Sunday, August 5, 2018

SOSIOLOGI : MAKALAH KONFLIK SUAMI ISTRI


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang Masalah
Konflik sudah menjadi bagian dalam sebuah hubungan. Sehingga mustahil jika suatu hubungan suami dan istri berjalan tanpa sebuah konflik di dalamnya.Konflik antara suami dan istri adalah Konflik yang merupakan satu keadaan di mana kehidupan suami istri senantiasa berada di dalam suasana yang tidak harmoni dan berkonflik. Didalam konflik suami istri terdapat beberapa bentuk konflik seperti konflik peran dalam rumah tangga,konflik pengaturan waktu,konflik jenuh,dan konflik yang berpunca daripada istri  maupun suami. Konflik anatara suami dan istri tidak datang dengan sendirinya melainkan ada beberapa faktor penyebab sehingga timbulnya konflik, faktor itu ialah mencakup maSalah ekonomi (penghasilan, keterbatasan lapangan kerja, dan kurangnya keetrbukaan masalah keuangan), masalah pendidikan,masalah agama (perbedaan keyakinan/kepercayaan, masalah komunikassi (selalu complain, keterbatasan komunikasi) ,masalah privasi/pribadi (kebiasaan buruk suami/istri,Perselingkuhan, keterlibatan pihak ketiga dan perbedaan latar belakang).
      Penyebab-penyebab konflik ini akan menimbulkan beberapa dampak seperti perceraian,gangguan terhadap psikologis anak dan KDRT. Konflik suami – istri ini tentu tidak akan selesai dengan sendirinya . perlu beberapa upaya dalam mengatasinya . upaya ini pun disesuaikan dengan jenis faktor penyebabnya. Dalam masalah ekonomi dapat diatasi dengan sikap terbuka,menabung,membuka usaha sampingan,dll. Dalam masalah pendidikan dapat diatasi dengan menghindari konflik berlanjut,berdiskusi. Jika dalam masalah agama pihak pasangan harus toleransi terhadap perbedaan agama tersebut. Masalah komunikasi pun dapat diatasi dengan melakukan pendekatan kepada suami/istri sedangkan pada masalh privasi/pribadi dapat diatasi dengan memiliki sikap saling terbuka,dan lekas melupakan masalah yang terjadi di dalam konflik tersebut.
B.   Identifikasi Masalah
      Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dikemukakan identifikasi masalah sebagai berikut :
1.      Pengertian konflik suami-istri
2.      Bentuk-bentuk konflik suami-istri
3.      Faktor penyebab terjadinya konflik suami-istri
4.      Dampak terjadinya konflik suami-istri
5.      Upaya mengatasi konflik suami-istri

C.   Perumusan Masalah
      Berdasarkan latar belakang tersebut dapat ditarik beberapa pertanyaan sebagai rumusan masalah yang akan dibahas secara lebih mendalam. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut :
1.      Apa pengertian konflik suami-istri?
2.      Bagaimana bentuk-bentuk konflik suami-istri?
3.      Apa faktor penyebab terjadinya konflik suami-istri ?
4.      Apa dampak terjadinya konflik suami-istri?
5.      Bagaimana upaya mengatasi konflik suami-istri?

D.Tujuan Makalah
Berdasarkan rumusan masalah diatas , tujuan penulisan makalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui pengertian konflik suami-istri
2.      Untuk mengetahui bentuk-bentuk konflik suami-istri
3.      Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya suami-istri
4.      Untuk mengetahui dampak terjadinya konflik suami-istri
5.      Untuk mengetahui upaya mengatasi konflik suami-istri

E.Manfaat Makalah
            Dari tujuan makalah dapat kita ambil manfaat laporan ini adalah sebagai berikut :
1.      Agar pembaca dapat mengetahui pengertian konflik suami-istri
2.      Agar pembaca dapat mengetahui bentuk-bentuk konflik suami-istri
3.      Agar pembaca dapat mengetahui faktor penyebab terjadinya konflik suami-istri
4.      Agar pembaca dapat mengetahui dampak terjadinya konflik suami-istri
5.      Agar pembaca dapat mengetahui upaya mengatasi konflik suami-istri
BAB II
LANDASAN TEORI
A.Tinjauan Pustaka
1.      Pengertian Konflik Suami-Istri
a.      Pengertian Konflik
·        Soerjono Soekanto
            Mengatakan bahwa konflik merupakan suatu proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan atau kekerasan.

·        Lewis A Coser
              Berpendapat bahwa konflik adalah sebuah perjuangan mengenai nilai atau tuntutan atas status, kekuasaan, bermaksud untuk menetralkan, mencederai, atau melenyapkan lawan.

·        Gillin dan Gillin
              Melihat konflik sebagai bagian dari proses interaksi sosial manusia yang saling berlawanan. Artinya, konflik adalah bagian dari proses sosial yang terjadi karena adanya perbedaanperbedaan baik fisik, emosi kebudayaan , dan perilaku. Atau dengan kata lain konflik adalah salah satu proses interaksi sosial yang bersifat disosiatif.

·        De Moor
              Dalam suatu sistem sosial dapat dikatakan terdapat konflik apabila para penghuni sistem tersebut membiarkan dirinya dibimbing oleh tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang bertentangan dan terjadi secara besar-besaran.

·        Robert M. Z. Lawang
              Konflik merupakan sebuah perjuangan untuk memperoleh hal-hal yang langka seperti nilai, status, kekuasaan dan sebagainya. Tujuan dari mereka yang berkonflik itu tidak hanya untuk memperoleh kemenangan, tetapi juga untuk menundukkan pesaingnya (lawannya).

·        Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977)
              Konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat dari pada berbangkit nya keadaan ketidak setujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak  atau lebih pihak secara berterusan.

b.      Pengertian Suami-istri
·         Menurut islam
Suami adalah seorang laki-laki Sabar, Usaha, Amanah, Membimbing, Istiqomah, Sabar : Seorang suami harus sabar untuk menghadapi segala ujian dalam rumah tangga, termasuk dengan omelan omelan istri jika istrinya cerewet. Usaha: Seorang suami hendaknya ia bekerja untuk menghidupi keluarganya, dalam hal ini hukumnya adalah wajib, karena seorang lelaki adalah pemimpin bagi setiap perempuan. Amanah: Istri merupakan tulang rusuk kiri suami, maksudnya kodrat perempuan adalah titipan Tuhan untuk kaum laki laki, Sebuah beban yang harus ditanggung lelaki untuk mempelihara setiap istrinya. Membimbing: Suami adalah kepala rumah tangga bagi setiap keluarga, jika suami tidak bisa membimbing atau mengarahkan keluarganya kejalur yang baik maka rusaklah pula rumah tangganya. Istiqomah: Suami harus teguh pendiriannya, agar tujaun membina keluarganya dapat tercapai dengan baik.
Istri adalah seorang wanita yang Ikhlas, Sholehah, Taat, Rajin, Iman Kaum perempuan adalah kaum yang paling mudah untuk masuk sorga tetapi juga paling mudah mereka masuk neraka. Ikhlas : Setiap istri harusnya ikhlas terhadap pemberian suaminya, setiap apa yang suami nafkahkan kepada istrinya, tidak meminta lebih ataupun kurang, asalkan nafkah yang diberi tersebut halal. Istri juga wajib ikhlas dengan pekerjaan yang ditanggungnya dalam kehidupan berumah tangga. Sholehah: Sifat sholehah adalah dambaan bagi setiap lelaki untuk memiliki istri yang mempunyai sifat tersebut. Taat : Istri wajib taat kepada suami, Setiap apa apa yang diperintahkan suami asal tidak maksiat maka istri wajib untuk mentaatinya. Rajin : Setiap perempuan yang telah menjadi istri maka hendaklan rajin dalam urusan rumah tangga Iman  : Selain beiman kepada Tuhannya, setiap istri juga harus beriman kepada suaminya. Jika Tuhan memerintahkan manusia untuk bersujud selain kepada Dia, maka akan diperintahkan setiap istri untuk bersujud dihadapan suami.

·        Menurut Chaniago 2002
            Suami adalah pasangan hidup istri (ayah dari anak-anak), suami mempunyai suatu tanggung jawab yang penuh dalam suatu keluarga tersebut dan suami mempunyai peranan yang penting, dimana suami sangat dituntut bukan hanya sebagai pencari nafkah akan tetapi suami sebagai motivator dalam berbagai kebijakan yang akan di putuskan termasuk merencanakan keluarga. Sedangkan istri adalah pasangan hidup suami ( ibu dari anak-anak).

·        Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
            Suami adalah pria yg menjadi pasangan hidup resmi seorang wanita (istri) sedangkan istri adalah wanita (perempuan) yang telah menikah atau yang bersuami. Jadi suami istri adalah pasangan laki-laki dan perempuan yg telah menikah.

c.       Pengertian Konflik Suami-Istri
Konflik yang merupakan satu keadaan di mana kehidupan suami isteri senantiasa berada di dalam suasana yang tidak harmoni dan berkonflik. Suami isteri saling benci membenci di antara satu sama lain yang umumnya diakibatkan oleh kesulitan yang dihadapi dalam perkawinan,termasuk pertentangan mengenai persoalan ekonomi atau mengenai cara mendidik anak.







BAB III
PEMBAHASAN
A.   Bentuk-Bentuk Konflik Suami-Istri
1.      Konflik peran dalam rumah tangga
Ketika salah satu pasangan cenderung keras kepala dalam pengaturan tugas rumah tangga, sehingga tercipta kondisi “atasan” dan “bawahan” dalam pernikahan. Alhasil, pasangan yang dikondisikan menjadi “bawahan” merasa tertekan dan memberontak.

2.      Konflik pengaturan waktu
Masalah yang terjadi akibat suami atau istri selalu menolak menjalani kegiatan bersama sehingga salah satu pihak merasa tidak diperhatikan dan kesepian. Tidak adanya keseimbangan waktu kerja dan personal harus yang baik . Makna “Kami” dalam rumah tangga berarti kondisi saling melengkapi antara suami dan istri. Pasangan suami dan istri, walaupun tak harus setiap waktu bersama bergandengan tangan, tetapi harus ingat bahwa suami dan istri adalah kesatuan.

3.      Konflik jenuh
Bosan dan jenuh terhadap pasangan adalah persoalaan wajar yang dihadapi banyak suami dan istri. Namun, bakal menjadi masalah ketika salah satu pasangan nekad menguji kesabaran pasangannya dengan selingkuh atau sengaja memerhatikan orang lain secara berlebihan.

4.      Konflik Yang Berpunca Daripada Istri
Konflik ini adalah konflik yang  berlaku apabila isteri enggan memenuhi kehendak suami, sering marah, benci serta tidak taat kepada suami. Isteri juga meninggalkan tugas dan kewajipannya serta meninggikan diri serta berlaku curang terhadap suami. Banyak faktor-faktor yang menyebabkan isteri bertindak sedemikian, termasuk faktor pada diri isteri sendiri, suami dan factor-faktor luaran.




5.      Konflik Yang Berpunca Daripada Suami
Konflik ini terjadi apabila seorang suami bersikap keras, isteri tidak bergaul dengan baik, tidak menjalankan kewajipan terhadap isteri, buat hubungan dengan perempuan lain dan sebagainya.
Berikut adalah salah satu contoh kasus mengenai konflik suami-istri. Kasus
Albertus (nama samaran, disingkat A) adalah seorang yang lahir dan dibesarkan tanpa kehadiran seorang ayah. Sebelum ia lahir ayah dan ibunya bercerai. Tentu saja ini mempengaruhi kepribadian ibu dan dirinya sendiri.
A adalah seorang yang berjuang keras hingga memperoleh gelar yang sangat tinggi pada usia yang masih sangat muda. Dia pria yang sangat sibuk dalam karirnya. Istri A sebutlah Indri (nama samaran, disingkat I) juga seorang cerdas dan wanita karir yang hebat. Namun Indri sebelum menikah dengan A pernah menikmati keintiman dengan beberapa pria, bahkan sampai pada bentuk hubungan suami-istri.
Di sisi lain, Ketika baru saja menikah ternyata sang suami harus pergi ke luar negeri untuk studi. Hal ini tentu membawa pergumulan tersendiri baginya sebagai Indri, yang masih mendambakan keintiman dan kemesraan pada usia pernikahan yang baru.
Untuk mengatasi kesepian I, A mendorong istrinya untuk mengambil gelar Doktor. Dengan demikian tekanan dalam penyesuaian diri sebagai suami istri dan studi menjadi semakin besar. Akhirnya Indri terjebak mencari kemesraan dengan pria idaman lain (PIL), karena dia makin sering berjumpa sahabatnya di kantor dan saat kuliah.
Lama kelamaan A mengetahui perselingkuhan istrinya itu. Ditambah dengan catatan masa lalu istrinya yang belum pupus dalam ingatan A, membuat A menjadi sulit untuk mempercayai istrinya. Inilah latar belakang yang menimbulkan konflik dalam rumah tangga A.

B.   Faktor Penyebab Terjadinya Konflik Suami-Istri
Konflik di dalam rumah tangga muncul akibat berbagai macam masalah yang terjadi diantara suami istri. Masalah-masalah di dalam rumah tangga yang bisa memicu konflik biasanya terjadi akibat adanya ketidakseimbangan di dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga yang sifatnya urgent. Dan apabila kebutuhan ini tidak bisa terpenuhi, seringnya penyikapan dari salah satu pasangan akan selalu berujung negatif, sehingga akan menciptakan sebuah konflik di dalam kehidupan suami dan istri tersebut.

1.      Masalah Perekonomian
Perekonomian yang carut marut bisa menjadi penyebab dominan hilangnya keharmonisan rumah tangga, terlebih jika pasangan suami istri jauh dari rasa syukur. Perselisihan sering dipicu oleh tidak terpenuhinya kebutuhan hidup. Dalam beberapa kasus, perbedaan penghasilan antara suami dan istri (terutama bila penghasilan istri lebih besar) membuat istri lebih banyak menuntut suaminya.Jika kehidupan emosional suami isteri tidak dewasa, maka akan timbul pertengkaran. Sebab, isteri banyak menuntut hal-hal di luar makan dan minum. Padahala penghasilan suami sebagai buruh lepas, hanya dapat memberi makan dan rumah petak tempat berlindung yang sewanya terjangkau. Akan tetapi yang namanya manusia sering bernafsu contohnya ingin memiliki televisi, radio dan sebagainya sebagaimana layaknya sebuah pasangan yang normal. Karena suami tidak sanggup memenuhi tuntutan isteri dan anak-anaknya akan kebutuhan-kebutuhan yang disebutkan tadi, maka timbullah pertengkaran suami isteri yang sering menjurus kearah perceraian. Suami yang egois dan tidak dapat menahan emosinya lalu menceraikan isterinya. Akibatnya terjadilah kehancuran sebuah keluarga sebagai dampak kekurangan ekonomi. Bentuk-bentuk permasalahan ekonomi adalah sebagai berikut :
a.      Penghasilan
      Penghasilan suami lebih besar dari penghasilan istri adalah hal yang biasa. Namun, bila yang terjadi kebalikannya, sang istri yang lebih besar, bisa-bisa timbul masalah. Suami merasa minder karena tidak dihargai penghasilannya, sementara istri pun merasa dirinya berada di atas, sehingga jadi sombong dan tidak hormat lagi pada pasangannya.

b.      Keterbatasan Lapangan Kerja
Peluang kerja semakin terbatas tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja. Persaingan dalam dunia kerja dan dunia usaha juga semakin tajam menambah makin beratnya beban keluarga adakalanya pasangan suami-isteri terpaksa bekerja serabutan atau bekerja di luar kompetensinya demi memperoleh penghasilan, Persoalan pekerjaan di kantor sering berimbas pada rumah tangga. Kesibukannya terfokus pada pekerjaan pencarian materi yaitu harta dan uang. Makna kesuksesan hidup tidaklah semata-mata berorientasi materi.

c.       Kurangnya keterbukaan masalah keuangan.
Bagaimanapun  masalah keuangan adalah sesuatu yang sangat penting dalam keluarga. Suami seharusnya terbuka akan penghasilan yang mereka peroleh. Sehingga istri tidak memendam kecurigaan kepada suaminya. Dan sebaliknya, istri hendaknya memberikan informasi kemana uang dimanfaatkan. Serta mengatur sesuai dengan kemampuan suami. Sehingga suami merasa lega ketika apa yang diperolehnya dimanfaatkan pada sesuatu yang penting dan bermanfaat. Dan memberinya motivasi untuk bekerja lebih giat.

2.      Masalah pendidikan
Masalah pendidikan sering merupakan penyebab terjadinya problem di dalam hubungan antara suami dan isti. Jika pendidikan sedang pada suami-isteri, maka wawasan tentang kehidupan keluarga dapat dipahami oleh mereka. Sebaliknya pada suami-isteri yang pendidikannya rendah sering tidak dapat memahami liku-liku keluarga. Akibatnya terjadi selalu pertengkaran yang mungkin menjadi perceraian. Jika pendidikan agama ada atau lumayan, mungkin sekali kelemahan dibidang pendidikan akan diatasi. Artinya suami-isteri akan dapat mngekang nafsu masing-masing sehingga pertengkaran dapat dihindari.

3.      Masalah Agama 
Agama sangat penting peranannya dalam membangun keluarga bahagia. Termasuk dalam hal menentukan arah keluarga, pernikahan yang di bangun atas dasar kesamaan agama terkadang sering bermasalah apa lagi dengan pernikahan yang beda agama pasti mempunyai masalah. Dari perbedaan agama inilah muncul permasalahan dalam sebuah rumah tangga. Bentuk-bentuk permasalahan agama adalah sebagai berikut :

a.      Perbedaan Keyakinan/Kepercayaan
Biasanya, pasangan yang sudah berikrar untuk bersatu sehidup-semati tidak mempersoalkan masalah keyakinan yang berbeda antar mereka. Namun, persoalan biasanya akan timbul manakala mereka mulai menjalani kehidupan berumah tangga. Mereka baru sadar bahwa perbedaan tersebut sulit disatukan. Masing-masing membenarkan keyakinannya dan berusaha untuk menarik pasangannya agar mengikutinya. Meski tak selalu, hal ini seringkali terjadi pada pasangan suami-istri yang berbeda keyakinan, sehingga keributan pun tak dapat terhindarkan.

4.      Masalah Komunikasi
Masalah komunikasi merupakan masalah fundamental yang menentukan kebahagiaan keluarga, kesenjangan komunikasi sering memicu timbulnya permasalahan lain yang lebih kompleks dan perlu disadari bahwa apapun permasalahan dalam suami-isteri. Komunikasi selalu menjadi resep utama dalam menyelesaikan konflik apa pun, termasuk dalam pernikahan. Saat kita membuat dinding batas dengan pasangan, secara otomatis kita menutup kemungkinan untuk menyelesaikan masalah ketika terjadi konflik. Padahal, dalam berumah tangga, setiap permasalahan tentunya harus dikomunikasikan dengan pasangannya terlebih dahulu. Jika komunikasi kurang, maka sudah hampir dapat dipastikan akan terjadi ketimpangan dalam rumah tangga. Hal tersebut juga bisa memicu salah satu pihak merasa tidak dihargai, atau kesalahpahaman yang terjadi terus menerus.Bentuk-bentuk permasalahan komunikasi adalah sebagai berikut:

a.      Selalu complain
Mengeluh adalah hal yang lumrah karena tidak ada manusia yang luput dari itu. Namun, terus mengeluh tentang ketidakmampuan dan ketidakberhasilan anda di hadapan pasangan, membuat pasangan lambat laun tidak menghargai Anda. Dan akhirnya, ia menilai Anda sebagai orang yang tidak tegas dan pengecut dalam menghadapi masalah yang ada.

b.      Keterbatasan Komunikasi
Pasangan suami-istri yang sama-sama sibuk biasanya memiliki sedikit waktu untuk berkomunikasi. Paling-paling mereka bertemu saat hendak tidur, sarapan pagi atau di akhir pekan. Terkadang, untuk makan malam bareng pun terlewatkan begitu saja. Kurangnya atau tidak adanya waktu untuk saling berbagi dan berkomunikasi ini seringkali menimbulkan salah pengertian. Suami tidak tahu masalah yang dihadapi istri, demikian juga sebaliknya. Akhirnya, ketika bertemu bukannya saling mencurahkan kasih sayang, namun malah cekcok.
5.      Masalah Privasi / Pribadi
Setiap orang pasti punya privasi yang tidak ingin untuk diganggu oleh orang lain, sekalipun oleh pasangannya. Ini berarti ketika seseorang sedang ingin untuk menikmati privasinya, maka pasangannya hendaknya tahu dengan keinginan ini. Privasi bisa berupa hobi sejak kecil, atau kebiasaan yang sifatnya positif. Misalnya seorang suami yang terbiasa berkumpul dengan kawan lamanya  tentu akan merasa jengkel ketika kebiasaannya dipermasalahkan oleh sang istri. Atau seorang  istri yang ingin untuk berkumpul dengan keluarganya dalam waktu tertentu, tentu akan  merasa kesal ketika keinginannya tidak dituruti sang suami. Bagaimanapun ada situasi dimana kedua belah pihak ingin menikmati dengan dirinya dan kebiasaannya.  Sejauh hal tersebut masih bersifat positif dan tidak berdampak buruk pada keluarga, tentu sah-sah saja dilakukan. Dan tentu akan lebih baik kalau privasi dibicarakan dan diketahui oleh baik suami maupun istri. Bentuk-bentuk permasalahan privasi adalah sebagai berikut :

a.      Kebiasan Buruk Suami/Istri
Kebiasaan yang dimiliki istri atau kebiasaan yang ada pada suami tidak jarang menjadi pemicu pertengkaran-pertengkaran kecil. Meski berusaha saling memahami satu sama lain, pasti ada saja kebiasaan-kebiasaan yang saling bertentangan. Karenanya, jangan pernah berhenti mempelajari dan berusaha memahami pribadi suami atau istri.

b.      Perselingkuhan
Perselingkuhan memang sering dianggap sebagai klimaks konflik rumah tangga. Bagaimanapun juga, perselingkuan adalah faktor utama penyebab terjadinya perceraian. Wanita atau pria lain yang masuk ke dalam ranah suami/istri menjadi masalah yang amat pelik. Sebagian besar keluarga yang menjalani poligami merasa lebih nyaman daripada mereka saling berselingkuh. Dengan kata lain, perselingkuhan bahkan juga menjadi faktor penyebab konflik bagi suami yang menjalani poligami.

c.       Keterlibatan Pihak Ketiga
Perlakuan tidak menyenangkan dari teman dan keluarga bisa membuat pasangan merasa tidak nyaman. Campur tangan orang tua atau teman Anda dalam hubungan rumah tangga juga dapat mengikis kepercayaan pasangan pada anda. Betapa tidak, sebuah pernikahan dibangun oleh dua orang yang saling mencintai dan percaya. Namun, haruskah Anda menodai kepercayaan itu dengan membiarkan keluarga dan teman Anda mendikte anda tentang rumah tangga Anda. Pihak keluarga lain juga dinilai sebagai pemicu terjadinya konflik antara suami dan istri. Mertua dan anggota keluarga lain sering menjadi penyebab terjadinya perselisihan antara suami dan istri jika mereka terlalu jauh ikut campur tangan. Hal tersebut kemungkinan besar bisa terjadi terutama bila mereka hidup dalam satu atap.

d.      Perbedaan Latar Belakang.
Hal ini meliputi perbedaan pemikiran, perasaan, kecenderungan, dan peran antara suami dan istri. Sejak awal, pernikahan adalah mempertemukan dua pribadi, dua jiwa, serta dua pemikiran, serta dua perasaan, dua kecenderungan yang tidak sama. Jika masing-masing tidak mencoba memahami latar belakang pasangannya, maka konflik rumah tangga akan segera melanda. Selain itu, perbedaan pengalaman hidup dan latar belakang kultur yang membentuk pribadi masing-masing pasangan juga menyumbang terjadinya konflik.

C.   Dampak Konflik Suami Istri
1.      Perceraian
Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan antara seorang suami dan istri . Saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahan nya, mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan. konflik antara suami dan istri merupakan alasan yang paling kerap dikemukakan oleh pasangan suami – istri yang akan bercerai.

2.      Psikologis Anak
a.      Mental dan kondisi emosinal terganggu
Saat seorang suami dan istri bertengkar dan menimbulkan teriakan, kata-kata kasar, atau bahkan saling memukul, hal tersebut sesungguhnya telah menimbulkan gangguan mental dan emosional pada anak. Anak akan merasa bahwa rumah bukanlah tempat yang aman baginya karena pertengkaran seringkali terjadi di depan matanya. Ia akan sulit mengendalikan emosinya dan cenderung bersikap moody. Dan juga anak akan lebih rentan terhadap depresi serta gangguan psikologis. Si anak akan merasakan tekanan batin dan kesedihan dalam dirinya, padahal sejatinya, setiap anak bukan hanya membutuhkan perhatian orangtuanya tapi juga keamanan dalam tempat tinggalnya.

b.      Menimbulkan kecemasan
Ketika terjadi konflik antara suami dan istri mungkin bisa saja si anak terlihat baik-baik saja seperti tidak merasakan dampak apa-apa dari pertengkaran orangtuanya. Tapi sebenarnya, hal tersebut telah menimbulkan kecemasan pada diri anak. Seperti Intan (bukan nama sebenarnya), pelajar berumur 17 tahun menuturkan cerita orangtuanya yang sering bertengkar sejak ia duduk di bangku kelas 5 SD.
Akibat dari suara barang-barang dan peralatan dapur yang pecah, suara bantingan pintu, hingga kata-kata kasar yang keluar dari mulut kedua orangtuanya ketika bertengkar, telah menimbulkan ketegangan tiap kali Intan di hadapkan dalam situasi tersebut. Tak jarang ia juga sering merasa degupan jantung yang hebat ketika suara mendengar barang-barang pecah. Selain hal tersebut, Intan kerap kali merasakan kecemasan dan cenderung menangis jika pertengkaran orangtuanya sudah memasuki tahap berbahaya.

c.       Konsentrasi anak terganggu
Dengan adanya pertengkaran hal tersebut akan membuat anak enggan belajar atau lebih memilih melakukan aktivitas lain diluar rumah. Pertengkaran, konflik dan hal serupa yang ditimbulkan orangtua akan lebih banyak memberikan efek buruk ketimbang mendukung tumbuh kembang anak.Kenangan dan memori buruk akan pertengkaran orangtuanya terekam dalam ingatan mereka dan memunculkan berbagai macam trauma psikis. Anak akan merasa takut untuk membangun sebuah hubungan saat ia tumbuh dewasa nanti karena bercermin pada kondisi orangtuanya. Selain itu, karena ketiadaan peran orangtua dalam membangun hubungan secara mental dan emosi, si anak cenderung menjadi pibadi yang pemurung atau justru sebaliknya.

3.      Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Kekerasan dalam Rumah Tangga seperti yang tertuang dalam Undang-undang No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, memiliki arti setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.
Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tindak kekerasan terhadap istri dalam  rumah tangga dibedakan kedalam 4 (empat) macam :
a.      Kekerasan fisik
Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat. Prilaku kekerasan yang termasuk dalam golongan ini antara lain adalah menampar, memukul, meludahi, menarik rambut (menjambak), menendang, menyudut dengan rokok, memukul/melukai dengan senjata, dan sebagainya. Biasanya perlakuan ini akan nampak seperti bilur-bilur, muka lebam, gigi patah atau bekas luka lainnya.

b.      Kekerasan psikologis / emosional
Kekerasan psikologis atau emosional adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya dan / atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Perilaku kekerasan yang termasuk penganiayaan secara emosional adalah penghinaan, komentar-komentar yang menyakitkan atau merendahkan harga diri, mengisolir istri dari dunia luar, mengancam atau ,menakut-nakuti sebagai sarana memaksakan kehendak.

c.       Kekerasan seksual
Kekerasan jenis ini meliputi pengisolasian (menjauhkan) istri dari kebutuhan batinnya, memaksa melakukan hubungan seksual, memaksa selera seksual sendiri, tidak memperhatikan kepuasan pihak istri.

d.      Kekerasan ekonomi
Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut. Contoh dari kekerasan jenis ini adalah tidak memberi nafkah istri, bahkan menghabiskan uang istri

D.   Upaya Mengatasi Konflik Suami Istri
1.      Masalah Perekonomian
a.      Terbuka
Hal pertama yang harus dilakukan untuk menghindari keuangan adalah bersikap terbuka. Baik pasangan sama-sama mencari uang atau hanya salah satu saja yang menghasilkan uang, seharusnya tak ada yang disembunyikan masalah pengeluaran. Selalu diskusikan semua keputusan yang menyangkut keuangan, seperti pengeluaran, pemasukan, tabungan, dan lainnya.

b.      Tentukan tujuan jangka panjang
Dalam hal keuangan, Anda juga harus cermat dan bijak dalam melihat masa depan. Tentukan beberapa hal di masa depan yang membutuhkan banyak uang. Misalkan biaya pendidikan anak, liburan, dan lainnya. Ini akan membantu Anda menyimpan uang dan tak kewalahan ketika saatnya tiba.

c.       Menabung
Anda tak harus menabung banyak di bank, namun sediakan tabungan kecil di rumah yang bisa Anda isi setiap minggu. Mungkin terdengar remeh, namun uang yang terkumpul bisa jadi sangat berguna saat dibutuhkan.

d.      Sisihkan ‘uang senang-senang’
Sisakan sedikit uang untuk hiburan atau bersenang. Jangan banyak-banyak agar tidak terlalu boros. Anda bisa menggunakan uang tersebut untuk makan malam bersama, nonton film, atau membeli sesuatu untuk keluarga. Anggap saja uang ini adalah sebuah reward atas kerja keras Anda dan pasangan.

e.       Bekerjasama untuk mengatur keuangan
Pastikan Anda dan pasangan saling bekerjasama untuk mengatur keuangan. Jangan terlalu mendominasi atau malah pasif jika berkaitan dengan pengeluaran atau pengaturan keuangan. Mungkin awalnya akan canggung, namun jika dibiasakan Anda akan mendapatkan manfaat mengatur keuangan sebagai tim bersama pasangan.


f.       Memiliki usaha sampingan
Mungkin dengan isteri bekerja membuka toko sembako ,maka sedikit demi sedikit keluarga tersebut tidak kekurangan kebutuhan ekonomi karena saling membantu antara suami dan isteri.

2.      Pendidikan
a.      Menghindari Konflik Berlanjut
Menghindari konflik berlanjut adalah perilaku suami dan isteri yang berusaha untuk mengalihkan perhatian atau mengalihkan pembicaraan kepada tema yang lain, apabila pembicaraan di antara m,\ereka sudah mulai mengarah kepada terjadinya konflik. Misalnya, sepasang suami isteri tengah dilanda konflik mengenai pola pendidikan anak mereka. Ada perbedaan yang sangat mencolok dalam pendidikan anak yang mereka yakini. Setiap kali berbicara tentang pendidikan anak, emosi masing-masing langsung bangkit dan mulai terjadi konlik lanjutan dari konflik yang sudah ada sebelumnya. Metoda ini dilakukan dengan jalan mengalihkan perhatian atau mengalihkan bahan pembicaraan sehingga tidak menyangkut wilayah sensitif yang bisa membuat mereka terlibat konflik. Tentu saja suatu saat nanti mereka harus menemukan kesepakatan tentang pola pendidikan anak, namun harus dilakukan dalam suasana yang nyaman den tenang, bukan emosional. Mereka perlu mencario waktu khusus untuk menyelesaikan persoalan perbedaan pendapat tentang pendidikan anak tersebut. Namun untuk sementara waktu, mereka bisa mengalihkan pembicaraan terlebih dulu untuk menghindarkan dari konflik harian.

b.      Berdiskusi
Cara lain adalah dengan diskusi antara suami dan isteri untuk mencari alternatif penyelesaian masalah yang paling memuaskan dan paling diterima oleh mereka berdua. Suami dan isteri harus menyempatkan waktu berduaan, dalam suasana yang tepat dan kondisi yang nyaman. Mereka berdua duduk untuk membahas akar persoalan dan mencari jalan penyelesaian yang bisa diterima oleh kedua belah pihak. Metode diskusi ini tepat untuk menyelesaikan konflik yang terkait dengan sesuatu yang bersifat strategis dan berjangka panjang. Misalnya saja konflik yang bermula dari prinsip dan keyakinan hidup, tentang pendidikan anak, tentang memilih tempat tinggal atau rumah, dan lain sebagainya. Keputusan tentang hal-hal tersebut bersifat strategis dan berjangka panjang, karena akan menentukan kebaikan keluarga tersebut selama hidupnya. Atau untuk menyelesaikan konflik yang melibatkan orang ketiga, sehingga perlu kesepakatan bagaimana menghadapi pihak ketiga tersebut. Model Kompetensi Salah satu pihak dari suami atau isteri mengerahkan kompetensinya untuk mencari solusi, kemudian mengajak pasangannya untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang telah ditemukannya. Cara mengajak pasangan ini bisa dengan membujuk, merayu, mengiba, atau bahkan dalam contoh kasus tertentu memaksa, agar bersedia menyelesaikan masalah dengan caranya. Model ini biasa terjadi pada pasangan suami isteri dimana salah satu di antara mereka bersifat sangat dominan, sehingga terbiasa menentukan keputusan dengan caranya sendiri dan mengajak pasangannya untuk mengikuti cara yang diinginkan. Misalnya seorang suami yang domninan dan powerful, terbiasa mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkan sang isteri, maka ketika terjadi konflik, suami ini cenderung memaksa sang isteri untuk mengikuti caranya dalam menyelesaikan konflik. Masalah bisa selesai sesaat, namun bisa menimbulkan tumpukan ketidaknyamanan isteri dalam waktu yang panjang.

3.      Masalah Agama
a.       Lebih memahami agama masing-masing pasangan
Hal ini kita lakukan apabila terjadi pernikahan beda agama diantara keluarga tersebut. Bila tidak ditangani secara hati-hati inilah yang menjadi penyebab konflik terbesar dalam keluarga apalagi didalamnya sudah terlibat seorang anak.

b.      Toleransi
Pernikahan berbeda keyakinan tentu saja bisa harmonis. Keharmonisan itu dapat dicapai jika pasangan suami-istri itu memiliki sikap yang positif dalam memandang situasi. Situasi yang dimaksud antara lain:
·        cara memandang keyakinannya,
·        bagaimana ia memandang keyakinan pasangannya
·         bagaimana kelak mereka mendidik anak-anak tentang keyakinan yang dianut,
·        bagaimana menyikapi lingkungan yang kontra terhadap pilihan hidup mereka,
·         bagaimana mereka memandang dosa-tidak dosa
Pasangan menjadi harmonis karena mereka menyadari perbedaan yang mereka miliki. Jadi, tidak ada istilah buta karena cinta di kamus mereka. Mereka justru melihat dengan jelas segala perbedaan yang ada dan menyadarinya. Mereka harmonis karena memutuskan untuk menghargai segala perbedaan itu, bukan mencampur aduk atau menghilangkannya. Mereka menjadi harmonis karena mereka mengembangkan toleransi, bukan mencari cara supaya salah satunya mengalah dan berpindah keyakinan. Keharmonisan, kerukunan, kebahagiaan dalam rumah tangga beda keyakinan hanya dapat diciptakan oleh kualitas mental yang baik.
Jika membangun sebuah rumah, pondasi rumah lah yang dibuat terlebih dahulu, bukan?  Jika mau rumah yang kuat dan kokoh, maka kualitas pondasinya menjadi hal penting. Pondasinya dari semen berkualitas, batu berkualitas, dsb. Nah, dalam relasi, pondasi itu adalah penerimaan, penghargaan, tidak merasa keyakinannya yang paling benar, dan toleransi. Jika semua itu sudah ada maka kehidupan berumah tangga seorang suami dan istri itu pun akan berjalan dengan harmonis ke depannya.

4.      Masalah Komunikasi
Komunikasi dalam rumah tangga sangatlah penting agar satu sama lain bisa mengekspresikan kebutuhan, keinginan, dan kekhawatiran. Komunikasi yang terbuka dan jujur memungkinkan masing-masing pasangan untuk mengatasi perbedaan dan menumbuhkan cinta lebih dalam lagi.
Para peneliti menemukan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola komunikasi dan kepuasan dalam rumah tangga. Sedangkan komunikasi yang buruk dikaitkan dengan peningkatan risiko perceraian dan masalah perilaku anak-anak. Dalam banyak kasus, pasangan berpikir mereka sudah berkomunikasi, tetapi pesan tidak tersampaikan dengan baik.
Masalah komunikasi yang buruk tersebut biasanya terjadi karena perbedaan gaya percakapan antara pria dan wanita. Sebenarnya kendala ini bisa diatasi dengan menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu. Dengan menjadi pendengar yang baik dan juga aktif, Anda akan memahami sudut pandang pasangan dan akhirnya Anda tahu bagaimana memulai percakapan yang nyaman untuk mengomunikasikan hal-hal tertentu kepadanya.
Selain karena perbedaan gaya percakapan, masalah pola komunikasi juga bisa disebabkan karena banyak pasangan, terutama yang belum lama menikah, terkena mind-reader syndrome. Mereka berfikir, “Jika dia benar-benar mencintaiku, dia akan tahu apa yang saya inginkan.” Padahal hal itu salah. Keinginan dan kebutuhan hanya bisa saling diketahui jelas dengan mengatakannya langsung secara jujur dan terbuka. Jadi, jangan ragu untuk memulai “mari bicara” jika ada sesuatu yang Anda inginkan atau butuhkan dari pasangan.
Sering membicarakan dan mengomunikasikan hal-hal penting sampai tidak penting dengan pasangan akan membantu meredam masalah rumah tangga yang mungkin timbul. Namun, menurut survey Wall Street Journal, 40% dari responden mengatakan bahwa mereka mengalami kekurangan waktu yang lebih besar daripada kekurangan uang.
Sebenarnya, jika jadwal Anda sangat sibuk, Ada tetap bisa mengatur waktu komunikasi yang bermakna di antara kesibukan. Misalnya, berangkat bersama dan bicara dalam mobil, saling mengobrol sebelum tidur, merencanakan makan malam spesial di restoran, atau bahkan hanya sekadar tiba-tiba mengajaknya minum secangkir teh hangat di beranda setelah ia merampungkan pekerjaannya.

5.      Masalah Privasi atau Pribadi
a.      Saling terbuka
Komunikasi yang sehat mutlak diperlukan untuk membangun rumah tangga yang harmonis.  Kunci untuk komunikasi yang sehat dalam keluarga adalah keterbukaan.  Menjalin rumah tangga berarti siap untuk membuka diri anda sepenuhnya pada pasangan dan tidak menyimpan rahasia tertentu dari orang yang anda cintai.
Kembangkan juga sikap saling terbuka untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh anda berdua.  Jangan saling memendam emosi, karena emosi yang dipendam selama beberapa saat bisa meledak menjadi sebuah bom waktu yang menghancurkan rumah tangga yang dibangun dengan susah payah.
b.      Melupakan
Suami dan isteri bersepakat untuk melupakan saja konflik yang sedang mereka hadapi. Metode ini bisa efektif apabila telah terjadi komunikasi dan hubungan yang harmonis dalam kehidupan sehari-hari antara suami dengan isteri, sehingga mereka saling merelakan dan saling bersepakat untuk melupakan masalah dan tidak mengungkitnya lagi. Apabila tidak ada kesepakatan dari kedua belah untuk saling melupakan, maka metode ini tidak efektif. Jika telah bersepakat melupakan, maka tidak boleh ada pihak yang mengungkitnya lagi di kemudian hari. Melupakan artinya memaafkan, dan memaafkan artinya melupakan. Jika masih mengingat dan mengungkit masalah tersebut, berarti belum melupakan dan belum memaafkan. Model melupakan ini menjadi senjata yang ampuh dan praktis, jika telah ada saling kepahaman, saling pengertian, saling menjaga antara suami dengan isteri. Secara umum kehidupan mereka baik dan harmonis saja, tidak saling melukai dan tidak saling mengkhianati. Dalam kondisi keharmoniosan keluarga, masih tetap dijumpai konflik dan permasalahan. Maka melupakan adalah langkah yang praktis dan mudah dilakukan oleh suami dan isteri. Kelima model tersebut, dan model-moidel lainnya dalam penyelesaian konflik suami isteri, bisa bersifat pilihan, bisa pula bersifat komibinasi. Tergantung suasana, kondisi dan situasi hubungan antara suami dan isteri. Namun yang paling penting adalah itikad baik dari kedua belah pihak untuk menyelesaikan masalah dan menguatkan keharmonisan keluarga.













BAB IV
PENUTUP
A.Kesimpulan
Konflik suami-istri merupakan satu keadaan di mana kehidupan suami isteri senantiasa berada di dalam suasana yang tidak harmoni dan berkonflik. Suami isteri saling benci membenci di antara satu sama lain yang umumnya diakibatkan oleh kesulitan yang dihadapi dalam perkawinan,termasuk pertentangan mengenai persoalan ekonomi atau mengenai cara mendidik anak.
Konflik ini terdiri dari beberapa bentuk yaitu konflik peran dalam rumah tangga, konflik pengaturan waktu, konflik jenuh, konflik yang berpunca daripada Istri, konflik yang berpunca daripada suami. Konflik suami istri ini tentu tidak terjadi dengan sendirinya, pasti memiliki faktor penyebab. Faktor tersebut hampir meliputi seluruh aspek yaitu masalah ekonomi,pendidikan, ,agama,komunikasi dan pribadi. Setelah adanya penyebab konflik maka timbullah dampak dari penyebab-penyebab tersebut seperti perselingkuhan,psikologis anak,KDRT.
Dalam mengatasi konflik-konflik dalam suami istri ini disesuaikan dengan penyebabnya seperti masalah ekonomi yang diatasi dengan memiliki usaha sampingan, masalah agama yang diatasi dengan toleransi dan lain-lain.

B.Saran
            Berdasarkan makalah diatas kami sebagai penulis memberikan saran-saran sebagai berikut :
Diharapkan makalah ini dapat menambah wawasan dan ilmu kita tentang gambaran tentang konflik suami-istri dan cara mengatasinya. Karena pada dasarnya,pasti akan kita alami dihari kemudian.





DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Nashih Ulwan, 1993, Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam, CV .Asy Syifa’, Semarang.
Sofyan S. Willis, 1995, Konseling Individual, Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Fakultas Ilmu Pendidikan, IKIP, Bandung.





No comments:

Post a Comment