas melupakan masalah
yang terjadi di dalam konflik tersebut.
B.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan
latar belakang tersebut, maka dapat dikemukakan identifikasi masalah sebagai
berikut :
1. Pengertian konflik suami-istri
2. Bentuk-bentuk konflik suami-istri
3. Faktor penyebab terjadinya konflik suami-istri
4. Dampak
terjadinya konflik suami-istri
5. Upaya
mengatasi konflik suami-istri
C.
Perumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang tersebut dapat ditarik beberapa pertanyaan sebagai rumusan
masalah yang akan dibahas secara lebih mendalam. Adapun rumusan masalahnya
sebagai berikut :
1. Apa pengertian konflik suami-istri?
2. Bagaimana bentuk-bentuk konflik suami-istri?
3. Apa faktor penyebab terjadinya konflik suami-istri ?
4. Apa dampak terjadinya konflik suami-istri?
5. Bagaimana upaya mengatasi konflik suami-istri?
D.Tujuan Makalah
Berdasarkan rumusan masalah diatas
, tujuan penulisan makalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengertian konflik suami-istri
2. Untuk mengetahui bentuk-bentuk konflik suami-istri
3. Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya suami-istri
4. Untuk mengetahui dampak terjadinya konflik suami-istri
5. Untuk mengetahui upaya mengatasi konflik suami-istri
E.Manfaat Makalah
Dari tujuan
makalah dapat kita ambil manfaat laporan ini adalah sebagai berikut :
1. Agar
pembaca dapat mengetahui pengertian
konflik suami-istri
2. Agar
pembaca dapat mengetahui bentuk-bentuk
konflik suami-istri
3. Agar
pembaca dapat mengetahui faktor
penyebab terjadinya konflik suami-istri
4. Agar
pembaca dapat mengetahui dampak
terjadinya konflik suami-istri
5. Agar
pembaca dapat mengetahui upaya
mengatasi konflik suami-istri
BAB II
LANDASAN TEORI
A.Tinjauan Pustaka
1.
Pengertian
Konflik Suami-Istri
a. Pengertian
Konflik
·
Soerjono Soekanto
Mengatakan bahwa konflik merupakan suatu proses sosial di
mana individu
atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak
lawan yang disertai dengan ancaman dan atau kekerasan.
·
Lewis A Coser
Berpendapat bahwa konflik adalah sebuah perjuangan mengenai
nilai atau tuntutan atas status, kekuasaan, bermaksud untuk menetralkan, mencederai,
atau melenyapkan lawan.
·
Gillin dan Gillin
Melihat konflik sebagai bagian dari proses interaksi sosial
manusia yang saling berlawanan. Artinya, konflik adalah bagian dari proses
sosial yang terjadi karena adanya perbedaanperbedaan baik fisik, emosi kebudayaan , dan
perilaku. Atau dengan kata lain konflik adalah salah satu proses interaksi
sosial yang bersifat disosiatif.
·
De Moor
Dalam suatu sistem sosial dapat dikatakan terdapat konflik
apabila para penghuni sistem tersebut membiarkan dirinya dibimbing oleh
tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang bertentangan dan terjadi secara
besar-besaran.
·
Robert M. Z. Lawang
Konflik merupakan sebuah perjuangan untuk memperoleh hal-hal
yang langka seperti nilai, status, kekuasaan dan sebagainya. Tujuan dari mereka
yang berkonflik itu tidak hanya untuk memperoleh kemenangan, tetapi juga untuk
menundukkan pesaingnya (lawannya).
·
Taquiri dalam Newstorm
dan Davis (1977)
Konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam
berbagai keadaan akibat dari pada berbangkit nya keadaan ketidak setujuan,
kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara berterusan.
b.
Pengertian
Suami-istri
·
Menurut
islam
Suami
adalah seorang laki-laki Sabar, Usaha, Amanah,
Membimbing, Istiqomah, Sabar : Seorang suami harus sabar untuk menghadapi
segala ujian dalam rumah tangga, termasuk dengan omelan omelan istri jika
istrinya cerewet. Usaha: Seorang suami hendaknya ia bekerja untuk menghidupi
keluarganya, dalam hal ini hukumnya adalah wajib, karena seorang lelaki adalah
pemimpin bagi setiap perempuan. Amanah: Istri merupakan tulang rusuk kiri
suami, maksudnya kodrat perempuan adalah titipan Tuhan untuk kaum laki laki,
Sebuah beban yang harus ditanggung lelaki untuk mempelihara setiap istrinya.
Membimbing: Suami adalah kepala rumah tangga bagi setiap keluarga, jika suami
tidak bisa membimbing atau mengarahkan keluarganya kejalur yang baik maka
rusaklah pula rumah tangganya. Istiqomah: Suami harus teguh pendiriannya, agar
tujaun membina keluarganya dapat tercapai dengan baik.
Istri
adalah seorang wanita yang Ikhlas, Sholehah,
Taat, Rajin, Iman Kaum perempuan adalah kaum yang paling mudah untuk masuk
sorga tetapi juga paling mudah mereka masuk neraka. Ikhlas : Setiap istri
harusnya ikhlas terhadap pemberian suaminya, setiap apa yang suami nafkahkan
kepada istrinya, tidak meminta lebih ataupun kurang, asalkan nafkah yang diberi
tersebut halal. Istri juga wajib ikhlas dengan pekerjaan yang ditanggungnya dalam
kehidupan berumah tangga. Sholehah: Sifat sholehah adalah dambaan bagi setiap
lelaki untuk memiliki istri yang mempunyai sifat tersebut. Taat : Istri wajib
taat kepada suami, Setiap apa apa yang diperintahkan suami asal tidak maksiat
maka istri wajib untuk mentaatinya. Rajin : Setiap perempuan yang telah menjadi
istri maka hendaklan rajin dalam urusan rumah tangga Iman : Selain beiman
kepada Tuhannya, setiap istri juga harus beriman kepada suaminya. Jika Tuhan
memerintahkan manusia untuk bersujud selain kepada Dia, maka akan diperintahkan
setiap istri untuk bersujud dihadapan suami.
·
Menurut Chaniago 2002
Suami
adalah pasangan hidup istri (ayah dari anak-anak), suami mempunyai suatu
tanggung jawab yang penuh dalam suatu keluarga tersebut dan suami mempunyai
peranan yang penting, dimana suami sangat dituntut bukan hanya sebagai pencari
nafkah akan tetapi suami sebagai motivator dalam berbagai kebijakan yang akan
di putuskan termasuk merencanakan keluarga. Sedangkan istri adalah pasangan hidup
suami ( ibu dari anak-anak).
·
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
Suami
adalah pria
yg menjadi pasangan hidup resmi seorang wanita (istri) sedangkan istri adalah wanita (perempuan) yang telah menikah atau yang bersuami. Jadi suami istri adalah pasangan
laki-laki dan perempuan yg telah menikah.
c. Pengertian
Konflik Suami-Istri
Konflik yang merupakan
satu keadaan di mana kehidupan suami isteri senantiasa berada di dalam suasana yang tidak
harmoni dan berkonflik. Suami isteri saling benci membenci di antara satu sama
lain yang umumnya diakibatkan oleh
kesulitan yang dihadapi dalam perkawinan,termasuk pertentangan mengenai
persoalan ekonomi atau mengenai cara mendidik anak.
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Bentuk-Bentuk
Konflik Suami-Istri
1.
Konflik peran dalam rumah tangga
Ketika salah satu pasangan cenderung keras kepala
dalam pengaturan tugas rumah tangga, sehingga tercipta kondisi “atasan” dan
“bawahan” dalam pernikahan. Alhasil, pasangan yang dikondisikan menjadi
“bawahan” merasa tertekan dan memberontak.
2.
Konflik pengaturan waktu
Masalah yang terjadi akibat suami atau istri selalu
menolak menjalani kegiatan bersama sehingga salah satu
pihak merasa tidak diperhatikan dan kesepian. Tidak adanya keseimbangan waktu kerja dan personal harus yang baik . Makna “Kami” dalam rumah tangga
berarti kondisi saling melengkapi antara suami dan istri. Pasangan suami dan
istri, walaupun tak harus setiap waktu bersama bergandengan tangan, tetapi harus ingat
bahwa suami dan istri adalah kesatuan.
3.
Konflik jenuh
Bosan dan jenuh terhadap pasangan adalah persoalaan
wajar yang dihadapi banyak suami dan istri. Namun, bakal menjadi masalah ketika
salah satu pasangan nekad menguji kesabaran pasangannya dengan selingkuh atau
sengaja memerhatikan orang lain secara berlebihan.
4.
Konflik
Yang
Berpunca Daripada Istri
Konflik
ini adalah konflik yang berlaku apabila isteri enggan memenuhi
kehendak suami, sering marah, benci serta tidak taat kepada suami. Isteri juga
meninggalkan tugas dan kewajipannya serta meninggikan diri serta berlaku curang
terhadap suami. Banyak faktor-faktor yang menyebabkan isteri bertindak
sedemikian, termasuk faktor pada diri isteri sendiri, suami dan factor-faktor
luaran.
5. Konflik Yang Berpunca Daripada Suami
Konflik ini terjadi apabila seorang
suami bersikap keras, isteri tidak bergaul dengan baik, tidak menjalankan
kewajipan terhadap isteri, buat hubungan dengan perempuan lain dan sebagainya.
Berikut adalah salah satu
contoh kasus mengenai konflik suami-istri. Kasus
Albertus (nama samaran, disingkat A) adalah seorang yang lahir dan dibesarkan tanpa kehadiran seorang ayah. Sebelum ia lahir ayah dan ibunya bercerai. Tentu saja ini mempengaruhi kepribadian ibu dan dirinya sendiri.
Albertus (nama samaran, disingkat A) adalah seorang yang lahir dan dibesarkan tanpa kehadiran seorang ayah. Sebelum ia lahir ayah dan ibunya bercerai. Tentu saja ini mempengaruhi kepribadian ibu dan dirinya sendiri.
A adalah seorang yang berjuang keras hingga memperoleh
gelar yang sangat tinggi pada usia yang masih sangat muda. Dia pria yang sangat
sibuk dalam karirnya. Istri A sebutlah Indri (nama samaran, disingkat I) juga
seorang cerdas dan wanita karir yang hebat. Namun Indri sebelum menikah dengan
A pernah menikmati keintiman dengan beberapa pria, bahkan sampai pada bentuk
hubungan suami-istri.
Di sisi lain, Ketika baru saja menikah ternyata sang
suami harus pergi ke luar negeri untuk studi. Hal ini tentu membawa pergumulan
tersendiri baginya sebagai Indri, yang masih mendambakan keintiman dan kemesraan
pada usia pernikahan yang baru.
Untuk mengatasi kesepian I, A mendorong istrinya
untuk mengambil gelar Doktor. Dengan demikian tekanan dalam penyesuaian diri
sebagai suami istri dan studi menjadi semakin besar. Akhirnya Indri terjebak
mencari kemesraan dengan pria idaman lain (PIL), karena dia makin sering
berjumpa sahabatnya di kantor dan saat kuliah.
Lama kelamaan A mengetahui perselingkuhan istrinya
itu. Ditambah dengan catatan masa lalu istrinya yang belum pupus dalam ingatan
A, membuat A menjadi sulit untuk mempercayai istrinya. Inilah latar belakang
yang menimbulkan konflik dalam rumah tangga A.
B. Faktor Penyebab Terjadinya Konflik Suami-Istri
Konflik di dalam rumah tangga muncul akibat
berbagai macam masalah yang terjadi diantara suami istri. Masalah-masalah di
dalam rumah tangga yang bisa memicu konflik biasanya terjadi akibat adanya
ketidakseimbangan di dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga yang sifatnya
urgent. Dan apabila kebutuhan ini tidak bisa terpenuhi, seringnya penyikapan
dari salah satu pasangan akan selalu berujung negatif, sehingga akan
menciptakan sebuah konflik di dalam kehidupan suami dan istri tersebut.
1.
Masalah
Perekonomian
Perekonomian yang carut
marut bisa menjadi penyebab dominan hilangnya keharmonisan rumah tangga, terlebih
jika pasangan suami istri jauh dari rasa syukur. Perselisihan sering dipicu
oleh tidak terpenuhinya kebutuhan hidup. Dalam beberapa kasus, perbedaan
penghasilan antara suami dan istri (terutama bila penghasilan istri lebih
besar) membuat istri lebih banyak menuntut suaminya.Jika
kehidupan emosional suami isteri tidak dewasa, maka akan timbul pertengkaran.
Sebab, isteri banyak menuntut hal-hal di luar makan dan minum. Padahala
penghasilan suami sebagai buruh lepas, hanya dapat memberi makan dan
rumah petak tempat berlindung yang sewanya terjangkau. Akan tetapi yang namanya
manusia sering bernafsu contohnya ingin memiliki televisi, radio dan sebagainya
sebagaimana layaknya sebuah pasangan yang
normal. Karena suami tidak sanggup memenuhi tuntutan isteri dan anak-anaknya
akan kebutuhan-kebutuhan yang disebutkan tadi, maka timbullah pertengkaran
suami isteri yang sering menjurus kearah perceraian. Suami yang egois dan tidak
dapat menahan emosinya lalu menceraikan isterinya. Akibatnya terjadilah
kehancuran sebuah keluarga sebagai dampak kekurangan ekonomi. Bentuk-bentuk permasalahan ekonomi adalah sebagai berikut :
a. Penghasilan
Penghasilan suami lebih besar dari penghasilan istri adalah hal yang biasa. Namun, bila yang terjadi kebalikannya, sang istri yang lebih besar, bisa-bisa timbul masalah. Suami merasa minder karena tidak dihargai penghasilannya, sementara istri pun merasa dirinya berada di atas, sehingga jadi sombong dan tidak hormat lagi pada pasangannya.
Penghasilan suami lebih besar dari penghasilan istri adalah hal yang biasa. Namun, bila yang terjadi kebalikannya, sang istri yang lebih besar, bisa-bisa timbul masalah. Suami merasa minder karena tidak dihargai penghasilannya, sementara istri pun merasa dirinya berada di atas, sehingga jadi sombong dan tidak hormat lagi pada pasangannya.
b. Keterbatasan Lapangan Kerja
Peluang kerja semakin terbatas tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja.
Persaingan dalam dunia kerja dan dunia usaha juga semakin tajam menambah makin
beratnya beban keluarga adakalanya pasangan suami-isteri terpaksa bekerja
serabutan atau bekerja di luar kompetensinya demi memperoleh penghasilan,
Persoalan pekerjaan di kantor sering berimbas pada rumah tangga. Kesibukannya
terfokus pada pekerjaan pencarian materi yaitu harta dan uang. Makna kesuksesan
hidup tidaklah semata-mata berorientasi materi.
c.
Kurangnya
keterbukaan masalah keuangan.
Bagaimanapun masalah keuangan adalah sesuatu
yang sangat penting dalam keluarga. Suami seharusnya terbuka akan penghasilan
yang mereka peroleh. Sehingga istri tidak memendam kecurigaan kepada suaminya.
Dan sebaliknya, istri hendaknya memberikan informasi kemana uang dimanfaatkan.
Serta mengatur sesuai dengan kemampuan suami. Sehingga suami merasa lega ketika
apa yang diperolehnya dimanfaatkan pada sesuatu yang penting dan bermanfaat.
Dan memberinya motivasi untuk bekerja lebih giat.
2.
Masalah pendidikan
Masalah pendidikan sering merupakan
penyebab terjadinya problem di dalam hubungan antara
suami dan isti. Jika pendidikan sedang pada
suami-isteri, maka wawasan tentang kehidupan keluarga dapat dipahami oleh
mereka. Sebaliknya pada suami-isteri yang pendidikannya rendah sering tidak
dapat memahami liku-liku keluarga. Akibatnya terjadi selalu pertengkaran yang
mungkin menjadi perceraian. Jika pendidikan agama ada atau lumayan, mungkin
sekali kelemahan dibidang pendidikan akan diatasi. Artinya suami-isteri akan
dapat mngekang nafsu masing-masing sehingga pertengkaran dapat dihindari.
3.
Masalah
Agama
Agama sangat penting peranannya
dalam membangun keluarga bahagia. Termasuk dalam hal menentukan arah keluarga,
pernikahan yang di bangun atas dasar kesamaan agama terkadang sering bermasalah
apa lagi dengan pernikahan yang beda agama pasti mempunyai masalah. Dari
perbedaan agama inilah muncul permasalahan dalam sebuah rumah tangga. Bentuk-bentuk permasalahan agama adalah sebagai berikut :
a.
Perbedaan Keyakinan/Kepercayaan
Biasanya, pasangan yang
sudah berikrar untuk bersatu sehidup-semati tidak mempersoalkan masalah
keyakinan yang berbeda antar mereka. Namun, persoalan biasanya akan timbul
manakala mereka mulai menjalani kehidupan berumah tangga. Mereka baru sadar bahwa
perbedaan tersebut sulit disatukan. Masing-masing membenarkan keyakinannya dan
berusaha untuk menarik pasangannya agar mengikutinya. Meski tak selalu, hal ini
seringkali terjadi pada pasangan suami-istri yang berbeda keyakinan, sehingga
keributan pun tak dapat terhindarkan.
4.
Masalah
Komunikasi
Masalah komunikasi merupakan masalah
fundamental yang menentukan kebahagiaan keluarga, kesenjangan komunikasi sering
memicu timbulnya permasalahan lain yang lebih kompleks dan perlu disadari bahwa
apapun permasalahan dalam suami-isteri. Komunikasi selalu menjadi resep
utama dalam menyelesaikan konflik apa pun, termasuk dalam pernikahan. Saat kita
membuat dinding batas dengan pasangan, secara otomatis kita menutup kemungkinan
untuk menyelesaikan masalah ketika terjadi konflik. Padahal, dalam berumah
tangga, setiap permasalahan tentunya harus dikomunikasikan dengan pasangannya
terlebih dahulu. Jika komunikasi kurang, maka sudah hampir dapat dipastikan
akan terjadi ketimpangan dalam rumah tangga. Hal tersebut juga bisa memicu
salah satu pihak merasa tidak dihargai, atau kesalahpahaman yang terjadi terus
menerus.Bentuk-bentuk permasalahan komunikasi adalah sebagai berikut:
a.
Selalu complain
Mengeluh adalah hal
yang lumrah karena tidak ada manusia yang luput dari itu. Namun, terus mengeluh
tentang ketidakmampuan dan ketidakberhasilan anda
di hadapan pasangan, membuat pasangan lambat laun tidak menghargai Anda. Dan
akhirnya, ia menilai Anda sebagai orang yang tidak tegas
dan pengecut dalam menghadapi masalah yang ada.
b. Keterbatasan Komunikasi
Pasangan suami-istri
yang sama-sama sibuk biasanya memiliki sedikit waktu untuk berkomunikasi.
Paling-paling mereka bertemu saat hendak tidur, sarapan pagi atau di akhir
pekan. Terkadang, untuk makan malam bareng pun terlewatkan begitu saja.
Kurangnya atau tidak adanya waktu untuk saling berbagi dan berkomunikasi ini
seringkali menimbulkan salah pengertian. Suami tidak tahu masalah yang dihadapi
istri, demikian juga sebaliknya. Akhirnya, ketika bertemu bukannya saling
mencurahkan kasih sayang, namun malah cekcok.
5.
Masalah Privasi / Pribadi
Setiap orang pasti punya privasi yang tidak ingin
untuk diganggu oleh orang lain, sekalipun oleh pasangannya. Ini berarti ketika
seseorang sedang ingin untuk menikmati privasinya, maka pasangannya hendaknya
tahu dengan keinginan ini. Privasi bisa berupa hobi sejak kecil, atau kebiasaan
yang sifatnya positif. Misalnya seorang suami yang terbiasa berkumpul dengan
kawan lamanya tentu akan merasa jengkel ketika kebiasaannya
dipermasalahkan oleh sang istri. Atau seorang istri yang ingin untuk
berkumpul dengan keluarganya dalam waktu tertentu, tentu akan merasa
kesal ketika keinginannya tidak dituruti sang suami. Bagaimanapun ada situasi
dimana kedua belah pihak ingin menikmati dengan dirinya dan kebiasaannya.
Sejauh hal tersebut masih bersifat positif dan tidak berdampak buruk pada
keluarga, tentu sah-sah saja dilakukan. Dan tentu akan lebih baik kalau privasi
dibicarakan dan diketahui oleh baik suami maupun istri. Bentuk-bentuk permasalahan privasi adalah sebagai berikut :
a.
Kebiasan Buruk Suami/Istri
Kebiasaan
yang dimiliki istri atau kebiasaan yang ada pada suami tidak jarang menjadi
pemicu pertengkaran-pertengkaran kecil. Meski berusaha saling memahami satu
sama lain, pasti ada saja kebiasaan-kebiasaan yang saling bertentangan.
Karenanya, jangan pernah berhenti mempelajari dan berusaha memahami pribadi
suami atau istri.
b.
Perselingkuhan
Perselingkuhan
memang sering dianggap sebagai klimaks konflik rumah tangga. Bagaimanapun juga,
perselingkuan adalah faktor utama penyebab terjadinya perceraian. Wanita atau
pria lain yang masuk ke dalam ranah suami/istri menjadi masalah yang amat
pelik. Sebagian besar keluarga yang menjalani poligami merasa lebih nyaman
daripada mereka saling berselingkuh. Dengan kata lain, perselingkuhan bahkan
juga menjadi faktor penyebab konflik bagi suami yang menjalani poligami.
c.
Keterlibatan
Pihak Ketiga
Perlakuan
tidak menyenangkan dari teman dan keluarga bisa membuat pasangan merasa tidak
nyaman. Campur tangan orang tua atau teman Anda dalam hubungan rumah tangga
juga dapat mengikis kepercayaan pasangan pada anda. Betapa tidak, sebuah
pernikahan dibangun oleh dua orang yang saling mencintai dan percaya. Namun,
haruskah Anda menodai kepercayaan itu dengan membiarkan keluarga dan teman Anda
mendikte anda tentang rumah tangga Anda. Pihak keluarga lain juga dinilai
sebagai pemicu terjadinya konflik antara suami dan istri. Mertua dan anggota
keluarga lain sering menjadi penyebab terjadinya perselisihan antara suami dan
istri jika mereka terlalu jauh ikut campur tangan. Hal tersebut kemungkinan
besar bisa terjadi terutama bila mereka hidup dalam satu atap.
d.
Perbedaan
Latar Belakang.
Hal
ini meliputi perbedaan pemikiran, perasaan, kecenderungan, dan peran antara
suami dan istri. Sejak awal, pernikahan adalah mempertemukan dua pribadi, dua
jiwa, serta dua pemikiran, serta dua perasaan, dua kecenderungan yang tidak sama.
Jika masing-masing tidak mencoba memahami latar belakang pasangannya, maka
konflik rumah tangga akan segera melanda. Selain itu, perbedaan pengalaman
hidup dan latar belakang kultur yang membentuk pribadi masing-masing pasangan
juga menyumbang terjadinya konflik.
C.
Dampak Konflik Suami
Istri
1. Perceraian
Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan
antara seorang suami dan istri . Saat kedua
pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahan nya,
mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan. konflik antara
suami dan istri merupakan alasan yang paling
kerap dikemukakan oleh pasangan suami – istri yang akan bercerai.
2.
Psikologis Anak
a.
Mental
dan kondisi emosinal terganggu
Saat seorang
suami dan istri bertengkar dan menimbulkan teriakan,
kata-kata kasar, atau bahkan saling memukul, hal tersebut sesungguhnya telah
menimbulkan gangguan mental dan emosional pada anak. Anak akan merasa bahwa
rumah bukanlah tempat yang aman baginya karena pertengkaran seringkali terjadi
di depan matanya. Ia akan sulit mengendalikan emosinya dan cenderung
bersikap moody. Dan juga anak akan lebih rentan terhadap depresi
serta gangguan psikologis. Si anak akan merasakan tekanan batin dan kesedihan
dalam dirinya, padahal sejatinya, setiap anak bukan hanya membutuhkan perhatian
orangtuanya tapi juga keamanan dalam tempat tinggalnya.
b.
Menimbulkan
kecemasan
Ketika terjadi
konflik antara suami dan istri mungkin bisa saja si anak terlihat
baik-baik saja seperti tidak merasakan dampak apa-apa dari pertengkaran
orangtuanya. Tapi sebenarnya, hal tersebut telah menimbulkan kecemasan pada
diri anak. Seperti Intan (bukan nama sebenarnya), pelajar berumur 17 tahun
menuturkan cerita orangtuanya yang sering bertengkar sejak ia duduk di bangku
kelas 5 SD.
Akibat dari
suara barang-barang dan peralatan dapur yang pecah, suara bantingan pintu,
hingga kata-kata kasar yang keluar dari mulut kedua orangtuanya ketika bertengkar,
telah menimbulkan ketegangan tiap kali Intan di hadapkan dalam situasi
tersebut. Tak jarang ia juga sering merasa degupan jantung yang hebat ketika
suara mendengar barang-barang pecah. Selain hal tersebut, Intan kerap kali
merasakan kecemasan dan cenderung menangis jika pertengkaran orangtuanya sudah
memasuki tahap berbahaya.
c.
Konsentrasi
anak terganggu
Dengan
adanya pertengkaran hal tersebut akan membuat anak enggan belajar atau lebih
memilih melakukan aktivitas lain diluar rumah. Pertengkaran, konflik dan hal
serupa yang ditimbulkan orangtua akan lebih banyak memberikan efek buruk
ketimbang mendukung tumbuh kembang anak.Kenangan dan memori buruk akan
pertengkaran orangtuanya terekam dalam ingatan mereka dan memunculkan berbagai
macam trauma psikis. Anak akan merasa takut untuk membangun sebuah hubungan
saat ia tumbuh dewasa nanti karena bercermin pada kondisi orangtuanya. Selain
itu, karena ketiadaan peran orangtua dalam membangun hubungan secara mental dan
emosi, si anak cenderung menjadi pibadi yang pemurung atau justru sebaliknya.
3.
Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Kekerasan
dalam Rumah Tangga seperti yang tertuang dalam Undang-undang No.23 Tahun 2004
tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, memiliki arti setiap
perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya
kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau
penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan,
pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah
tangga.
Menurut
Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tindak kekerasan terhadap istri dalam
rumah tangga dibedakan kedalam 4 (empat) macam :
a.
Kekerasan
fisik
Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan
rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat. Prilaku kekerasan yang termasuk dalam
golongan ini antara lain adalah menampar, memukul, meludahi, menarik rambut
(menjambak), menendang, menyudut dengan rokok, memukul/melukai dengan senjata,
dan sebagainya. Biasanya perlakuan ini akan nampak seperti bilur-bilur, muka
lebam, gigi patah atau bekas luka lainnya.
b.
Kekerasan
psikologis / emosional
Kekerasan psikologis atau emosional adalah perbuatan
yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan
untuk bertindak, rasa tidak berdaya dan / atau penderitaan psikis berat pada
seseorang. Perilaku
kekerasan yang termasuk penganiayaan secara emosional adalah penghinaan,
komentar-komentar yang menyakitkan atau merendahkan harga diri, mengisolir
istri dari dunia luar, mengancam atau ,menakut-nakuti sebagai sarana memaksakan
kehendak.
c.
Kekerasan
seksual
Kekerasan jenis ini meliputi pengisolasian
(menjauhkan) istri dari kebutuhan batinnya, memaksa melakukan hubungan seksual,
memaksa selera seksual sendiri, tidak memperhatikan kepuasan pihak istri.
d.
Kekerasan
ekonomi
Setiap orang
dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut
hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib
memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut. Contoh
dari kekerasan jenis ini adalah tidak memberi nafkah istri, bahkan menghabiskan
uang istri
D.
Upaya Mengatasi
Konflik Suami Istri
1. Masalah
Perekonomian
a. Terbuka
Hal pertama yang harus dilakukan untuk menghindari keuangan adalah bersikap
terbuka. Baik pasangan sama-sama mencari uang atau hanya salah satu saja yang
menghasilkan uang, seharusnya tak ada yang disembunyikan masalah pengeluaran.
Selalu diskusikan semua keputusan yang menyangkut keuangan, seperti
pengeluaran, pemasukan, tabungan, dan lainnya.
b.
Tentukan
tujuan jangka panjang
Dalam hal keuangan, Anda juga harus cermat dan bijak dalam melihat masa
depan. Tentukan beberapa hal di masa depan yang membutuhkan banyak uang.
Misalkan biaya pendidikan anak, liburan, dan lainnya. Ini akan membantu Anda
menyimpan uang dan tak kewalahan ketika saatnya tiba.
c.
Menabung
Anda tak harus menabung banyak di bank, namun sediakan tabungan kecil di
rumah yang bisa Anda isi setiap minggu. Mungkin terdengar remeh, namun uang
yang terkumpul bisa jadi sangat berguna saat dibutuhkan.
d.
Sisihkan ‘uang
senang-senang’
Sisakan sedikit uang untuk hiburan atau bersenang. Jangan banyak-banyak
agar tidak terlalu boros. Anda bisa menggunakan uang tersebut untuk makan malam
bersama, nonton film, atau membeli sesuatu untuk keluarga. Anggap saja uang ini
adalah sebuah reward atas kerja keras Anda dan pasangan.
e.
Bekerjasama
untuk mengatur keuangan
Pastikan Anda dan pasangan saling bekerjasama untuk mengatur keuangan.
Jangan terlalu mendominasi atau malah pasif jika berkaitan dengan pengeluaran
atau pengaturan keuangan. Mungkin awalnya akan canggung, namun jika dibiasakan
Anda akan mendapatkan manfaat mengatur keuangan sebagai tim bersama pasangan.
f.
Memiliki
usaha sampingan
Mungkin dengan isteri bekerja membuka toko sembako ,maka sedikit demi
sedikit keluarga tersebut tidak kekurangan kebutuhan ekonomi karena saling
membantu antara suami dan isteri.
2.
Pendidikan
a.
Menghindari Konflik Berlanjut
Menghindari konflik berlanjut
adalah perilaku suami dan isteri yang berusaha untuk mengalihkan perhatian atau
mengalihkan pembicaraan kepada tema yang lain, apabila pembicaraan di antara m,\ereka
sudah mulai mengarah kepada terjadinya konflik. Misalnya, sepasang suami isteri
tengah dilanda konflik mengenai pola pendidikan anak mereka. Ada perbedaan yang
sangat mencolok dalam pendidikan anak yang mereka yakini. Setiap kali berbicara
tentang pendidikan anak, emosi masing-masing langsung bangkit dan mulai terjadi
konlik lanjutan dari konflik yang sudah ada sebelumnya. Metoda ini dilakukan dengan
jalan mengalihkan perhatian atau mengalihkan bahan pembicaraan sehingga tidak
menyangkut wilayah sensitif yang bisa membuat mereka terlibat konflik. Tentu
saja suatu saat nanti mereka harus menemukan kesepakatan tentang pola
pendidikan anak, namun harus dilakukan dalam suasana yang nyaman den tenang,
bukan emosional. Mereka perlu mencario waktu khusus untuk menyelesaikan
persoalan perbedaan pendapat tentang pendidikan anak tersebut. Namun untuk
sementara waktu, mereka bisa mengalihkan pembicaraan terlebih dulu untuk
menghindarkan dari konflik harian.
b.
Berdiskusi
Cara lain adalah dengan diskusi antara suami dan isteri untuk
mencari alternatif penyelesaian masalah yang paling memuaskan dan paling
diterima oleh mereka berdua. Suami dan isteri harus menyempatkan waktu
berduaan, dalam suasana yang tepat dan kondisi yang nyaman. Mereka berdua duduk
untuk membahas akar persoalan dan mencari jalan penyelesaian yang bisa diterima
oleh kedua belah pihak. Metode diskusi ini tepat untuk menyelesaikan konflik
yang terkait dengan sesuatu yang bersifat strategis dan berjangka panjang.
Misalnya saja konflik yang bermula dari prinsip dan keyakinan hidup, tentang
pendidikan anak, tentang memilih tempat tinggal atau rumah, dan lain
sebagainya. Keputusan tentang hal-hal tersebut bersifat strategis dan berjangka
panjang, karena akan menentukan kebaikan keluarga tersebut selama hidupnya.
Atau untuk menyelesaikan konflik yang melibatkan orang ketiga, sehingga perlu
kesepakatan bagaimana menghadapi pihak ketiga tersebut. Model Kompetensi Salah
satu pihak dari suami atau isteri mengerahkan kompetensinya untuk mencari
solusi, kemudian mengajak pasangannya untuk menyelesaikan masalah dengan cara
yang telah ditemukannya. Cara mengajak pasangan ini bisa dengan membujuk,
merayu, mengiba, atau bahkan dalam contoh kasus tertentu memaksa, agar bersedia
menyelesaikan masalah dengan caranya. Model ini biasa terjadi pada pasangan
suami isteri dimana salah satu di antara mereka bersifat sangat dominan,
sehingga terbiasa menentukan keputusan dengan caranya sendiri dan mengajak
pasangannya untuk mengikuti cara yang diinginkan. Misalnya seorang suami yang
domninan dan powerful, terbiasa mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkan
sang isteri, maka ketika terjadi konflik, suami ini cenderung memaksa sang
isteri untuk mengikuti caranya dalam menyelesaikan konflik. Masalah bisa
selesai sesaat, namun bisa menimbulkan tumpukan ketidaknyamanan isteri dalam
waktu yang panjang.
3.
Masalah Agama
a.
Lebih
memahami agama masing-masing pasangan
Hal ini kita lakukan apabila
terjadi pernikahan beda agama diantara keluarga tersebut. Bila tidak ditangani
secara hati-hati inilah yang menjadi penyebab konflik terbesar dalam keluarga
apalagi didalamnya sudah terlibat seorang anak.
b.
Toleransi
Pernikahan berbeda
keyakinan tentu saja bisa harmonis. Keharmonisan itu dapat dicapai jika
pasangan suami-istri itu memiliki sikap yang positif dalam memandang situasi.
Situasi yang dimaksud antara lain:
·
cara memandang
keyakinannya,
·
bagaimana ia memandang
keyakinan pasangannya
·
bagaimana kelak mereka mendidik anak-anak
tentang keyakinan yang dianut,
·
bagaimana
menyikapi lingkungan yang kontra terhadap pilihan hidup mereka,
·
bagaimana mereka memandang dosa-tidak dosa
Pasangan
menjadi harmonis karena mereka menyadari perbedaan yang mereka
miliki. Jadi, tidak ada istilah buta karena cinta di kamus mereka. Mereka
justru melihat dengan jelas segala perbedaan yang ada dan menyadarinya. Mereka
harmonis karena memutuskan untuk menghargai segala perbedaan itu, bukan
mencampur aduk atau menghilangkannya. Mereka menjadi harmonis karena mereka
mengembangkan toleransi, bukan mencari cara supaya salah satunya mengalah dan
berpindah keyakinan. Keharmonisan, kerukunan,
kebahagiaan dalam rumah tangga beda keyakinan hanya dapat diciptakan
oleh kualitas mental yang baik.
Jika
membangun sebuah rumah, pondasi rumah lah yang dibuat terlebih dahulu,
bukan? Jika mau rumah yang kuat dan kokoh, maka kualitas pondasinya
menjadi hal penting. Pondasinya dari semen berkualitas, batu berkualitas, dsb.
Nah, dalam relasi, pondasi itu adalah penerimaan, penghargaan, tidak merasa
keyakinannya yang paling benar, dan toleransi. Jika semua itu sudah ada maka kehidupan berumah tangga seorang suami dan istri itu pun akan berjalan dengan harmonis ke depannya.
4. Masalah
Komunikasi
Komunikasi dalam rumah tangga
sangatlah penting agar satu sama lain bisa mengekspresikan kebutuhan,
keinginan, dan kekhawatiran. Komunikasi yang terbuka dan jujur memungkinkan
masing-masing pasangan untuk mengatasi perbedaan dan menumbuhkan cinta lebih dalam
lagi.
Para peneliti menemukan bahwa terdapat hubungan yang kuat
antara pola komunikasi dan kepuasan dalam rumah tangga. Sedangkan komunikasi
yang buruk dikaitkan dengan peningkatan risiko perceraian dan masalah perilaku
anak-anak. Dalam banyak kasus, pasangan berpikir mereka sudah berkomunikasi,
tetapi pesan tidak tersampaikan dengan baik.
Masalah komunikasi yang buruk tersebut biasanya terjadi
karena perbedaan gaya percakapan antara pria dan wanita. Sebenarnya kendala ini
bisa diatasi dengan menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu. Dengan menjadi
pendengar yang baik dan juga aktif, Anda akan memahami sudut pandang pasangan
dan akhirnya Anda tahu bagaimana memulai percakapan yang nyaman untuk
mengomunikasikan hal-hal tertentu kepadanya.
Selain karena perbedaan gaya percakapan, masalah pola
komunikasi juga bisa disebabkan karena banyak pasangan, terutama yang belum
lama menikah, terkena mind-reader syndrome. Mereka berfikir, “Jika dia
benar-benar mencintaiku, dia akan tahu apa yang saya inginkan.” Padahal hal itu
salah. Keinginan dan kebutuhan hanya bisa saling diketahui jelas dengan
mengatakannya langsung secara jujur dan terbuka. Jadi, jangan ragu untuk
memulai “mari bicara” jika ada sesuatu yang Anda inginkan atau butuhkan dari
pasangan.
Sering membicarakan dan mengomunikasikan hal-hal penting
sampai tidak penting dengan pasangan akan membantu meredam masalah rumah
tangga yang mungkin timbul. Namun, menurut survey Wall Street
Journal, 40% dari responden mengatakan bahwa mereka mengalami kekurangan waktu
yang lebih besar daripada kekurangan uang.
Sebenarnya, jika jadwal Anda sangat sibuk, Ada tetap bisa
mengatur waktu komunikasi yang bermakna di antara kesibukan. Misalnya,
berangkat bersama dan bicara dalam mobil, saling mengobrol sebelum tidur, merencanakan
makan malam spesial di restoran, atau bahkan hanya sekadar tiba-tiba
mengajaknya minum secangkir teh hangat di beranda
setelah ia merampungkan pekerjaannya.
5.
Masalah Privasi atau Pribadi
a.
Saling terbuka
Komunikasi
yang sehat mutlak diperlukan untuk membangun rumah tangga yang harmonis.
Kunci untuk komunikasi yang sehat dalam keluarga adalah keterbukaan.
Menjalin rumah tangga berarti siap untuk membuka diri anda sepenuhnya
pada pasangan dan tidak menyimpan rahasia tertentu dari orang yang anda cintai.
Kembangkan juga
sikap saling terbuka untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh anda
berdua. Jangan saling memendam emosi, karena emosi yang dipendam selama
beberapa saat bisa meledak menjadi sebuah bom waktu yang menghancurkan rumah
tangga yang dibangun dengan susah payah.
b.
Melupakan
Suami dan isteri
bersepakat untuk melupakan saja konflik yang sedang mereka hadapi. Metode ini
bisa efektif apabila telah terjadi komunikasi dan hubungan yang harmonis dalam
kehidupan sehari-hari antara suami dengan isteri, sehingga mereka saling
merelakan dan saling bersepakat untuk melupakan masalah dan tidak mengungkitnya
lagi. Apabila tidak ada kesepakatan dari kedua belah untuk saling melupakan,
maka metode ini tidak efektif. Jika telah bersepakat melupakan, maka tidak
boleh ada pihak yang mengungkitnya lagi di kemudian hari. Melupakan artinya
memaafkan, dan memaafkan artinya melupakan. Jika masih mengingat dan mengungkit
masalah tersebut, berarti belum melupakan dan belum memaafkan. Model melupakan
ini menjadi senjata yang ampuh dan praktis, jika telah ada saling kepahaman,
saling pengertian, saling menjaga antara suami dengan isteri. Secara umum
kehidupan mereka baik dan harmonis saja, tidak saling melukai dan tidak saling
mengkhianati. Dalam kondisi keharmoniosan keluarga, masih tetap dijumpai
konflik dan permasalahan. Maka melupakan adalah langkah yang praktis dan mudah
dilakukan oleh suami dan isteri. Kelima model tersebut, dan model-moidel
lainnya dalam penyelesaian konflik suami isteri, bisa bersifat pilihan, bisa
pula bersifat komibinasi. Tergantung suasana, kondisi dan situasi hubungan
antara suami dan isteri. Namun yang paling penting adalah itikad baik dari
kedua belah pihak untuk menyelesaikan masalah dan menguatkan keharmonisan
keluarga.
BAB IV
PENUTUP
A.Kesimpulan
Konflik
suami-istri merupakan satu keadaan di mana kehidupan suami isteri
senantiasa
berada di dalam suasana yang tidak harmoni dan berkonflik. Suami isteri saling
benci membenci di antara satu sama lain yang umumnya diakibatkan oleh kesulitan yang dihadapi dalam
perkawinan,termasuk pertentangan mengenai persoalan ekonomi atau mengenai cara
mendidik anak.
Konflik ini terdiri dari beberapa bentuk yaitu konflik peran dalam rumah tangga, konflik
pengaturan waktu, konflik jenuh, konflik yang berpunca daripada Istri, konflik yang berpunca daripada suami. Konflik suami istri ini tentu tidak terjadi dengan
sendirinya, pasti memiliki faktor penyebab. Faktor tersebut hampir meliputi
seluruh aspek yaitu masalah ekonomi,pendidikan, ,agama,komunikasi dan pribadi.
Setelah adanya penyebab konflik maka timbullah dampak dari penyebab-penyebab
tersebut seperti perselingkuhan,psikologis anak,KDRT.
Dalam mengatasi konflik-konflik dalam suami istri ini
disesuaikan dengan penyebabnya seperti masalah ekonomi yang diatasi dengan
memiliki usaha sampingan, masalah agama yang diatasi dengan toleransi dan
lain-lain.
B.Saran
Berdasarkan
makalah diatas kami sebagai penulis memberikan saran-saran sebagai berikut :
Diharapkan
makalah ini dapat menambah wawasan dan ilmu kita tentang gambaran tentang
konflik suami-istri dan cara mengatasinya. Karena pada dasarnya,pasti akan kita
alami dihari kemudian.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Nashih Ulwan, 1993, Pedoman Pendidikan Anak
Dalam Islam, CV .Asy Syifa’, Semarang.
Sofyan S. Willis, 1995, Konseling Individual, Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Fakultas Ilmu Pendidikan, IKIP, Bandung.
Sofyan S. Willis, 1995, Konseling Individual, Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Fakultas Ilmu Pendidikan, IKIP, Bandung.
http://www.kompasiana.com/pakcah/lima-model-menyelesaikan-konflik-suami-isteri_55118dbaa33311064fba7dc3
http://asihsinplasa.blogspot.com/2012/03/problem-yang-timbul-dalam-keluarga.html
http://zientanurjaman.wordpress.com/konseling/konseling-keluarga/
http://zientanurjaman.wordpress.com/konseling/konseling-keluarga/
No comments:
Post a Comment