Monday, August 6, 2018

SEJARAH: GAYA PENULISAN DALAM SEJARAH


1.SEJARAH OLAHRAGA BOLA BASKET DI DUNIA

Sejarah bola basketdimulai ketika Dr. James Naismith datang dengan memainkan bola basket pada tahun 1892 dan memulai pertandingan pertama pada sebuah kompetisi  bola basket yang dimainkan di Beaver Falls Pennsylvania, Amerika Serikat pada 8 April 1893 antara New Brighton YMCA dan Geneva College.
Dalam perkembangannya permainan ini sangat populer dan pada tahun 1914 sebanyak 360 perguruan tinggi membuat tim basket yang diproyeksikan untuk pertandingan bola basket antar perguruan tinggi. Pada tahun 1939, untuk kali pertama NCAA College Basketball Championship turnamen (turnamen bola basket antar perguruan tinggi paling popular didunia sampai sekarang) diadakan yang dimenangkan oleh University of Oregon.
Tim basket profesional pertama di dunia terbentuk pada tahun 1896, tim tersebut muncul ketika terjadi sengketa antara anggota tim YMCA dan pejabat pengurus dari tim YMCA dengan terjadinya konflik tersebut,  berakhir pada pembentukan anggota tim profesional yang bermain serta digaji secara profesional. Pada tahun 1898, NBL (National Basketball League) dibentuk dan banyak melahirkan bintang-bintang basket pertama  didunia antara lain - Ed Wachter dan Barney Sedran.
Dua tim bola basket profesional saat itu yang paling kompetitif untuk memperebutkan gelar juara  adalah Buffalo Germans dan Celtics, tetapi selama tahun 1930-an banyak tim baru bermunculan termasuk tim favorit juara lainya yaitu New York Renaissance dan Harlem Globetrotters. Selama beberapa dekade tersebut , bola basket wanita juga populer dan menghasilkan beberapa pemain besar seperti babe Didrikson dan Bank Alline Sprouse.

            Pada tahun 1940, pertandingan pertama bola basket disiarkan pada salah satu stasiun TV, yang menyiarkan pertandingan antara Pittsburgh dan Fordham bertempat di Madison Square Garden, yang membuat lompatan  besar dalam sejarah perkembangan permainan bola basket didunia. Sejak saat itu basket telah menjadi salah satu olahraga yang paling banyak ditonton dan digemari oleh banyak orang didunia, ketika hampir 350 perguruan tinggi Amerika bersaing untuk memperebutkan gelar mahkota turnamen bola basket NCAA  itu adalah salah satu moment tertinggi tentang antusiasnya para mahasiswa akan olahraga bola basket saat itu.

            Beralih ke sejarah bola basket professional , pada tahun 1940 sampai 1950an. Minneapolis Lakers merupakan tim basket professional yang paling terkenal saat itu  karena telah memenangkan 5 gelar kejuaraan NBA dan melahirkan pemain pemain hebat seperti Bob Cousy dan Bob Pettit. Tetapi selama tahun 1950-an sampai tahun 1969, Celtics mengambil alih dominasi Minneapolis Lakers  dengan memenangkan 11 gelar NBA dengan 8 gelar secara beturut-turut. Pada dekade ini banyak pemain pemain bintang bermunculan salah satunya adalah Bill Russell dan wilt Chamberlin dari Philadelphia Warriors.
Pada tahun 1967 American Basketball Association (ABA) dibentuk dan banyak yang akan mengingat salah satu pemain hebat saat itu adalah Julius Erving serta kompetisi tersebut yang menggunakan bola basket berwarna putih, biru dan merah. ABA hanya berlangsung sampai tahun 1976 ketika itu bubar dan banyak tim yang memilih bergabung dengan NBA.

            Pada tahun 1960, bola basket wanita resmi diperkenalkan dengan format bermain yang sama dengan bola basket laki laki pada umumnya dengan jumlah pemain 5 dan peraturan yang sedikit melonggarkan dribbling, akan tetapi  hal itu tidak sampai tahun 1985, karena pada saat itu mulai bermunculan pelatih perempuan dan pemain professional perempuan. Beberapa perempuan hebat  dalam bidang bola basket dan turut dalam sejarah perkembangan bola basket wanita mendapatkan kehormatan,  antara lain adalah Carol Blazejowski, Ann Meyers, Cheryl Miller, Nancy Lieberman-Cline dan Anne Donovan.
Pada akhir tahun 1970-an awal menjadi awal berkembangnya bola basket modern sampai seperti sekarang ini dengan bintangnya saat itu  Larry Bird dari Indiana State University dan salah satu pemain legendaries dari Michigan State Universitas Magic Johnson muncul dan akhir 1980-an. Serta pada decade tersebut kita bisa melihat pemain utama seperti Isiah Thomas dan Dennis Rodman. Tapi mungkin pemain yang paling dicintai dari semua penggila bola basket di dunia termasuk saya adalah Michael Jordan yang membawa Chicago Bulls enam kali juara NBA pada dekade 1990-an.


2.SEJARAH TG.BALAI KARIMUN
Chi ke Wan atau yang lebih di kenal dengan Karimun sudah sejak lama disebut dalam catatan sejarah,bahkan catatan sejarah yang paling kuno ditemukan di Karimun adalah berupa batu bersurat (prasasti) yang ditemukan di Desa Pasir Panjang, untuk kemudian batu bersurat tersebut terkenal dengan sebutan Prasasti Pasir Panjang.
Dalam Prasasti Pasir Panjang yang ditemukan di Desa Pasir Panjang Kecamatan Meral Kabupaten Karimun, terungkap beberapa catatan penting yang cukup kuat untuk menjadi rujukan, yaitu tentang masuknya agama Budha di Karimun, yang berarti menunjukkan telah terjadinya interaksi yang sangat intens antara penduduk Karimun beserta pulau-pulau disekitarnya dengan Cina yang terjadi sekitar abad 9 – 10 M (Tahun 800 – 900 Masehi) hal ini sebagai mana diungkapkan oleh DR. J. Brandes yang berhasil mentranskripsi dan menterjemahkan Prasasti Pasir Panjang sebagai prasasti yang dipahat menggunakan aksara nagari yang berasal dari abad 9 – 10 M (Brandes 193:21).
Sudah barang tentu ada peristiwa yang sangat penting ketika itu yang melatar belakangi terjalinnya hubungan masyarakat di Karimun dengan Cina berabad tahun yang silam.  Bahwa ketika itu Pulau Karimun berada dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya dan bahkan Sriwijaya mendirikan pos penjagaan di Pulau Karimun tepatnya di Pasir Panjang guna mengamankan jalur pelayaran dan perdagangan selat malaka yang akan menuju Sriwijaya. Sriwijaya menurut catatan Jt-Tsing (pengelana Cina) memeluk agama Budha, bahkan di pusat kota tidak kurang 1000 orang pendeta Budha bermukim disana, hal ini sudah barang tentu berpengaruh kepada agama yang dipeluk penduduk Karimun, yang letaknya memang sangat strategis yaitu berada di ujung selatan Selat Malaka. Sehingga para musafir dan pelaut yang melintasi Selat Malaka kearah selatan akan dengan mudah menyinggahi Pulau Karimun.
Karimun dipandang sebagai daerah yang sangat berbahaya dan di takuti oleh setiap pelayar dan pedagang yang akan melintasi ujung selatan Selat Malaka. Hal ini dikarenakan hampir disepanjang Pulau Karimun dan jajaran pulau-pulau disekitarnya dijadikan basis operasional bajak laut. Dan bahkan menurut catatan Fa-Hsieu (seorang pengelana Cina), aktifitas bajak laut ini telah berlangsung sejak abad ke – 4 M.  Tao-I Chih (juga seorang pengelana China) yang pernah mengunjungi daerah Kepulauan Riau pada tahun 1330 – 1340 kembali memperkuat hal ini yang menyatakan daerah Chi ke Wan (Karimun) menjadi daerah basis bajak laut yang memiliki pasukan berjumlah cukup besar yaitu terdiri dari 200 – 300 pasukan. Dan dalam perkembangan selanjutnya para bajak laut ini yang sebagian besar merupakan penduduk asli Suku Laut yang berasal dari Pulau Karimun dan pulau-pulau sekitarnya, menduduki wilayah Kerajaan Tumasik (berpusat di Selat Tumasek, Singapura sekarang) yang ditinggalkan oleh Raja Parameswara yang mengungsi ke Muar akibat penyerangan Kerajaan Majapahit. Suku laut ini juga menduduki daerah sekitar Malaka dan ketika Raja Parameswara pindah ke Malaka maka ia disambut oleh masyarakat suku laut disana dan bersepakat dengan masyarakat suku laut bersama puak-puaknya yang dikenal dengan Batin dan Lenang untuk menjadi penyangga berdirinya Kerajaan Malaka untuk sama-sama membangun dan memajukan Malaka menjadi kota yang ramai sebagai pusat perdagangan antar negara, dengan Parmeswara sebagai rajanya (1389-1414).
Seiring semakin pesatnya perkembangan Malaka yang wilayahnya mencakupi daerah Karimun, telah terjadi juga interaksi dengan para pedagang dari Arab dan Persia, dimana selain berdagang juga membawa misi penyebaran Agama Islam, maka hal ini sangat menggugah hati Parameswara, maka pada tahun 1414 ia beralih memeluk agama Islam dan berganti nama Iskandar Syah dan bergelar Sultan. Hal ini juga diikuti oleh hampir seluruh rakyatnya, termasuk penduduk Karimun.
Setelah itu, Runtuhnya Kerajaan Malaka akibat gempuran Portugis pada tahun 1511, maka Sultan Mahmud Syah – sebagai penerus dari Sultan Iskandar Syah – mendirikan Kerajaan Johor yang berpusat di Johor dan Bintan. Dua pusat kerajaan ini berada pada lingkaran gugusan pulau-pulau di Karimun yang dikenal juga sebagai pusat konsentrasi suku laut sebagai benteng pertahanan kekuatan angkatan laut kerajaan.
Ada peristiwa penting yang menunjukkan eksistensi dan kekuatan angkatan laut kerajaan yang bermarkas di Kepulauan Karimun, yaitu pada tahun 1637, armada kekuatan angkatan laut Kerajaan Johor dalam sebuah pertempuran yang cukup sengit telah berhasil merampas kapal-kapal Portugis dan berhasil mengalahkan sepasukan Kapal Aceh yang sedang dalam pelayaran ke Pahang.
Pada tahun 1689 dalam rangka untuk meningkatkan kemakmuran dan stabilitas keamanan dan politik maka diadakan suatu perjanjian antara kerajaan Johor dengan Belanda. Namun perjanjian tersebut ternyata membawa konsekuensi semakin bebasnya  orang Belanda untuk berdagang diseluruh wilayah kerajaan Johor termasuk Kepulauan Karimun, yang pada akhirnya menyebabkan kerugian bagi kalangan rakyat pribumi, karena Belanda memonopoli perdagangan.
Alur sejarah kemudian berganti, pada tahun 1722 Kerajaan Johor berganti nama menjadi Kerajaan Riau-Lingga dengan daerah kekuasaan yang sama, hanya ibu kota kerajaan saja yang berpindah dari Johor ke Ulu Riau. Sebagaimana kebiasaan yang turun temurun, maka nama kerajaan disesuaikan dengan nama daerah pusat pemerintahannya.
Perjalanan sejarah Kerajaan Riau-Lingga dari tahun 1722-1784, yaitu terjadi perkembangan yang sangat pesat dari sektor perdagangan. Sehingga roda ekonomi menggeliat luar biasa didaerah ini, terutama didaerah Karimun dengan Pulau Kundurnya sebagai penghasil gambir terbesar kerajaan ketika itu. Sebagai mana diketahui, gambir ketika itu menjadi komoditi primadona dan banyak dicari oleh pedagang-pedagang dari India, China, Siam, Jawa dan Bugis. Dengan pesatnya perkembangan perdagangan didaerah Kerajaan Riau-Lingga maka terjadi persaingan antar Inggris dengan Belanda untuk menanamkan pengaruhnya dalam kerajaan. Maka pada tanggal 17 Maret 1824 lahirlah sebuah perjanjian antara Inggris dan Belanda yang dikenal dengan Traktat London.
Dalam Traktat London, antara Inggris dan Belanda menyepakati untuk membagi wilayah kekuasaan Kerajaan Riau-Lingga menjadi dua bagian yaitu, Tanah Semenanjung (termasuk Malaka) dan Singapura menjadi daerah pengaruh Inggris, sedangkan Kepulauan Riau dan Lingga menjadi daerah pengaruh Belanda. Bahkan demikian pentingnya posisi Pualau Karimun maka dalam Traktat London itu disebutkan dalam point keempatnya yang berbunyi; ”Pulau Karimun dan Pulau Buru yang letaknya sangat dekat dengan Singapura termasuk dalam wilayah kekuasaan Riau-Lingga,” yang artinya berada dibawah pengaruh Belanda.
Kondisi ini sangat tidak menguntungkan bagi jalannya stabilitas pemerintahan di kerajaan Riau-Lingga, sehingga konflik terjadi silih berganti dan baik Belanda maupun Inggris menjalankan politik adu dombanya, yang menyebabkan perang saudara terjadi. Maka pecahlah Perang Karimun pada tahun 1827, antara pasukan yang di Pertuan Muda Raja Ja’far yang berpusat di Hulu Riau dengan Sultan Husin yang berpusat di Singapura. Konflik ini dipicu oleh ketidak setujuan Sultan Husin menyerahkan Karimun ke tangan Belanda sementara yang di Pertuan Muda Riau VI Raja Ja’far (1808-1832) telah memberitahukan kepada Sultan Husen (berdasarkan traktat London), bahwa Pulau Karimun tersebut bukanlah daerah takluk Johor atau daerah takluk Sultan Husen, oleh karenanya mereka tidak berhak mendiami pulau tersebut.
Dengan konflik yang berkepanjangan, menyebabkan Pulau Karimun tidak kondusif untuk aktifitas perdagangan dan mulai ditinggalkan. Keadaan Karimun yang demikian dilaporkan kepada yang di Pertuan Muda Riau, dan oleh beliau sepakat menyerahkan Pulau Karimun Kepada Raja Abdullah bin Raja Haji Ahcmad, serta diangkat menjadi Amir Karimun pertama. Semenjak saat itu stabilitas Karimun mulai pulih, kemudian datang seorang Resident Belanda bernama Fandenbosch yang meminta izin untuk membuka tambang timah, dan diizinkan dengan dibuatkan perjanjian dengan pihak kerajaan. Maka oleh Fandenbosch di Pulau Karimun di buka tambang timah yang diberi nama Monos. Sehingga tidak lama kemudian keadaan Pulau Karimun menjadi ramai. Meskipun pada dasarnya penambangan itu hanya menguntungkan pihak Belanda.
Hingga meletuslah perang Asia Timur Raya pada akhir tahun 1941 yang dicetus oleh Jepang. Dan Jepang masuk kewilayah Karimun setelah penaklukan Singapura tanggal 15 Februari 1942 oleh Jepang dari Inggris, selanjutnya penaklukan Tanjungpinang pada tanggal 21 Februari 1492. dan setelah itu Pulau Karimun. Sejak saat itu pemuda-pemuda Karimun yang tersebar di Pualu Moro, Kundur, Meral, Buru, dan Karimun sendiri terlibat dalam Pasukan Gyutai tentara Jepang, yaitu pasukan yang bertugas mengawal pulau-pulau. Sehingga bagi masyarakat Karimun dan Kepulauan Riau umumnya tidak ada pengerahan tenaga kerja paksa (Romusha).
Hingga kemudian pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu, maka Indonesia dinyatakan merdeka dan memproklamirkan kemerdekaannya pada Tanggal 17 Agustus 1945.
Pada masa kemerdekaan Kepulauan Karimun terus berbenah hingga pada tanggal 15 Mei 1999 terjadi musyawarah besar seluruh rakyat Kepulauan Riau yang menuntut pemekaran wilayah menjadi provinsi sendiri terpisah dari Provinsi Riau, hal ini menuntut untuk terjadinya pemekaran daerah yang berujung pada Kepulauan Karimun yang mencakup Kecamatan Karimun, Kecamatan Moro dan Kecamatan Kundur harus menjadi sebuah Kabupaten. Akhirnya gayungpun bersambut dengan diterbitkannya UU No. 53 Tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Karimun, bersama 35 Kabupaten lainnya diseluruh Indonesia yang disahkan oleh Presiden pada tanggal 4 Oktober 1999 dan Kabupaten Karimun diresmikan oleh Mendagri pada tanggal 12 Oktober 1999 serta melantik pejabat Bupati Kabupaten Karimun Drs. H.M Sani, dan tercatat sebagai bupati pertama Kabupaten Karimun. Sejak saat itu geliat pembangunan Kabupaten karimun terus meningkat. Dan saat ini Karimun dikenal sebagai daerah industri kapal (galangan kapal), pertambangan (batu geranit, pasir dan timah), pertanian, perikanan dan pariwisata.
Sumber :

3.SEJARAH CANDI BOROBUDUR

A.PEMBANGUNAN
Lukisan karya G.B. Hooijer (dibuat kurun 1916—1919) merekonstruksi suasana di Borobudur pada masa jayanya
Tidak ditemukan bukti tertulis yang menjelaskan siapakah yang membangun Borobudur dan apa kegunaannya Waktu pembangunannya diperkirakan berdasarkan perbandingan antara jenis aksara yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara yang lazim digunakan pada prasasti kerajaan abad ke-8 dan ke-9. Diperkirakan Borobudur dibangun sekitar tahun 800 masehi. Kurun waktu ini sesuai dengan kurun antara 760 dan 830 M, masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah, yang kala itu dipengaruhi Kemaharajaan Sriwijaya. Pembangunan Borobudur diperkirakan menghabiskan waktu 75 - 100 tahun lebih dan benar-benar dirampungkan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825.
Terdapat kesimpangsiuran fakta mengenai apakah raja yang berkuasa di Jawa kala itu beragama Hindu atau Buddha. Wangsa Sailendra diketahui sebagai penganut agama Buddha aliran Mahayana yang taat, akan tetapi melalui temuan prasasti Sojomerto menunjukkan bahwa mereka mungkin awalnya beragama Hindu Siwa. Pada kurun waktu itulah dibangun berbagai candi Hindu dan Buddha di Dataran Kedu. Berdasarkan Prasasti Canggal, pada tahun 732 M, raja beragama Siwa Sanjaya memerintahkan pembangunan bangunan suci Shiwalingga yang dibangun di perbukitan Gunung Wukir, letaknya hanya 10 km (6.2 mil) sebelah timur dari Borobudur. Candi Buddha Borobudur dibangun pada kurun waktu yang hampir bersamaan dengan candi-candi di Dataran Prambanan, meskipun demikian Borobudur diperkirakan sudah rampung sekitar 825 M, dua puluh lima tahun lebih awal sebelum dimulainya pembangunan candi Siwa Prambanan sekitar tahun 850 M.
Pembangunan candi-candi Buddha — termasuk Borobudur — saat itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran memberikan izin kepada umat Buddha untuk membangun candi. Bahkan untuk menunjukkan penghormatannya, Panangkaran menganugerahkan desa Kalasan kepada sangha (komunitas Buddha), untuk pemeliharaan dan pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun untuk memuliakan Bodhisattwadewi Tara, sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Kalasan berangka tahun 778 Masehi. Petunjuk ini dipahami oleh para arkeolog, bahwa pada masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah menjadi masalah yang dapat menuai konflik, dengan dicontohkan raja penganut agama Hindu bisa saja menyokong dan mendanai pembangunan candi Buddha, demikian pula sebaliknya. Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua wangsa kerajaan pada masa itu — wangsa Syailendra yang menganut Buddha dan wangsa Sanjaya yang memuja Siwa — yang kemudian wangsa Sanjaya memenangi pertempuran pada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko. Ketidakjelasan juga timbul mengenai candi Lara Jonggrang di Prambanan, candi megah yang dipercaya dibangun oleh sang pemenang Rakai Pikatan sebagai jawaban wangsa Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur milik wangsa Syailendra, akan tetapi banyak pihak percaya bahwa terdapat suasana toleransi dan kebersamaan yang penuh kedamaian antara kedua wangsa ini yaitu pihak Sailendra juga terlibat dalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan.

B.TAHAPAN PEMBANGUNAN BOROBUDUR
Para ahli arkeologi menduga bahwa rancangan awal Borobudur adalah stupa tunggal yang sangat besar memahkotai puncaknya. Diduga massa stupa raksasa yang luar biasa besar dan berat ini membahayakan tubuh dan kaki candi sehingga arsitek perancang Borobudur memutuskan untuk membongkar stupa raksasa ini dan diganti menjadi tiga barisan stupa kecil dan satu stupa induk seperti sekarang. Berikut adalah perkiraan tahapan pembangunan Borobudur:
1.     Tahap pertama: Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan kurun 750 dan 850 M). Borobudur dibangun di atas bukit alami, bagian atas bukit diratakan dan pelataran datar diperluas. Sesungguhnya Borobudur tidak seluruhnya terbuat dari batu andesit, bagian bukit tanah dipadatkan dan ditutup struktur batu sehingga menyerupai cangkang yang membungkus bukit tanah. Sisa bagian bukit ditutup struktur batu lapis demi lapis. Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak, tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar. Dibangun tiga undakan pertama yang menutup struktur asli piramida berundak.
2.     Tahap kedua: Penambahan dua undakan persegi, pagar langkan dan satu undak melingkar yang diatasnya langsung dibangun stupa tunggal yang sangat besar.
3.     Tahap ketiga: Terjadi perubahan rancang bangun, undak atas lingkaran dengan stupa tunggal induk besar dibongkar dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa yang lebih kecil dibangun berbaris melingkar pada pelataran undak-undak ini dengan satu stupa induk yang besar di tengahnya. Karena alasan tertentu pondasi diperlebar, dibangun kaki tambahan yang membungkus kaki asli sekaligus menutup relief Karmawibhangga. Para arkeolog menduga bahwa Borobudur semula dirancang berupa stupa tunggal yang sangat besar memahkotai batur-batur teras bujur sangkar. Akan tetapi stupa besar ini terlalu berat sehingga mendorong struktur bangunan condong bergeser keluar. Patut diingat bahwa inti Borobudur hanyalah bukit tanah sehingga tekanan pada bagian atas akan disebarkan ke sisi luar bagian bawahnya sehingga Borobudur terancam longsor dan runtuh. Karena itulah diputuskan untuk membongkar stupa induk tunggal yang besar dan menggantikannya dengan teras-teras melingkar yang dihiasi deretan stupa kecil berterawang dan hanya satu stupa induk. Untuk menopang agar dinding candi tidak longsor maka ditambahkan struktur kaki tambahan yang membungkus kaki asli. Struktur ini adalah penguat dan berfungsi bagaikan ikat pinggang yang mengikat agar tubuh candi tidak ambrol dan runtuh keluar, sekaligus menyembunyikan relief Karmawibhangga pada bagian Kamadhatu
4.     Tahap keempat: Ada perubahan kecil seperti penyempurnaan relief, penambahan pagar langkan terluar, perubahan tangga dan pelengkung atas gawang pintu, serta pelebaran ujung kaki.

C.BOROBUDUR DITERLANTARKAN

Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/a7/Borobudur_Stupa_Merapi.jpg/220px-Borobudur_Stupa_Merapi.jpg
Meletusnya Gunung Merapi diduga sebagai penyebab utama diterlantarkannya Borobudur
Borobudur tersembunyi dan terlantar selama berabad-abad terkubur di bawah lapisan tanah dan debu vulkanik yang kemudian ditumbuhi pohon dan semak belukar sehingga Borobudur kala itu benar-benar menyerupai bukit. Alasan sesungguhnya penyebab Borobudur ditinggalkan hingga kini masih belum diketahui. Tidak diketahui secara pasti sejak kapan bangunan suci ini tidak lagi menjadi pusat ziarah umat Buddha. Pada kurun 928 dan 1006, Raja Mpu Sindok memindahkan ibu kota kerajaan Medang ke kawasan Jawa Timur setelah serangkaian letusan gunung berapi; tidak dapat dipastikan apakah faktor inilah yang menyebabkan Borobudur ditinggalkan, akan tetapi beberapa sumber menduga bahwa sangat mungkin Borobudur mulai ditinggalkan pada periode ini.[6][18] Bangunan suci ini disebutkan secara samar-samar sekitar tahun 1365, oleh Mpu Prapanca dalam naskahnya Nagarakretagama yang ditulis pada masa kerajaanMajapahit. Ia menyebutkan adanya "Wihara di Budur". Selain itu Soekmono (1976) juga mengajukan pendapat populer bahwa candi ini mulai benar-benar ditinggalkan sejak penduduk sekitar beralih keyakinan kepada Islam pada abad ke-15.
Monumen ini tidak sepenuhnya dilupakan, melalui dongeng rakyat Borobudur beralih dari sebagai bukti kejayaan masa lampau menjadi kisah yang lebih bersifat tahayul yang dikaitkan dengan kesialan, kemalangan dan penderitaan. Dua Babad Jawa yang ditulis abad ke-18 menyebutkan nasib buruk yang dikaitkan dengan monumen ini. Menurut Babad Tanah Jawi (Sejarah Jawa), monumen ini merupakan faktor fatal bagi Mas Dana, pembangkang yang memberontak kepada Pakubuwono I, raja Kesultanan Mataram pada 1709. Disebutkan bahwa bukit "Redi Borobudur" dikepung dan para pemberontak dikalahkan dan dihukum mati oleh raja. Dalam Babad Mataram (Sejarah Kerajaan Mataram), monumen ini dikaitkan dengan kesialan      Pangeran Monconagoro, putra mahkota Kesultanan Yogyakarta yang mengunjungi monumen ini pada 1757. Meskipun terdapat tabu yang melarang orang untuk mengunjungi monumen ini, "Sang Pangeran datang dan mengunjungi satria yang terpenjara di dalam kurungan (arca buddha yang terdapat di dalam stupa berterawang)". Setelah kembali ke keraton, sang Pangeran jatuh sakit dan meninggal dunia sehari kemudian. Dalam kepercayaan Jawa pada masa Mataram Islam, reruntuhan bangunan percandian dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh halus dan dianggap wingit (angker) sehingga dikaitkan dengan kesialan atau kemalangan yang mungkin menimpa siapa saja yang mengunjungi dan mengganggu situs ini. Meskipun secara ilmiah diduga, mungkin setelah situs ini tidak terurus dan ditutupi semak belukar, tempat ini pernah menjadi sarang wabah penyakit seperti demam berdarah atau malaria.

D.PENEMUAN KEMBALI
Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/a8/Borobudur_photograph_by_van_kinsbergen.jpg/220px-Borobudur_photograph_by_van_kinsbergen.jpg
Foto pertama Borobudur olehIsidore van Kinsbergen (1873) setelah monumen ini dibersihkan dari tanaman yang tumbuh pada tubuh candi. Bendera Belanda tampak pada stupa utama candi.
Teras tertinggi setelah restorasi Van Erp. Stupa utama memiliki menara dengan chattra (payung) susun tiga.
Setelah Perang Inggris-Belanda dalam memperebutkan pulau Jawa, Jawa dibawah pemerintahan Britania (Inggris) pada kurun 1811 hingga 1816. Thomas Stamford Raffles ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal, dan ia memiliki minat istimewa terhadap sejarah Jawa. Ia mengumpulkan artefak-artefak antik kesenian Jawa kuno dan membuat catatan mengenai sejarah dan kebudayaan Jawa yang dikumpulkannya dari perjumpaannya dengan rakyat setempat dalam perjalanannya keliling Jawa. Pada kunjungan inspeksinya di Semarangtahun 1814, ia dikabari mengenai adanya sebuah monumen besar jauh di dalam hutan dekat desa Bumisegoro. Karena berhalangan dan tugasnya sebagai Gubernur Jenderal, ia tidak dapat pergi sendiri untuk mencari bangunan itu dan mengutus H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki keberadaan bangunan besar ini. Dalam dua bulan, Cornelius beserta 200 bawahannya menebang pepohonan dan semak belukar yang tumbuh di bukit Borobudur dan membersihkan lapisan tanah yang mengubur candi ini. Karena ancaman longsor, ia tidak dapat menggali dan membersihkan semua lorong. Ia melaporkan penemuannya kepada Raffles termasuk menyerahkan berbagai gambar sketsa candi Borobudur. Meskipun penemuan ini hanya menyebutkan beberapa kalimat, Raffles dianggap berjasa atas penemuan kembali monumen ini, serta menarik perhatian dunia atas keberadaan monumen yang pernah hilang ini.
Hartmann, seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda di Keresidenan Kedu meneruskan kerja Cornelius dan pada 1835 akhirnya seluruh bagian bangunan telah tergali dan terlihat. Minatnya terhadap Borobudur lebih bersifat pribadi daripada tugas kerjanya. Hartmann tidak menulis laporan atas kegiatannya; secara khusus, beredar kabar bahwa ia telah menemukan arca buddha besar di stupa utama. Pada 1842, Hartmann menyelidiki stupa utama meskipun apa yang ia temukan tetap menjadi misteri karena bagian dalam stupa kosong.
Pemerintah Hindia Belanda menugaskan F.C. Wilsen, seorang insinyur pejabat Belanda bidang teknik, ia mempelajari monumen ini dan menggambar ratusan sketsa relief. J.F.G. Brumund juga ditunjuk untuk melakukan penelitian lebih terperinci atas monumen ini, yang dirampungkannya pada 1859. Pemerintah berencana menerbitkan artikel berdasarkan penelitian Brumund yang dilengkapi sketsa-sketsa karya Wilsen, tetapi Brumund menolak untuk bekerja sama. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menugaskan ilmuwan lain, C. Leemans, yang mengkompilasi monografi berdasarkan sumber dari Brumund dan Wilsen. Pada 1873, monograf pertama dan penelitian lebih detil atas Borobudur diterbitkan, dilanjutkan edisi terjemahannya dalam bahasa Perancis setahun kemudian.[31] Foto pertama monumen ini diambil pada 1873 oleh ahli engrafi Belanda, Isidore van Kinsbergen.
Penghargaan atas situs ini tumbuh perlahan. Untuk waktu yang cukup lama Borobudur telah menjadi sumber cenderamata dan pendapatan bagi pencuri, penjarah candi, dan kolektor "pemburu artefak". Kepala arca Buddha adalah bagian yang paling banyak dicuri. Karena mencuri seluruh arca buddha terlalu berat dan besar, arca sengaja dijungkirkan dan dijatuhkan oleh pencuri agar kepalanya terpenggal. Karena itulah kini di Borobudur banyak ditemukan arca Buddha tanpa kepala. Kepala Buddha Borobudur telah lama menjadi incaran kolektor benda antik dan museum-museum di seluruh dunia. Pada 1882, kepala inspektur artefak budaya menyarankan agar Borobudur dibongkar seluruhnya dan reliefnya dipindahkan ke museum akibat kondisi yang tidak stabil, ketidakpastian dan pencurian yang marak di monumen. Akibatnya, pemerintah menunjuk Groenveldt, seorang arkeolog, untuk menggelar penyelidikan menyeluruh atas situs dan memperhitungkan kondisi aktual kompleks ini; laporannya menyatakan bahwa kekhawatiran ini berlebihan dan menyarankan agar bangunan ini dibiarkan utuh dan tidak dibongkar untuk dipindahkan.
Bagian candi Borobudur dicuri sebagai benda cinderamata, arca dan ukirannya diburu kolektor benda antik. Tindakan penjarahan situs bersejarah ini bahkan salah satunya direstui Pemerintah Kolonial. Pada tahun 1896, Raja ThailandChulalongkorn ketika mengunjungi Jawa di Hindia Belanda (kini Indonesia) menyatakan minatnya untuk memiliki beberapa bagian dari Borobudur. Pemerintah Hindia Belanda mengizinkan dan menghadiahkan delapan gerobak penuh arca dan bagian bangunan Borobudur. Artefak yang diboyong ke Thailand antara lain; lima arca Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang, dan arca penjaga dwarapalayang pernah berdiri di Bukit Dagi — beberapa ratus meter di barat laut Borobudur. Beberapa artefak ini, yaitu arca singa dan dwarapala, kini dipamerkan di Museum Nasional Bangkok.

E.PEMUGARAN
Borobudur kembali menarik perhatian pada 1885, ketika Yzerman, Ketua Masyarakat Arkeologi di Yogyakarta, menemukan kaki tersembunyi. Foto-foto yang menampilkan relief pada kaki tersembunyi dibuat pada kurun 1890–1891. Penemuan ini mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk mengambil langkah menjaga kelestarian monumen ini. Pada 1900, pemerintah membentuk komisi yang terdiri atas tiga pejabat untuk meneliti monumen ini: Brandes, seorang sejarawan seni, Theodoor van Erp, seorang insinyur yang juga anggota tentara Belanda, dan Van de Kamer, insinyur ahli konstruksi bangunan dari Departemen Pekerjaan Umum.
Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/06/Borobudur_restoration.png/200px-Borobudur_restoration.png
Penanaman beton dan pipaPVC untuk memperbaiki sistem drainase Borobudur pada pemugaran tahun 1973
Pada 1902, komisi ini mengajukan proposal tiga langkah rencana pelestarian Borobudur kepada pemerintah. Pertama, bahaya yang mendesak harus segera diatasi dengan mengatur kembali sudut-sudut bangunan, memindahkan batu yang membahayakan batu lain di sebelahnya, memperkuat pagar langkan pertama, dan memugar beberapa relung, gerbang, stupa dan stupa utama. Kedua, memagari halaman candi, memelihara dan memperbaiki sistem drainase dengan memperbaiki lantai dan pancuran. Ketiga, semua batuan lepas dan longgar harus dipindahkan, monumen ini dibersihkan hingga pagar langkan pertama, batu yang rusak dipindahkan dan stupa utama dipugar. Total biaya yang diperlukan pada saat itu ditaksir sekitar 48.800 Gulden.
Pemugaran dilakukan pada kurun 1907 dan 1911, menggunakan prinsip anastilosis dan dipimpin Theodor van Erp. Tujuh bulan pertama dihabiskan untuk menggali tanah di sekitar monumen untuk menemukan kepala buddha yang hilang dan panel batu. Van Erp membongkar dan membangun kembali tiga teras melingkar dan stupa di bagian puncak. Dalam prosesnya Van Erp menemukan banyak hal yang dapat diperbaiki; ia mengajukan proposal lain yang disetujui dengan anggaran tambahan sebesar 34.600 gulden. Van Erp melakukan rekonstruksi lebih lanjut, ia bahkan dengan teliti merekonstruksi chattra (payung batu susun tiga) yang memahkotai puncak Borobudur.             Pada pandangan pertama, Borobudur telah pulih seperti pada masa kejayaannya. Akan tetapi rekonstruksi chattra hanya menggunakan sedikit batu asli dan hanya rekaan kira-kira. Karena dianggap tidak dapat dipertanggungjawabkan keasliannya, Van Erp membongkar sendiri bagian chattra. Kini mastaka atau kemuncak Borobudur chattra susun tiga tersimpan di Museum Karmawibhangga Borobudur.
Akibat anggaran yang terbatas, pemugaran ini hanya memusatkan perhatian pada membersihkan patung dan batu, Van Erp tidak memecahkan masalah drainase dan tata air. Dalam 15 tahun, dinding galeri miring dan relief menunjukkan retakan dan kerusakan. Van Erp menggunakan beton yang menyebabkan terbentuknya kristal garam alkali dan kalsium hidroksida yang menyebar ke seluruh bagian bangunan dan merusak batu candi. Hal ini menyebabkan masalah sehingga renovasi lebih lanjut diperlukan.
Pemugaran kecil-kecilan dilakukan sejak itu, tetapi tidak cukup untuk memberikan perlindungan yang utuh. Pada akhir 1960-an, Pemerintah Indonesia telah mengajukan permintaan kepada masyarakat internasional untuk pemugaran besar-besaran demi melindungi monumen ini. Pada 1973, rencana induk untuk memulihkan Borobudur dibuat. Pemerintah Indonesia dan UNESCO mengambil langkah untuk perbaikan menyeluruh monumen ini dalam suatu proyek besar antara tahun 1975 dan 1982. Pondasi diperkokoh dan segenap 1.460 panel relief dibersihkan. Pemugaran ini dilakukan dengan membongkar seluruh lima teras bujur sangkar dan memperbaiki sistem drainase dengan menanamkan saluran air ke dalam monumen. Lapisan saringan dan kedap air ditambahkan. Proyek kolosal ini melibatkan 600 orang untuk memulihkan monumen dan menghabiskan biaya total sebesar 6.901.243 dollar AS. Setelah renovasi, UNESCO memasukkan Borobudur ke dalam daftar Situs Warisan Dunia pada tahun 1991. Borobudur masuk dalam kriteria Budaya (i) "mewakili mahakarya kretivitas manusia yang jenius", (ii) "menampilkan pertukaran penting dalam nilai-nilai manusiawi dalam rentang waktu tertentu di dalam suatu wilayah budaya di dunia, dalam pembangunan arsitektur dan teknologi, seni yang monumental, perencanaan tata kota dan rancangan lansekap", dan (vi) "secara langsung dan jelas dihubungkan dengan suatu peristiwa atau tradisi yang hidup, dengan gagasan atau dengan kepercayaan, dengan karya seni artistik dan karya sastra yang memiliki makna universal yang luar biasa".

Peristiwa kontemporer
Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/5a/Borobudur_monks_1.jpg/220px-Borobudur_monks_1.jpg
Biksu peziarah tengah bermeditasi di pelataran puncak
Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/4a/Borobudur_Tourism.jpg/170px-Borobudur_Tourism.jpg
Turis di Borobudur
Setelah pemugaran besar-besaran pada 1973 yang didukung oleh UNESCO, Borobudur kembali menjadi pusat keagamaan dan ziarah agama Buddha. Sekali setahun pada saat bulan purnama sekitar bulan Mei atau Juni, umat Buddha di Indonesia memperingati hari suciWaisak, hari yang memperingati kelahiran, wafat, dan terutama peristiwa pencerahan Siddhartha Gautama yang mencapai tingkat kebijaksanaan tertinggi menjadi Buddha Shakyamuni. Waisak adalah hari libur nasional di Indonesia[39] dan upacara peringatan dipusatkan di tiga candi Buddha utama dengan ritual berjalan dari Candi Mendut menuju Candi Pawon dan prosesi berakhir di Candi Borobudur.
Pada 21 Januari 1985, sembilan stupa rusak parah akibat sembilan bom. Pada 1991 seorang penceramah muslim beraliran ekstrem yang tunanetra, Husein Ali Al Habsyie, dihukum penjara seumur hidup karena berperan sebagai otak serangkaian serangan bom pada pertengahan dekade 1980-an, termasuk serangan atas Candi Borobudur. Dua anggota kelompok ekstrem sayap kanan djatuhi hukuman 20 tahun penjara pada tahun 1986 dan seorang lainnya menerima hukuman 13 tahun penjara.
Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/b0/Trail_of_civilisations.jpg/220px-Trail_of_civilisations.jpg
Sendratari "Mahakarya Borobudur" digelar di Borobudur
Monumen ini adalah obyek wisata tunggal yang paling banyak dikunjungi di Indonesia. Pada 1974 sebanyak 260.000 wisatawan yang 36.000 diantaranya adalah wisatawan mancanegara telah mengunjungi monumen ini. Angka ini meningkat hingga mencapai 2,5 juta pengunjung setiap tahunnya (80% adalah wisatawan domestik) pada pertengahan 1990-an, sebelum Krisis finansial Asia 1997.[9] Akan tetapi pembangunan pariwisata dikritik tidak melibatkan masyarakat setempat sehingga beberapa konflik lokal kerap terjadi.[8] Pada 2003, penduduk dan wirausaha skala kecil di sekitar Borobudur menggelar pertemuan dan protes dengan pembacaan puisi, menolak rencana pemerintah provinsi yang berencana membangun kompleks mal berlantai tiga yang disebut 'Java World'. Upaya masyarakat setempat untuk mendapatkan penghidupan dari sektor pariwisata Borobudur telah meningkatkan jumlah usaha kecil di sekitar Borobudur. Akan tetapi usaha mereka untuk mencari nafkah seringkali malah mengganggu kenyamanan pengunjung. Misalnya pedagang cenderamata asongan yang mengganggu dengan bersikeras menjual dagangannya; meluasnya lapak-lapak pasar cenderamata sehingga saat hendak keluar kompleks candi, pengunjung malah digiring berjalan jauh memutar memasuki labirin pasar cenderamata. Jika tidak tertata maka semua ini membuat kompleks candi Borobudur semakin semrawut.
Pada 27 Mei 2006, gempa berkekuatan 6,2 skala mengguncang pesisir selatan Jawa Tengah. Bencana alam ini menghancurkan kawasan dengan korban terbanyak di Yogyakarta, akan tetapi Borobudur tetap utuh.
Pada 28 Agustus 2006 simposium bertajuk Trail of Civilizations (jejak peradaban) digelar di Borobudur atas prakarsa Gubernur Jawa Tengah dan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan, juga hadir perwakilan UNESCO dan negara-negara mayoritas Buddha di Asia Tenggara, seperti Thailand, Myanmar, Laos, Vietnam, dan Kamboja. Puncak acara ini adalah pagelaran sendratari kolosal "Mahakarya Borobudur" di depan Candi Borobudur. Tarian ini diciptakan dengan berdasarkan gaya tari tradisional Jawa, musik gamelan, dan busananya, menceritakan tentang sejarah pembangunan Borobudur. Setelah simposium ini, sendratari Mahakarya Borobudur kembali dipergelarkan beberapa kali, khususnya menjelang peringatan Waisak yang biasanya turut dihadiri Presiden Republik Indonesia.
Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/ed/Batu_peringatan_pemugaran_candi_Borobudur.JPG/170px-Batu_peringatan_pemugaran_candi_Borobudur.JPG
Batu peringatan pemugaran candi Borobudur dengan bantuan UNESCO
UNESCO mengidentifikasi tiga permasalahan penting dalam upaya pelestarian Borobudur: (i) vandalisme atau pengrusakan oleh pengunjung; (ii) erosi tanah di bagian tenggara situs; (iii) analisis dan pengembalian bagian-bagian yang hilang. Tanah yang gembur, beberapa kali gempa bumi, dan hujan lebat dapat menggoyahkan struktur bangunan ini. Gempa bumi adalah faktor yang paling parah, karena tidak saja batuan dapat jatuh dan pelengkung ambruk, tanah sendiri bergerak bergelombang yang dapat merusak struktur bangunan. Meningkatnya popularitas stupa menarik banyak pengunjung yang kebanyakan adalah warga Indonesia. Meskipun terdapat banyak papan peringatan untuk tidak menyentuh apapun, pengumandangan peringatan melalui pengeras suara dan adanya penjaga, vandalisme berupa pengrusakan dan pencorat-coretan relief dan arca sering terjadi, hal ini jelas merusak situs ini. Pada 2009, tidak ada sistem untuk membatasi jumlah wisatawan yang boleh berkunjung per hari, atau menerapkan tiap kunjungan harus didampingi pemandu agar pengunjung selalu dalam pengawasan.

F.REHABILITASI
Borobudur sangat terdampak letusan Gunung Merapi pada Oktober adan November 2010. Debu vulkanik dari Merapi menutupi kompleks candi yang berjarak 28 kilometer (17 mil) arah barat-baratdaya dari kawah Merapi. Lapisan debu vulkanik mencapai ketebalan 2,5 sentimeter (1 in) menutupi bangunan candi kala letusan 3–5 November 2010, debu juga mematikan tanaman di sekitar, dan para ahli mengkhawatirkan debu vulkanik yang secara kimia bersifat asam dapat merusak batuan bangunan bersejarah ini. Kompleks candi ditutup 5 sampai 9 November 2010 untuk membersihkan luruhan debu.
Mencermati upaya rehabilitasi Borobudur setelah letusan Merapi 2010, UNESCO telah menyumbangkan dana sebesar 3 juta dollar AS untuk mendanai upaya rehabilitasi. Membersihkan candi dari endapan debu vulkanik akan menghabiskan waktu sedikitnya 6 bulan, disusul penghijauan kembali dan penanaman pohon di lingkungan sekitar untuk menstabilkan suhu, dan terakhir menghidupkan kembali kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Lebih dari 55.000 blok batu candi harus dibongkar untuk memperbaiki sistem tata air dan drainase yang tersumbat adonan debu vulkanik bercampur air hujan. Restorasi berakhir November 2011, lebih awal dari perkiraan semula.

Sumber :

GAYA PENULISAN SEJARAH
Dari ke tiga sejarah tersebut(sejarah Basket,Sejarah TG.Balai Karimun dan Sejarah Candi Borobudur) dapat kita tentukan gaya penulisan sejarahnya sebagai berikut :

1.GAYA KRONOLOGI (SEJARAH TG.BALAI KARIMUN)

G. J. Reiner mendifinisikan penulisan sejarah yang menggunakan kronologis sebagai a narrative of event arranged in their time sequance. Penulisan sejarah bergaya kronologikal ini dibuat untuk melihat peristiwa sejarah melalui urutan waktu kejadian agar dapat menggambarkan apa yang terjadi pada suatu waktu hingga berikutnya.

Gaya ini terdapat pada paragraf ke  6. Yang ditandai dengan kata “setelah itu”  . berikut kutipannya :
Seiring semakin pesatnya perkembangan Malaka yang wilayahnya mencakupi daerah Karimun, telah terjadi juga interaksi dengan para pedagang dari Arab dan Persia, dimana selain berdagang juga membawa misi penyebaran Agama Islam, maka hal ini sangat menggugah hati Parameswara, maka pada tahun 1414 ia beralih memeluk agama Islam dan berganti nama Iskandar Syah dan bergelar Sultan. Hal ini juga diikuti oleh hampir seluruh rakyatnya, termasuk penduduk Karimun.
Setelah itu, Runtuhnya Kerajaan Malaka akibat gempuran Portugis pada tahun 1511, maka Sultan Mahmud Syah – sebagai penerus dari Sultan Iskandar Syah – mendirikan Kerajaan Johor yang berpusat di Johor dan Bintan. Dua pusat kerajaan ini berada pada lingkaran gugusan pulau-pulau di Karimun yang dikenal juga sebagai pusat konsentrasi suku laut sebagai benteng pertahanan kekuatan angkatan laut kerajaan.

2.GAYA EKSPOSISI( SEJARAH CANDI BOROBUDUR)

Gaya penulisan ini bermaksud untuk menguraikan, memaparkan, dan menyingkap suatu masalah. Setiap masalah atau segala peristiwa harus diuraikan, disingkap, dan ditulis dengan jelas dan terperinci kepada para pembaca supaya mereka dapat mengetahui dan memahami.Pengertian gaya eksposisi sepertiyang disebutkan diatas sesuai dengan apa yang diutarakan oleh M. White, exposition in historical writing is a theoty of how we select the cause among contributory causes that are aonnected with the event to be explained in accordance.

Gaya ini terdapat pada paragraf ke 1 ,baris ke 1 di bagian “Borobudur ditelantarkan”. Dimana penullisannya menguraikan sebab dan akibat suatu peristiwa yaitu sebab nya dikarenakan tertimbun lapisan tanah dan debu vulkanik yang mengakibatkan terlantarnya candi Borobudur.
Berikut kutipannya :
Borobudur tersembunyi dan terlantar selama berabad-abad terkubur di bawah lapisan tanah dan debu vulkanik yang kemudian ditumbuhi pohon dan semak belukar sehingga Borobudur kala itu benar-benar menyerupai bukit. Alasan sesungguhnya penyebab Borobudur ditinggalkan hingga kini masih belum diketahui. Tidak diketahui secara pasti sejak kapan bangunan suci ini tidak lagi menjadi pusat ziarah umat Buddha. Pada kurun 928 dan 1006, Raja Mpu Sindok memindahkan ibu kota kerajaan Medang ke kawasan Jawa Timur setelah serangkaian letusan gunung berapi; tidak dapat dipastikan apakah faktor inilah yang menyebabkan Borobudur ditinggalkan, akan tetapi beberapa sumber menduga bahwa sangat mungkin Borobudur mulai ditinggalkan pada periode ini.[6][18] Bangunan suci ini disebutkan secara samar-samar sekitar tahun 1365, oleh Mpu Prapanca dalam naskahnya Nagarakretagama yang ditulis pada masa kerajaanMajapahit. Ia menyebutkan adanya "Wihara di Budur". Selain itu Soekmono (1976) juga mengajukan pendapat populer bahwa candi ini mulai benar-benar ditinggalkan sejak penduduk sekitar beralih keyakinan kepada Islam pada abad ke-15.

3.GAYA ARGUMENTASI (SEJARAH TG.BALAI KARIMUN,KEPRI)

Gaya penulisan argumentatif adalah bagaimana seorang sejarawan mempertahankan pendapatnya atau mempertahankan pandanganya mengenai suatu kejadian dengan alasan yang kuat dan logis. Histeriografi yang menggunakan gaya argumentatif biasanya memiliki suatu tesis (ide utama) yang hendak dipertahankan oleh seorang sejarawan dengan menggunakan fakta-fakta baru yang ditemukan. Selanjutnya, sejarawan tersebut akan bisa menyangkal pendapat atau pendapat sejarawan lain yang sebelumnya telah menulis peristiwa sejarah tersebut.

Gaya ini terdapat pada paragraf ke  4 baris ke 1 yang menyatakan pendapatnya yaitu “ Karimun dipandang sebagai daerah yang sangat berbahaya dan pedagang yang akan melintasi ujung selatan Selat Malaka dengan alasan yang kuat dan logis yaitu “Hal ini dikarenakan hampir disepanjang Pulau Karimun dan jajaran pulau-pulau disekitarnya dijadikan basis operasional bajak laut. Dan bahkan menurut catatan Fa-Hsieu (seorang pengelana Cina), aktifitas bajak laut ini telah berlangsung sejak abad ke – 4 M. Berikut kutipannya :
Karimun dipandang sebagai daerah yang sangat berbahaya dan di takuti oleh setiap pelayar dan pedagang yang akan melintasi ujung selatan Selat Malaka. Hal ini dikarenakan hampir disepanjang Pulau Karimun dan jajaran pulau-pulau disekitarnya dijadikan basis operasional bajak laut. Dan bahkan menurut catatan Fa-Hsieu (seorang pengelana Cina), aktifitas bajak laut ini telah berlangsung sejak abad ke – 4 M.  Tao-I Chih (juga seorang pengelana China) yang pernah mengunjungi daerah Kepulauan Riau pada tahun 1330 – 1340 kembali memperkuat hal ini yang menyatakan daerah Chi ke Wan (Karimun) menjadi daerah basis bajak laut yang memiliki pasukan berjumlah cukup besar yaitu terdiri dari 200 – 300 pasukan. Dan dalam perkembangan selanjutnya para bajak laut ini yang sebagian besar merupakan penduduk asli Suku Laut yang berasal dari Pulau Karimun dan pulau-pulau sekitarnya, menduduki wilayah Kerajaan Tumasik (berpusat di Selat Tumasek, Singapura sekarang) yang ditinggalkan oleh Raja Parameswara yang mengungsi ke Muar akibat penyerangan Kerajaan Majapahit. Suku laut ini juga menduduki daerah sekitar Malaka dan ketika Raja Parameswara pindah ke Malaka maka ia disambut oleh masyarakat suku laut disana dan bersepakat dengan masyarakat suku laut bersama puak-puaknya yang dikenal dengan Batin dan Lenang untuk menjadi penyangga berdirinya Kerajaan Malaka untuk sama-sama membangun dan memajukan Malaka menjadi kota yang ramai sebagai pusat perdagangan antar negara, dengan Parmeswara sebagai rajanya (1389-1414).

4.GAYA KRITIK ( SEJARAH CANDI BOROBUDUR)

Gaya penulisan kritik adalah mencari kebenaran dari suatu peristiwa sejarah dengan cara menilai dua atau lebih karya sejarah yang mempunyai topik sama. Kritik ini biasanya ditunjukan pada masalah kesahihan sember-sumber sejarah.

Gaya ini terdapat di paragrap ke 2 baris pertama bagian “Borobudur ditelantarkan”. Berikut kutipannya :
Monumen ini tidak sepenuhnya dilupakan, melalui dongeng rakyat Borobudur beralih dari sebagai bukti kejayaan masa lampau menjadi kisah yang lebih bersifat tahayul yang dikaitkan dengan kesialan, kemalangan dan penderitaan. Dua Babad Jawa yang ditulis abad ke-18 menyebutkan nasib buruk yang dikaitkan dengan monumen ini. Menurut Babad Tanah Jawi (Sejarah Jawa), monumen ini merupakan faktor fatal bagi Mas Dana, pembangkang yang memberontak kepada Pakubuwono I, raja Kesultanan Mataram pada 1709. Disebutkan bahwa bukit "Redi Borobudur" dikepung dan para pemberontak dikalahkan dan dihukum mati oleh raja. Dalam Babad Mataram (Sejarah Kerajaan Mataram), monumen ini dikaitkan dengan kesialan Pangeran Monconagoro, putra mahkota Kesultanan Yogyakarta yang mengunjungi monumen ini pada 1757. Meskipun terdapat tabu yang melarang orang untuk mengunjungi monumen ini, "Sang Pangeran datang dan mengunjungi satria yang terpenjara di dalam kurungan (arca buddha yang terdapat di dalam stupa berterawang)". Setelah kembali ke keraton, sang Pangeran jatuh sakit dan meninggal dunia sehari kemudian. Dalam kepercayaan Jawa pada masa Mataram Islam, reruntuhan bangunan percandian dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh halus dan dianggap wingit (angker) sehingga dikaitkan dengan kesialan atau kemalangan yang mungkin menimpa siapa saja yang mengunjungi dan mengganggu situs ini. Meskipun secara ilmiah diduga, mungkin setelah situs ini tidak terurus dan ditutupi semak belukar, tempat ini pernah menjadi sarang wabah penyakit seperti demam berdarah atau malaria.

5.GAYA NARATIF (SEJARAH PERMAINAN BOLA BASKET)

Sejarah akan lebih menarik jika kita mengisahkanya dengan gaya story-telling. Gaya ini bertujuan untuk menceritakan bagaimana peristiwa-peristiwa sejarah disusun berdasarkan urutan peristiwa-peristiwa tersebut. Oleh sebab itu, seorang sejarawan yang menggunakan gaya ini dituntut untuk dapat mengingat kejadian-kejadian yang telah berlalu dan menceritakanya secara logis, teratur, dan tersusun.

Gaya ini teredapat pada paragrap ke 1 sampai akhir,dimana gaya ini ditulis berdasarkan urutan kejadian dan waktu kejadian. Berikut kutipannya:
Sejarah bola basketdimulai ketika Dr. James Naismith datang dengan memainkan bola basket pada tahun 1892 dan memulai pertandingan pertama pada sebuah kompetisi  bola basket yang dimainkan di Beaver Falls Pennsylvania, Amerika Serikat pada 8 April 1893 antara New Brighton YMCA dan Geneva College.
Dalam perkembangannya permainan ini sangat populer dan pada tahun 1914 sebanyak 360 perguruan tinggi membuat tim basket yang diproyeksikan untuk pertandingan bola basket antar perguruan tinggi. Pada tahun 1939, untuk kali pertama NCAA College Basketball Championship turnamen (turnamen bola basket antar perguruan tinggi paling popular didunia sampai sekarang) diadakan yang dimenangkan oleh University of Oregon.
Tim basket profesional pertama di dunia terbentuk pada tahun 1896, tim tersebut muncul ketika terjadi sengketa antara anggota tim YMCA dan pejabat pengurus dari tim YMCA dengan terjadinya konflik tersebut,  berakhir pada pembentukan anggota tim profesional yang bermain serta digaji secara profesional. Pada tahun 1898, NBL (National Basketball League) dibentuk dan banyak melahirkan bintang-bintang basket pertama  didunia antara lain - Ed Wachter dan Barney Sedran.



No comments:

Post a Comment